Perjalanan Untuk Tidur

Perjalanan Untuk Tidur

  • 2
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    2
    Shares

Abdul Malik Syafiuddin

Malam begitu panjang hari ini. Sejak malam kemarin rasa kantuk belum juga datang padanya. Lelaki itu masih saja menghisap rokok. Kepulan asap menjadi teman. Asap rokok diembuskan dari mulut. Nyala bara terus membakar ujung rokok di sela jarinya. Aromanya bercampur harum kepul susu coklat buatannya lima menit lalu.

Di rumah ukuran delapan kali delapan meter, lelaki itu sendiri. Teman-teman sekontrakannya keluar merayakan malam Minggu dengan maksud masing-masing. Dia memutuskan tidak kemana-mana. Hanya buku-buku tersusun di rak yang dipandang serta berlembar-lembar kertas yang tercecer di lantai. Seperti warung fotokopi. Kamar itu remang-remang. Lampu utama belum diganti sejak mati sebulan lalu. Hanya lampu kuning -seperti alat penerangan pada kandang ayam di kampong yang menerangi.

“Ca, kau jangan hadir dalam kepalaku,” dia bicara sendiri dengan raut wajah yang kalah. “Aku mohon, untuk malam ini saja”.

Dia begitu kesal dengan dirinya yang masih bertahan tanpa tidur. Sudah dua malam dia melempar rindu pada cahaya bulan dan menitip pesan pada angin malam. Rindunya kepada perempuan yang dia telah sumpah pada dirinya sendiri sebagai kekasih abadi delapan tahun lalu.

“Hei, kau tahu? Aku belum tidur,” layaknya sedang memainkan monolog. “Kau harusnya kasihan padaku kali ini. Sungguh aku sudah tidak kuat lagi untuk bertahan,” asap rokok yang masih ada di mulutnya keluar saat bicara.

“Jangan!” suaranya lantang. “Aku tidak harus memohon padamu untuk tidak hadir malam ini.”

Sambil minum susu coklat ia mematikan api rokok di dasar asbak. “Aku hanya perlu memohon padamu untuk tidak hadir sejenak, sembari aku berusaha untuk tidur.”

Baca juga  Kepiting Heike

Tangannya bergerak-gerak, seolah sedang menjelaskan sesuatu pada seseorang. “Setelah itu kau boleh datang lagi. Iya, iya, dalam mimpiku. Seperti malam-malam sebelumnya,” lanjutnya dengan tersenyum.

Lelaki itu bergegas menuju ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Kemudian mencuci muka lalu kembali menuju kamarnya yang remang-remang. Lelaki itu menggantung baju yang dilepas dari badannya di balik pintu kamar.“Pintunya aku tidak tutup rapat,” katanya. “nanti kalau aku sudah berhasil tidur, baru kau boleh  masuk ke kamar ini” sambil berjalan menuju karpet kesayangannya. Baginya kasur adalah jalan menuju kemalasan.

Kedua matanya dipaksa tertutup, dengan posisi tubuh yang sudah terbaring miring ke kanan di atas karpet. Baginya tidur miring ke kanan adalah posisi yang ideal, karena sunah Nabi. Tidak hanya itu, dia juga percaya kalau tidur miring ke kanan dapat melindungi jantungnya dari posisi tertindih dan tertekan oleh organ tubuhnya yang lain. Meskipun kadang dia terbangun dengan posisi yang tidak sama pada awal tidurnya. Tak jarang terbangun dengan posisi miring ke kiri, tengkurap dan yang lebih ekstrim adalah bangun tidak pada karpet kesayagannya. Memang lelaki itu sering seperti penjelajah ketika tidur.

Dia belum juga tidur. Dibukanya kedua mata sipit itu. Tidur tidak hanya tentang berbaring dan menutup mata, pikirnya. Dia bangkit dari tidur. Lalu membawa tubuhnya menuju teras rumah, “Oh, tolong bantu aku untuk istirahat, semua manusia butuh itu,” ia membakar rokok yang dibawa dari kamar. Manusia memang harus tidur, tidak seperti Tuhan yang tidak butuh istirahat, pikirnya. “Tuhan aku tidak akan bisa menandingimu dalam hal apapun, tolong bantu aku untuk tidur” kepalanya mendongak ke langit “aku butuh istirahat”. Sekarang yang dia pikirkan mencari cara supaya dirinya bisa tidur.

Baca juga  ++ (Plus, Plus)

Lelaki itu kembali masuk ke dalam rumah, sambil membuang rokoknya yang baru dihisap setengah. Dia kembali menutup pintu kamar lalu bergegas menuju karpet kesayangannya. Musti ada pengantar tidur, kalimat itu terlintas pada dirinya. “Musik, ya aku butuh musik untuk mengantarku tidur”. Lalu bergegaslah dia mengambil laptop dari ranselnya, dinyalakan, kemudian mencari lagu pas sebagai pengantar tidur. Tidak begitu banyak koleksi lagu pada laptop kesayangannya itu. Lagu Killing Me Softly karya Norman Gimbel yang dipilih dari sekian judul lagu. Lagu itu diputar sembari mencari volume yang nyaman baginya dari speaker yang telah disambung pada laptop.

Lagu jazz itu betul-betul dia nikmati dengan tubuh terbaring miring ke kanan di atas karpet kesayangannya. Suara Roberta Flack justru membawa ingatannya kepada perempuan yang tadi dia harap tidak muncul sebelum dirinya terlelap. Wajah perempuan itu hadir dengan senyum yang khas di ingatannya. Kalau begini aku betul-betul bisa mati, pikirnya. Dia terus bernyanyi dalam hati. Bernyanyi mengikuti lirik lagu jazz itu, yang sudah terulang tiga kali.

“Kalau begitu muncullah, kau betul-betul kurang ajar,” nada suaranya samar-samar dan lambat. “Kau bahkan bisa membunuhku hanya lewat bayang wajahmu yang menempel di kepalaku,” dia begitu pasrah. Lagu itu terus berputar terulang-ulang. Hingga dirinya benar-benar tertidur setelah kalimat terakhir tadi.

 

Ilustrasi: https://klipingsastra.com

Komentar

komentar