Andai Bertemu Rektor USU,  Saya Ingin Mengajaknya Ngopi

Andai Bertemu Rektor USU,  Saya Ingin Mengajaknya Ngopi

  • 27
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    27
    Shares

Andai Bertemu Rektor USU, Saya Ingin Mengajaknya Ngopi

Oleh: Ilham M Roesdi*

Bukan karena keakraban mengapa saya ingin menganjak beliau ngopi. Melainkan hanya karena ingin menyampaikan sesuatu khusus untuk Bapak Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), Runtung Sitepu dan segenap jajarannya.

Pemecatan seluruh pengurus pers mahasiswa Suara USU, rupanya membuat popularitas anda naik dan makin dihujat oleh netizen di media sosial. Hastag #RektorTakutCerpen, #MatiSatuTumbuhSeribu, hingga #KamiBersamaSuaraUSU terus digemakan. Bahkan, di beberapa daerah, banyak aksi solidaritas ikut menolak dan mengutuk kesewenang-wenangan itu loh, Pak!

Dalam sebuah gosip, saya dan teman-teman berasumsi bahwa sepertinya Pak Rektor ini sedang dalam situasi bercanda. Terlihat ketika Pak Rektor seperti terburu-buru dalam mengambil sikap, sehingga terkesan reaksioner. Banyak hal dikesampingkan dan ditentukan secara sepihak. Akibatnya, ‘lelucon’ itu, kami anggap bisa menobatkan Pak Rektor sebagai sosok yang paling banyak diributkan dalam masalah akademik. Paling tidak sepekan terakhir. Kok bisa?

Ada alasan khusus mengapa sikap dari pak rektor seperti ada lucu-lucunya. Saya lebih suka menyebutnya sebagai banyolan ilmiah, karena hal ini menyangkut persoalan kampus dan ‘akademisi’, katanya.

Oh ya, karena ini banyolan, alangkah asiknya jika dibaca dengan kepala dingin. Diseduh dengan kopi lebih nikmat.

Banyolan Pertama

Dilansir dari liputan tirto.id, ada beberapa penyataan pak rektor yang memang agak lucu. Entah sengaja atau tidak. Misalnya begini, pak rektor sangat keras mengklaim bahwa cerpen berjudul “Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya”, itu memuat konten pornografi, tidak sesuai visi-misi kampus, dan tidak mencerminkan sikap seorang akademisi. Tetapi pak rektor enggan menunjukkan letak salahnya. Mengklaim, “Tapi enggak tahu ketentuan dari mana. Dia [rektor] bilang enggak pantas buat cerpen seperti itu di kalangan akademis,” kata Yael Stefani saat diwawancarai tirto.id.

Meskipun sudah ada penjelasan soal diksi yang memuat konten pornografi, tetapi tak cukup membantu menemukan diksi yang vulgar dan patut diproblematisir. Karena diksi yang digunakan, menurut saya tak jauh beda dengan diksi yang sering dijumpai dalam buku Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Sekolah Dasar, bab tentang sistem reproduksi.

Agak lucu lagi, pak rektor justru menasehati mahasiswa untuk tidak melawan keputusannya dengan alasan usianya yang baru berapa semester di kampus. Sungguh ironi.

Andai jadi rektor, saya akan menghadapi polemik itu dengan sederhana saja. Misalnya, pertama; membuat diskusi secara terbuka dengan mendatangkan para ahli bahasa atau sastrawan untuk membahas muatan cerpen yang dianggap kontroversial. Memang sebelumnya ada upaya dari pihak rektorat mendatangkan ahli bahasa dari FIB (Fakultas Ilmu Budaya USU), namun dugaan intervensi tak bisa dihindari. Alih-alih, justru yang ada malah upaya pembubaran diskusi cerpen itu, sebagaimana yang pernah diunggah oleh akun Instagram @dukung.suarausu.

