136 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com– Aksi yang terjadi belakangan oleh berbagai gerakan sosial adalah bentuk peninjauan ulang atas demokrasi yang melemah. Hal tersebut diungkapkan oleh Eko Prasetyo, aktivis Social Movement Institute, dalam diskusi Matinya Demokrasi dan Bangkitnya Gerakan Mahasiswa. Diskusi itu diadakan di Wisma Pastoran Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Yogyakarta, Kamis (24/10).

Asfinawati, direktur YLBHI, lantas menanggapi jika gerakan sosial bangkit karena matinya demokrasi, gerakan juga harus menelaah sejarah dari pemerintahan Orde Baru yang bukan hanya mewarisi korupsi, tetapi juga mewarisi masyarakat yang apolitis. Pemerintah mengasingkan politik di sudut ruang yang tidak boleh disentuh oleh masyarakat sehingga mereka berpikiran negatif tentang politik.

“Makanya orang yang terlalu kritis pada (situasi-red) politik tidak banyak disukai,” terang Asfin.

Senada dengan Asfin, Panca Kurniawan, Co-founder Watchdoc, menjelaskan bahwa demokrasi kini hanya sebatas prosedural. Demokrasi didominasi para elit politik pemerintahan dan tidak melibatkan partisipasi publik sedikitpun.

Hal tersebut dapat dilihat dari penulisan sejarah sejak Indonesia merdeka. Narasi sejarah kebanyakan hanya menyorot tokoh-tokoh besar sehingga masyarakat menganggap bahwa demokrasi dan kegiatan politik lainnya hanya melibatkan para politisi.

Lebih lanjut, Panca menjelaskan penataan nilai demokrasi pada tahun 1998 sampai sekarang, atau biasa disebut reformasi, tak ada bedanya dengan masa Suharto yang hanya melibatkan para pejabat negara tanpa partisipasi publik.

Panca juga menjelaskan bahwa Indonesia pada saat ini dikuasi oleh dua predator. Pertama, state actor atau aparat negara yang berusaha mendekatkan diri ke masyarakat dalam bentuk apapun. Kedua  adalah non-state actor, yaitu perusahaan yang juga berupaya merekrut dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Dua aktor tersebut berkontribusi pada pelupaan nilai-nilai demokrasi yang terjadi di masyarakat.

Kendati demikian, ada bagian masyarakat yang sadar dengan kondisi demokrasi yang semakin dilemahkan. Mereka mulai membentuk gerakan sosial dengan upaya menghidupkan kembali kesadaran berdemokrasi.

Menurut Panca, gerakan sosial akan tumbuh seiring dengan adanya suatu persoalan yang menyangkut dengan keterancamannya demokrasi rakyat.

Asfin lantas menambahkan bahwa gerakan sosial dalam bentuk apapun mesti dihargai. Sebab, hal tersebut akan membantu pergerakan. Penghargaan atas gerakan sosial menjadi penting karena gerakan sosial memiliki siklus dan tahapan perkembangannya sendiri. Siklus dan tahapan tersebut dimulai dari kondisi masyarakat yang tidak memperhatikan isu-isu politik hingga munculnya segelintir orang yang mulai resah dengan kondisi politik lalu bersatu untuk menentang penyimpangan kekuasaan dan demokrasi.

“Hargai setiap kontribusi gerakan, besar maupun kecil,” pungkas Asfin.

Reporter: Muhammad Alfaridzi (Magang)

Redaktur: Sidra