Empat Akar Kekerasan Seksual Menurut Pipin Jamson

Empat Akar Kekerasan Seksual Menurut Pipin Jamson

  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    2
    Shares

Empat Akar Kekerasan Seksual Menurut Pipin Jamson

Lpmarena.com-Akar kekerasan seksual tidak hanya terletak pada individu korban. Pandangan yang menjustifikasi perempuan sebagai objek merupakan salah satu faktor yang melanggengkan sistem patriaki di masyarakat.

Pipin Jamson, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM menjelaskan, ada empat akar kekerasan seksual. Pertama, sifat maskulin atau kejantanan didefinisikan secara sosial dan dipahami berdasarkan perbedaan biologis.

Pemahaman ini kemudian dilanjutkan dengan perspektif bahwa sosok laki-laki harus agresif. “Kalau ada laki-laki tidak agresif maka akan menjadi objektivikasi,” kata Pipin dalam diskusi Akar Kekerasan Seksual, Minggu (10/02) di AOA Resto Cafe, Yogyakarta. Diskusi ini merupakan bagian pertama dari rangkaian diskusi Sosialisme dan Pembebasan Perempuan yang diadakan oleh Lingkar Studi Sosialis (LSS).

Kedua, komodifikasi seksual. Seksualitas yang pada mulanya bukan komoditas, menjadi barang dagangan yang bisa diperjualbelikan. Hal itu kemudian menimbulkan akar kekerasan seksual yang ketiga, yaitu stereotype seksis masyarakat. Perempuan dianggap sebagai objek kekerasan seksual, lemah, dan harus memiliki sifat feminin.

“Apalagi di Indonesia, jangankan ngomongin kekerasan pada laki-laki, kekerasan terhadap perempuan yang masih diobjektivikasi pun masih sangat kurang,” kata Pipin resah.

Kemudian, Pipin menjelaskan lebih lanjut, tabiat perempuan harus sesuai dengan apa yang telah dilanggengkan oleh budaya patriarki dan konstruksi cara berpikir masyarakat. Inilah yang menggiring masyarakat pada subjektivikasi atas tubuh yang merupakan akar kekerasan seksual yang keempat.

Pipin mengilustrasikan akar kekerasan seksual sebagai empat fragmen dalam sebuah toples yang bernama kapitalisme. Dengan budaya patriarki sebagai penutupnya, logika yang hendak dibangun adalah cara pandang yang terjebak pada moralitas dan cenderung mengabaikan realitas.

Baca juga  Calon Pelacur yang Manis

Segitiga Kekerasan

Kekerasan secara sosiologis, menurut Pipin, dapat dibedakan menjadi tiga, yakni, kekerasan langsung, kultural, dan struktural.

Kekerasan langsung adalah di mana subjek dan objek kekerasan berinteraksi secara langsung menggunakan panca indera dan dapat menyakiti baik secara fisik maupun verbal. Kekerasan kultural terjadi ketika kekerasan yang terjadi—biasanya tidak mencolok sebagai kekerasan—dibiarkan. Bentuk kekerasan ini jarang sekali disadari oleh korban karena dianggap sebagai sesuatu yang lumrah.

Sementara, kekerasan struktural menurut Pipin berkaitan dengan berbagai peraturan, perundang-undangan, serta norma yang menekan dan tidak setara.

Menurut Pipin, lingkungan semacam inilah yang membuat kekerasan seksual mendapatkan kondisi yang mapan di masyarakat. Perspektif masyarakat yang menganggap seksualitas sebagai hal tabu, pengetahuan masyarakat tentang seksualitas yang kurang, serta ketimpangan relasi kuasa membuat masalah ini semakin kompleks.

Reporter: Dina TW dan Sekar Jatiningrum

Redaktur: Ajid FM

 

Komentar

komentar