Kedua; yaitu menjelaskan letak ketidaksesuaian antara visi-misi kampus dengan apa-apa saja yang pernah dituliskan oleh Suara USU. Misal ketiga; jika saya adalah rektornya tentu saya tidak akan membubarkan Suara USU. Melainkan banyak berterima kasih kepada Suara USU karena mengkritisi kebijakan kampus jika menyimpang. Andai.

Baca juga  Sinopsis dan Pers Rilis "PATAKA"

Apa yang telah dilakukan oleh pihak rektorat, seperti melakukan suspense terhadap website suarausu.co, pelabelan cerpen dengan muatan pornografi, hingga membubarkan pengurus Suara USU adalah jelas upaya membungkam mimbar akademik dan kebebasan berekspresi. Keputusan yang tergesa-gesa tidak pantas dilakukan oleh seorang akademisi sekelas rektor. Sungguh hal itu justru tidak mencerminkan dan merepresentasikan sikap akademisi.

Banyolan Kedua

Tak kalah menarik, banyolan ini datang ketika seorang kru Suara USU bercerita melalui telepon WhatsApp. Ada dugaan bahwa cerpen tersebut memang tidak betul-betul dikaji secara akademik, tapi hanya diperuntukkan satu hal yang sifatnya politis. Mengapa?

Jadi ceritanya begini. Pada sekitar Oktober 2017, Suara USU pernah mengangkat liputan mengenai pemukulan satpam terhadap seorang mahasiswa bernama Imanuel. Imanuel dipukul sehari setelah bentrokan keras antara mahasiswa dengan satpam. Diangkatnya kasus itu sebagai tema liputan Suara USU, membuat pihak rektorat geram. Mungkin bermaksud melindungi citra kampus. Rektorat pun tak segan mengancam menyetop pendanaan Suara USU. Memang awalnya sih hanya ancaman, tetapi dana betul-betul distop di tahun itu juga.

Terburu-buru akreditasi USU adalah tema opini yang diangkat pada 2018. Suara USU mengkritisi pemenuhan kebutuhan mahasiswa seperti fasilitas, sumber daya manusia, dan sebagainya yang dinilai terkesan hanya untuk menunjang pemenuhan akreditasi semata. Hal itu membuat rektorat geram untuk kesekian kalinya. Sehingga ada peringatan secara lisan yang mengindikasikan pembubaran Suara USU.

Ada banyak kasus yang membuat Suara USU terancam, seperti pers mahasiswa lainnya. Hanya saja ancaman yang kentara dan paling ‘ngeh’ terasa pada dua kasus di atas sebelum pemecatan.

Akhirnya makin ke sini, makin mencurigakan. Cerpen pun dipermasalahkan dengan alasan yang bias. Barangkali memang inilah momentum terbaik untuk menyerang Suara USU. Narasi pro LGBT dan muatan pornografi yang sarat sentimen itu, terus disematkan kedalam cerpen melalui mulut pak rektor yang punya legitimasi kuat.

Soal legitimasi, ada isitilah yang cocok disandingkan dengan kasus ini. Politically Correct (Kepantasan Politis) merupakan istilah yang saya temui saat membaca banyolan lain berjudul “Mati Tertawa Cara Slavoj Zizek”. Istilah ini kerap digaungkan oleh pemangku otoritas (Negara, Pejabat, Tokoh, Politisi) untuk memperhalus bahasa agar diterima publik.

Pada kasus ini, pernyataan Pak  Rektor dalam liputan tirto.id berbunyi “Kalian dengar saja suruhan kami. Kami Orang tua kalian. Kalian baru semester berapa sudah melawan,” adalah diksi yang diperhalus. Diksi “orang tua kalian” mungkin merujuk pada makna sepadan dengan “Bos kalian”, yang didandani secara politis (Politically Correct) agar bisa diterima oleh publik berdasarkan pertimbangan moral dan etika. Sebab patuh terhadap perintah orang tua adalah etika utama yang diajarkan sejak kecil di negara ber-flower ini. Jadi intinya mahasiswa (sebagai anak) dilarang melawan rektor (sebagai orang tuanya). Alasannya etika, bukan kajian akademik.

