Penjuru Khayali: Eksploitasi Alam Mengasingkan Kedirian Manusia

Penjuru Khayali: Eksploitasi Alam Mengasingkan Kedirian Manusia

  • 14
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    14
    Shares

Kerusakan lingkungan akibat pembangunan dan eksploitasi mengikis eksistensi manusia dengan alam.

Teter Eska menggelar pentas berjudul Penjuru Khayali. Pementasan tersebut mengangkat tema ekologis, kritik atas pembangunan dan sikap eksploitasi manusia terhadap alam, di Gelanggang teater UIN Sunan Kalijaga, Jum’at (05/04).

“Pementasan ini mengangkat isu krisis lingkungan hidup, sebagai akibat dari sikap eksploitatif manusia terhadap alam,” jelas Habiburahman, salah satu penyusun naskah Penjuru Khayali.

Sesaat pementasan berakhir, Habiburrahman bersama aktor dan kru menggelar sarasehan. Dalam paparan singkatnya, Habib, begitu ia sering disapa, menjelaskan bahwa pementasan tersebut sebagai respon terhadap krisis lingkungan yang disebabkan oleh pembangunan dan eksploitasi alam.

Kerusakan lingkungan yang dimaksud berupa pencemaran lautan dengan sampah, pembakaran hutan, perusakan gunung, sampai pada krisis kutub Selatan dan Utara. Kesemuanya ini diakibatkan oleh tangan-tangan eksplotatif manusia.

Menurut Habib, hal tersebut bukan hanya sebagai ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia. Tetapi, sikap eksploitatif juga menghilangkan kedirian dan eksistensi kita sebagai manusia. Sebagai mahluk yang menyatu dengan alam.

Saat ini manusia enggan menemukan asal, dan kemana tujuannya sebagai manusia. “Kita saat ini terasing dari kedirian kita sebagai manusia,” ungkap Habib.

Habib menyinggung, bahwa manusia terasing dari dirinya sebagai bagian dari alam. Beberapa orang memandang dirinya sebagai subjek dan alam sebagai objek. Sehingga eksploitasi dan perusakan alam, yang berdampak pada krisis ekologi menjadi hal biasa.

Pandangan Habib ini senada dengan paham Taoisme, salah satu paham yang berkembang di peradaban Cina. Paham ini menganggap bahwa pada dasarnya manusia adalah kesatuan dari alam. Hanya karena ego kemanusiaan yang membuat ia tidak peduli dengan lingkunganya.

Baca juga  Keluhkan UKT Terlampau Tinggi, Mahasiswa Sampai Mengundurkan Diri

“Manusia harus dipahami sebagai hal yang menyatu dengan alam. Sehingga, jika saya berjalan dan anda ingin menggambarkan tindakan berjalan itu. Anda tidak dapat berbicara tentang cara berjalan saya tanpa membicarakan lantainya juga.” Dikutip dari tulisan Alan Wattes berjudul Filsafat Taoisme (2018).

Gambaran manusia sebagai keseluruhan dari alam muncul di salah satu dialog dalam pementasan tersebut. Tepatnya pada dialog tentang firman Tuhan yang mengisyaratkan hubungan erat antara manusia, alam dan Tuhan. Meski, firman itu seringkali dijadikan legitimasi untuk melakukan perusakan dan eksploitasi alam.

Sebelum mengahiri sarasehan, Habib menegaskan bahwa pementasan ini merupakan tahap awal pentas produksi Teater Eska 2019 yang mengangkat tema ekologi. “Ini gambaran kasarnya. Jadi ditunggu aja, tidak baggus kalau dibocorkan,” tutup Habib.

Reporter: Hedi Basri

Fotografer: Fidya Laela Sari

Redaktur: Ajid FM     

Komentar

komentar