Sexy Killers: Politik Praktis dan Bisnis Gelap Batubara

Sexy Killers: Politik Praktis dan Bisnis Gelap Batubara

  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    5
    Shares

Lpmarena.com-Gelanggang Teater Eska UIN Sunan Kalijaga dipenuhi penonton dalam acara “Nobar dan Diskusi film Sexy Killers”, Selasa malam (09/04). Acara yang diselenggarakan secara kolaboratif oleh Arena, Teater Eska, Mahasiswa Pecinta Alam UIN Sunan Kalijaga (Mapalaska), Jamaah Cinema Mahasiswa (JCM), dan Surau Tuo Institute dimulai sekitar jam 19.00 WIB.

Sexy Killers adalah film dokumenter ekspedisi Indonesia biru produksi Watchdoc, bercerita tentang kebobrokan bisnis tambang batu bara. Film tersebut mendokumentasikan secara lengkap daya rusak tambang batu bara terhadap alam dan kehidupan masyarakat sekitar lokasi tambang.

Sepanjang tahun 2011-2018 terdapat 32 korban jiwa meninggal akibat tenggelam di lubang bekas tambang di Kalimantan Timur. Dari data nasional antara tahun 2014-2018 korban mencapai 115 jiwa. Tidak hanya menimbulkan korban jiwa, dampak lainnya, rusaknya sawah, dan retak-retaknya bangunan rumah warga sekitar.

Achmad Uzair, salah satu dosen Sosiologi UIN Sunan Kalijaga menjelaskan bahwa batu bara adalah bahan yang murah untuk menghasilkan energi. Namun kerusakan yang ditimbulkan sangat serius.

Merah Johansyah, Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mengatakan, perilaku industri tambang batu bara lebih jorok daripada orang yang pergi ke kakus. Orang yang membuang kotoran di kakus masih mau membersihkannya, sedangkan industri batu bara tidak.

“Mereka hanya datang, gali, dan pergi,” ungkap Merah.

Ia mengatakan jumlah tambang di Indonesia mencapai 7 ribu, dan lubang tambang tersebut tidak ada yang direklamasi kembali. Sementara itu izin tambang batu bara di Indonesia mencapai 9710 atau sekitar 35 persen dari luas kepulauan Indonesia.

Film tersebut menguak oligarki politik di Indonesia yang menjadikan Indonesia tidak bisa lepas dari kecanduan energi kotor batu bara. Karena pengusaha batu bara merupakan orang-orang yang memiliki kekuasaan politik.

Baca juga  Mahasiswa Mendesak LPPM Mencari Alternatif Dana Stimulan KKN

“Izin tambang terbit lebih banyak ditahun politik. Ya untuk sumber pendanaan kampanye,” imbuh Merah.

Menurut Merah, ada beberapa point di film dokumenter ini; Analisis dampak pemilu, perbaikan kesehatan masyarakat, dan demokrasi baru yang menyelamatkan alam dan lingkungan.

“Mari kita gunakan pengetahuan untuk sama-sama berada di garis perjuangan rakyat,” tegas Merah.

Min Chatus Saniyah, salah satu penonton mengungkapkan responnya setelah menonton film Sexy Killers. Menurutnya, fim tersebut akan menyadarkan banyak orang kenyataan pilpres, hubungan antara politik dan bisnis tambang.

“Film ini tuh penting banget buat nyadarin orang, agar tidak apatis, setidaknya kalau memilih golput ya punya alasan yang kuat,” ungkapnya kepada ARENA.

Selaras dengan Saniyah, Fathurrahman, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga prodi Sosiologi Agama mengungkapkan, setelah menonton film tersebut timbul keragu-raguan dalam memilih kedua paslon di pemilu 17 April mendatang.

Reporter : Nur Hidayah & Astri Novita

Fotografer: Febri

Redaktur: Ajid FM

Komentar

komentar