Body Shaming dan Omong Kosong Tubuh Ideal

Body Shaming dan Omong Kosong Tubuh Ideal

  • 6
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares

Body Shaming dan Omong Kosong Tubuh Ideal

*Oleh Anisa Dewi Anggri Aeni

Body shaming atau citra tubuh adalah perilaku mengejek yang dilakukan oleh orang kepada orang lain yang dianggap lemah. Mirip dengan bullying yang terjadi karena ketidakseimbangan kekuatan antara yang mengejek dan yang diejek. Body shaming tidak hanya berasal dari orang lain, tapi bisa juga muncul dari diri sendiri yang berpikiran tidak memiliki bentuk tubuh yang proporsional.

Naomi Wolf dalam bukunya, Mitos Kecantikan, mengutip pernyataan Plato, “Perempuan selalu menderita untuk bisa cantik.”  Sederhananya, tidaklah mudah dimengerti begitu saja pada saat itu bahwa konsep ideal tidak tiba-tiba datang dari surga.

Konsep-konsep itu sesungguhnya datang dari suatu tempat dan memiliki tujuan tertentu. Seringkali merupakan tujuan ekonomi, terutama meningkatkan keuntungan dari para pengiklan yang menginvestasikan uangnya agar bisa menyetir media. Pada gilirannya, mereka menciptakan konsep tentang tubuh ideal. Politis.

Mitos kecantikan tidak berhenti menyerang perempuan, laki laki juga menjadi sasaran. Hanya saja sekarang lebih dikendalikan oleh kesempatan pasar, bukan kultural. Tak ubahnya seperti perempuan, kaum laki-laki pun terkena dampak mitos ideal, menciptakan kesenjangan antara dua jenis kelamin ini.

Pada saat yang bersamaan pasar Viagra dibuka secara luas. Majalah pengetahuan, kesehatan, dan fesyen dipasarkan secara besar-besaran dengan segmen laki-laki. Mereka sudah menjadi sepertiga pasar bagi produser-produser operasi kosmetik. Apakah ada kemajuan kedua jenis kelamin ini diobjektivikasi, dikomodifikasi, dan dinilai sebagai objek semata?

Alasan ini dipengaruhi oleh gambaran yang muram tentang kebencian terhadap diri sendiri, obsesi fisik teror atas usia yang terus bertambah dan ketakutan atas hilangnya diri sendiri. Bukan kebetulan jika menemukan kenyataan bahwa ada banyak perempuan berkuasa yang juga berpotensi mengalami hal ini.

Melihat fenomena ini menggunakan perspektif psikologi, setiap orang memiliki dua kategori kepribadian, yakni ideal self dan real self. Real self sendiri adalah individu sebagai mana adanya, meliputi tubuh, mental, dan kepribadian. Sementara, ideal self berkaitan dengan proporsional. Permasalahan yang kerap muncul real self tidak sesuai dengan keinginan individu lantaran terlalu memikirkan ideal self dalam penilaian kebanyakan orang. Akibatnya tidak percaya diri atau bahkan stres.

Baca juga  S.K. Trimurti dan Jurnalisme Berperspektif Gender

Tidak hanya soal fisik, bercanda yang berlebihan—membuat orang lain tersinggung pun bisa menyebabkan stres dan depresi. Hal ini tidak hanya menimpa individu yang tengah menghadapi masalah, orang normal juga besar kemungkinan terserang stres. Bahkan, semua orang butuh stres untuk memotivasi hidup, serupa agresi untuk memacu diri. Agresivitas tidak selamanya buruk, misalnya pemain sepak bola juga butuh agresivitas untuk menendang atau memasukan bola ke gawang.

Namun, menjadi berbahaya ketika stres berlebih. Hal ini bisa menyulut depresi. Senada dengan itu, ketahanan mental satu orang dengan lainnya tidaklah sama. Salah kaprah jika menjadikan diri sendiri sebagai standar atau tolak ukur untuk mengetahui ketahanan mental orang lain.  Tidak masalah jika individu kuat dan mampu mengatasi stresnya dengan baik, ia akan menerima diri secara apa adanya. Lain hal bagi individu yang ketahanannya rapuh. Ketika mereka diejek reaksi yang timbul hanya diam, menelan bulat-bulat dan tidak melakukan perlawanan.

Dalam kasus semacam ini pasti ada keinginan untuk memberontak. Namun, karena ketidakseimbangan kekuatan masalah yang ada menjadi benih depresi yang jika terus dibiarkan akan tumbuh subur. Satu-satunya alternatif yang bisa dijalankan adalah meredam dan memendam, apalagi tidak memiliki skill mengatasi sekaligus mengantispasi jika ditimpa stres. Imbasnya bisa melakukan bunuh diri, penggunaan obat terlarang, atau sesuatu yang bersifat destruktif pada diri sendiri.

Media memiliki peran melanggengkan body shaming, terutama televisi dan media sosial. Program lawakan kerap menjadikan tubuh sebagai objek materi untuk disampaikan sebagai bahan jokes yang miris. Toh, untuk membuat orang tertawa tidak harus mengejek atau diejek.

Di sisi lain, media merupakan pilar keempat demokrasi yang  memiliki fungsi penting dalam mendidik publik. Dengan otoritasnya, pengusaha media hampir memiliki kekuasaan penuh untuk menuangkan gagasan dalam tayangan. Media sosial tidak jauh berbeda. Warganet sering menghakimi idealitas tubuh individu lain, apalagi para public figure. Mereka menjadi sasaran yang empuk untuk melancarkan body shaming.

Dilihat dari dua sisi, body shaming sama seperti bullying: ada ketidakseimbangan power; ada yang menjadi pelaku, ada yang menjadi korban. Ketika dulu ada istilah Kutilangdara (kurus, tinggi, langsing, dada rata) di Eropa, bentuk tubuh semacam itu malah menjadi model. Hingga banyak orang yang  mengalami anareksi merfosa.  Sesudah makan dimuntahkan lagi tanpa memikirkan nutrisi terserap atau tidak demi menjaga tubuh agar tetap kurus.

Baca juga  Gerwani, Gerakan Progresif yang Diberanguskan

Depresi berat akan mengakibatkan overact; reaksi yang berlebihan berupa body disorder ataupun body satisfiction yang cenderung bersifat obsesif kompulsif. Setiap hari, si pengidap mengecek timbangan untuk melihat berapa banyak lemak yang menumpuk di badan atau lenyap dari tubuh sehingga mereka panik dengan beragam jenis makanan.

Menghadapi masalah ini dalam kehidupan sehari-hari maka pesan dari Naomi Wolf menjadi penting kita renungkan. Dalam bukunya ia menulis, “Jika kita ingin membebaskan diri dari kematian, berat badan bukan hak pilih atau lobi-lobi atau juga plakat yang pertama-tama kita butuhkan, tetapi cara pandang yang baru.”

 

*Penulis adalah semi mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang sibuk mencari formulasi mengubah pola pikir yang masih patriarki.

Sumber gambar: www.ni-dieu-ni-maitre.com

Komentar

komentar