Baca juga  Vredeburg Fair Jadikan Jogja Kota Museum

Dari fenomena di atas, tampakkah cerpen hanya menjadi ‘kambing hitam’ untuk melancarkan intervensi? Bukankah seperti ada upaya membungkam mimbar akademik dan kebebasan berekspresi secara sistemik?

Dulu lawan Mahasiswa adalah Normalisasi Kebijakan Kampus (NKK) dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK), karena membatasi pergerakan mahasiswa dalam mengawasi kampus. Kini, mungkinkah NKK dan BKK bisa muncul lagi dengan gaya baru?  Atau yang lebih sistemik lagi, melalui sistem pendidikan berupa kurikulum, tugas, absensi, hingga Surat Keputusan (SK) Rektor sekalipun.

Sialnya, yang terjadi sehari pasca aksi solidaritas untuk Suara USU yang tak dihadiri oleh Pak Rektor, malah muncul aksi tandingan yang mengatasnamakan Aliansi Tolak LGBT. Aksi itu diinisiasi oleh mahasiswa, yang barangkali punya kepentingan politik dan ideologi tertentu. Pak Rektor memenuhi undangan aksi tersebut dan disambut riang oleh para mahsiswa itu dengan berswafoto. Alangkah lucunya mahasiswa-mahasiswa ini.

Banyolan Ketiga

Ini banyolan yang paling liar. Ada pertanyaan, mengapa sih Pak Rektor sangat getol membangun narasi pro LGBT dalam cerpen Suara USU? Apakah Pak Rektor sedang bermain-main dengan isu populisme?

Populisme sebagai strategi mobilisasi politik bukan hal yang asing diterapkan oleh pemangku kekuasaan. Di Indonesia sendiri, hampir tiap tahun politik isu-isu tersebut selalu diproduksi dan menyasar kelompok minoritas. Kelompok berbasis agama, imigran (asing), hingga preferensi seksual seperti LGBT patut dicurigai sebagai kelompok yang merusak tatanan budaya, bahkan mengambil alih kekuasaan pribumi.

Bukan apa-apa. Isu populis memang sudah mengakar rumput, membangun ‘sentimen-emosi’ yang kuat dan menakut-nakuti masyarakat. Oleh karena itu, bermain-main isu populis, bukankah seperti sedang berjualan es di tengah kerumunan yang panas? Orang-orang gerah akan datang membeli dan berkumpul di kedai es itu untuk menyegarkan diri.

Akibat dari penyematan narasi pro LGBT terhadap Suara USU, pak rektor makin leluasa menggandeng banyak dukungan untuk membubarkan Suara USU. Apalagi pak rektor diuntungkan secara “ideologis” di lingkungan kampus. Sehingga upaya pembubaran tersebut, terkesan mencitrakan diri bahwa Pak Rektor adalah seorang nasionalis, yang menyelamatkan kampus dan negara dari bahaya laten LGBT.

Namun lagi-lagi bukan soal itu, Pak. Pak Rektor sebenarnya bisa melihat cerpen itu bukan karena soal LGBT saja. Melainkan perspektif lain sebagai karya sastra, karya fiksi, atau karya akademik. Lagi pula, biar apa Pak Rektor ikut-ikutan bermain dengan isu yang sarat sentimen ini? Entahlah. Semoga ini tak betul-betul terjadi dan hanya sebuah banyolan.

Pesan terakhir, main-mainlah ke Twitter, Instagram, dan Facebook, Pak. Anda sedang di gosip banyak orang di sana.

Sekian dan kami berbelasungkawa atas matinya demokrasi di kampus.

*Penulis adalah Pimpinan Umum Arena, dan imam besar tarekat Marxisiyah

Sumber gambar: www.jawapos.com

Komentar

komentar