Aksi SENYUM, Menolak Kelanjutan Pembangunan NYIA

Aksi SENYUM, Menolak Kelanjutan Pembangunan NYIA

  • 38
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    38
    Shares

Aliansi Seduluran Yogyakarta Peduli Alam (SENYUM) menolak kelanjutan pembangunan New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) Kulon Progo. Mereka mengganggap pembangunan tersebut merampas hak atas tanah, hak hidup, dan hak lingkungan. Ungkap Husnudin, Koordinator umum (Kordum) aksi, di depan Istana Agung Yogyakarta, Kamis (28/03).

Aksi tersebut sebagai bentuk solidaritas terhadap Paguyuban Warga Penolak Penggusuran – Kulon Progo (PWPP-KP). PWPP-KP melakukan aksi serupa di Mahkamah Agung (MA) sekaligus menyerahkan langsung gugatan hukum kepada MA.

“Hari ini, Kamis 28 Maret 2019, perwakilan organisasi petani PWPP-KP, bersama Tim Advokasi dan jaringan Solidaritas Teman Temon, menyerahkan secara langsung gugatan hukum kepada Presiden RI melalui mekanisme hukum Judicial Review (JR) di Mahkamah Agung.” Tertulis dalam lembaran siaran pers aksi SENYUM.

Hukum yang digugat adalah Peraturan Pemerintah (PP) No. 26 tahun 2008, yang dirubah pemerintah menjadi PP No. 26 tahun 2017 tetang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Nasional.

Melalui perubahan peraturan tersebut, pemerintah menghapus seluruh pasal tetang pelanggaran pembangunan di zona rawan gempa dan tsunami, termasuk di Temon, Kulon Progo. Perubahan ini dilakukan untuk meligitimasi dan memuluskan pembangunan Bandara NYIA di Temon. Jelas Husnudin kepada wartawan.

Temon, Kulon Progo sebelumnya telah ditetapkan sebagai wilayah rawan bencana gempa dan tsunami. Dirilis dari siaran pers SENYUM, yang dikutip dari ‘Peta Bahaya Tsunami Wilayah Kulon Progo’ terbitan InaTEWS bekerjasama DLR, Lapan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan Bokasurtanal (2012) menetapkan wilayah pembangunan Bandara NYIA sebagai kawasan rawan tsunami.

“Bahaya tinggi (167,2 hektar), bahaya sedang (40,02 hektar), dan bahaya rendah (44,3 hektar). Tsunami tertinggi dapat mencapai 6 meter dengan wilayah terjangan mencapai 2 KM, serta muncul 33-40 menit setelah gempa terjadi,” dikutip dari siaran pers aksi tersebut.

Baca juga  SATUNAMA: Menolak Penjajahan Gaya Baru

Husnudin mengungkapkan, seandainya pemerintah memang serius melakukan pembangunan yang humanis, pembangunan untuk kepentingan manusia, pastilah membangun di kawasan yang tidak rawan terkena bencana.

“Baru beberapa Minggu yang lalu kawasan NYIA sudah diguyur banjir. Itu baru banjir, belum gempa dan tsunami.” Tutur Husnudin.

Pembangunan NYIA di Temon harus dihentikan. Selain karena kawasan rawan bencana alam. Temon juga menjadi lahan produktif untuk bertani. Mata pencaharian yang telah menghidupi banyak warga. Ribuan warga menggantungkan hidupnya menjadi petani sayur, buah dan padi.

“Hasilnya sampai ke Pasar, warung makan, dan meja makan kita semua,” imbuh Husnudin, sesaat sebelum berkhirnya aksi.

Sebelum menutup wawancara dengan pers, Husnudin memperingatkan, bahwa aksi ini sebagai bentuk peringatan dan pemberitahuan kepada khalayak umum tentang Bandara NYIA yang berada di kawasan rawanan bancana. Bandara yang sejak penetapan dan proseduralnya bermasalah.

“Di sana (NYIA) akan ada puluhan ribu orang lalu lalang. Setiap saat bencana mengintai mereka. Ketika tsunami datang, puluhan ribu dan akan sangat banyak kerugian terjadi. Kita tidak mau hal serupa terjadi di NTB dan Donggala baru-baru ini, secara kawasan NYIA juga berpapasan langsung dengan pantai.” Tutup Husnudin.

 

Reporter: Hedi

Fotografer: Muhammad Akhlal

Redaktur: Ajid FM

Komentar

komentar