Ganti Pilihan Politik Setelah Nonton Film

Ganti Pilihan Politik Setelah Nonton Film

  • 63
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    63
    Shares

Ganti Pilihan Politik Setelah Nonton Film

Oleh: Hedi* 

Film dokumenter berjudul Sexy Killers yang diproduksi Watchdoc memberi percerahan kepada saya untuk tidak memilih para oligarkh tambang.

Awalnya saya adalah Cebong, penggemar berat Capres-Cawapres nomor satu. Saya sangat mengagumi segala yang ada pada mereka. Sampai-sampai timeline media sosial dipenuhi oleh video-video pendek tantang Jokowi dan pasangannya, Ma’ruf Amin.

Setiap bangun pagi saya menyempatkan diri melihat dan memberi jempol, meninggalkan jejak ikon hati di postingan media sosial yang mengekspose mereka. Pun tidak absen membaca artikel-artikel tentang prestasi yang selama ini dibanggakan.

Hal itu saya lakukan hampir setiap hari. Sehingga, tidak terasa apapun yang tercermin dari Jokowi -Ma’ruf akan selalu kupuja-puji dan kubanggakan. Berbanding terbalik dengan pandangan saya tentang Prabowo – Sandi. Tidak ada yang bisa diandalkan. Mulai karakter atau kepribadian sampai program kerjanya, yang menurutku saat itu sangat tidak bermutu.

Di mata saya, Probowo – Sandi hanya mengandalkan popularitas melalui kekayaan. Tidak bisa dipungkiri, Sandiaga Uno terhitung adalah salah satu orang terkaya di Indonesia, sahamnya banyak tersebar di berbagai perusahaan tambang.

Demikian pula Prabowo, yang memiliki ribuan hektar tanah – sebagaimana disampaikan di forum debat Capres beberapa waktu lalu. Terbesit di pikiran, bagaimana mungkin Prabowo akan menjadi pembawa cahaya baru untuk Indonesia dengan jargon “adil makmur”, kalau tanah yang sebegitu luasnya saja diprivatisasi? Kan tidak lucu.

Alasan lain kenapa saya tidak suka Prabowo adalah karena mereka memanfaatkan populisme Islam kanan. Seperti yang muncul di timeline Instagram saya dan menjadi konsumsi pengetahuan sehari-hari, bahwa mereka berafiliasi politik dengan kelompok (yang bagi saya terhitung sebagai) garis keras. Mereka sering kali membawa isu atau simbol agama dalam kampanyenya, semisal, kriminalisasi ulama, isu perang badar, dan semacamnya.

Baca juga  Teater Eska Selengarakan Workshop

Itulah alasan kenapa saya menjadi Cebong. Sebaliknya, penilaian saya terhadap Jokowi berbalik 180 derajat dari Prabowo.

Di mata saya, Jokowi adalah sosok yang sangat berwibawa, sederhana, dan tidak arogan. Ia sangat merakyat dan juga dicintai rakyatnya. Jokowi datang dari kalangan biasa, beda dengan rivalnya yang sejak dulu menjadi bagian dari penguasa.

Saking kagumnya dengan Jokowi, saya selalu memamerkan hasil kinerjanya selama empat tahun belakangan kepada teman Cebong saya. Setiap saat saya posting jalan tol, pelabuhan, dan bandara yang diresmikan oleh Jokowi.

Meski sebenarnya saya tahu di balik pembangunan Jokowi, terpampang penderitaan masayarakat. Dari perampasan lahan sampai kriminalisasi terhadap mereka yang mempertahankan ruang hidupnya. Tapi, entah kenapa saya punya seribu alasan untuk tetap mendukung Jokowi.

Namun, simpati saya terhadap paslon tersebut kandas seketika saat pemutaran film Sexy Killers di Gelanggan UIN Sunan Kalijaga. Film garapan WatchDoc yang dilaunching 5 April 2019  ini membeberkan dengan jelas peta oligarki perusahan tambang di Indonesia. Tidak seperti dugaan awal saya bahwa hanya Sandiaga Uno pemainnya. Ternyata, banyak juga pengusung kubu 01 melakukan hal serupa.

Film baru berjalan beberapa menit, kata-kata kotor meluncur bebas dari mulut saya. Bukan apa-apa, hanya karena melihat penderitaan masyarakat kecil, petani, dan nelayan akibat tambang batu bara dan pembangunan PLTU.

Saya merenung, sementara ke-cebongan saya makin kandas seiring berjalannya film. Terlebih setelah melihat adegan Jokowi yang sedang meresmikan PLTU di Batang, Jawa Tengeh. Lalu Jokowi saat itu sangat jelas tidak berpihak kepada masyarakat kecil. Tidak mempedulikan petani yang lahannya dirampas untuk pembangunan PLTU yang digadang-gadang akan menjadi terbesar di Asia Tenggara.

Baca juga  Bukan Dosa Besar PMII

Lantas saya mendapat kesimpulan, kedua Capres-cawapres tidak ada bedanya, sama-sama pemain inti dalam lingkaran bisnis tambang batu bara. Sexy Killers di paruh akhir begitu apik memetakan permainan bisnis batu bara. Mulai pemain dari kubu Jokowi sampai ke kubu Prabowo – Sandi sebagai pemilik usaha tambang terbanyak dalam peta tersebut.

Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia ini hanya dimiliki oleh kepentingan-kepentingan elit politik. Sumber daya alam Indonesia sekadar pemuas hasrat kuasa dan pelumas politik. Kedua kubu berdebat setiap saat di TV, tapi di belakang tetap asik bermain bisnis. Mereka tetap bersahabat dalam bisnis, bahkan bagi sana dan sini.

“Mereka orang besar, ungkang-ungkang kaki terus dapat duit. Kita rakyat kecil dapat lumpurnya,” begtu kata ibu-ibu petani di Kalimantan Timur. Sawahnya rusak dan di tempat tinggalnya tidak ada lagi air tanah layak pakai.

Demikian refleksi saya sebagai seorang Cebong setelah menonoton film jurnalistik ini. Sesaat berakhirnya Nobar, saya menyimpulkan, benar apa orang bilang, “Siapapun pemenangnya, rakyat kecil tetap kalah.”

Walhasil, saya memutuskan untuk ganti pilihan politik. Saya memilih untuk tidak memilih. Ini bukan hasutan untuk Golput, saya hanya mengungkapkan emosi dan perubahan cara berpikir saya secara jujur. Toh, berangkat ke TPS atau tidak itu urusan Anda, bukan urusan saya apalagi Wiranto. Tapi, persoalan lingkungan, persoalan kemanusiaan, itu urusan kita semua bukan?

 

*Hedi, mahasiswa fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga angkatan 2015. Aktif mengulas buku wacana kritis dan dipublikasikan di media sosialnya.

 

Foto: Kompasiana

Komentar

komentar