Lpmarena.com–Setiap Desember, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga dihadapkan pada Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa), sebuah momen penentuan arah Organisasi Mahasiswa (Ormawa) satu tahun ke depan. Namun sebelum bilik suara dibuka, muncul satu pertanyaan penting yang perlu dijawab: sejauh mana Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (Dema-U) benar-benar bekerja untuk kepentingan mahasiswa sejak dilantik pada 4 Februari lalu?
Menurut Surat Keputusan (SK) Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Pendis) Nomor 3814 Tahun 2024, Dema merupakan lembaga eksekutif mahasiswa yang bertugas mengoordinasikan kegiatan kemahasiswaan, menyinergikan Ormawa, serta menerjemahkan ketetapan Senat Mahasiswa (Sema) ke dalam program kerja. Dengan mandat sebesar itu, mahasiswa menaruh harapan agar Dema mampu menjadi garda terdepan dalam advokasi isu akademik maupun kesejahteraan mahasiswa.
Maka seharusnya, Dema sebagai student government menjadi wadah yang menjembatani kepentingan mahasiswa di lingkup kampus. Dema menjadi corong suara mahasiswa dalam menyuarakan isu-isu kampus, mulai dari UKT hingga persoalan fasilitas yang kerap luput dipenuhi kampus. Di titik itulah peran advokasi dan pengawalan Dema menjadi penting agar kebijakan kampus berjalan sesuai kebutuhan mahasiswanya.
Sayangnya, peran itu justru kerap tidak tampak. Dema seolah hanya berfungsi sebagai Event Organizer (EO) yang sibuk mengurusi acara seremonial yang tidak memiliki dampak berarti bagi mahasiswa. Hasil pantauan ARENA sepanjang satu tahun terakhir menunjukkan bahwa sebagian besar program di bawah koordinasi Dema tidak mengalami perkembangan berarti. Fokus Dema lebih banyak terserap pada penyelarasan internal organisasi ketimbang merespons persoalan mahasiswa.
Bahkan, transparansi kegiatan pun minim: mahasiswa tidak mengetahui apa saja program kerja yang diusung Dema tahun ini. Sehingga, mahasiswa hanya dapat mengetahui kegiatan Dema melalui Instagram @demauinsuka. Namun, unggahan yang ARENA temukan justru didominasi konten protokoler dan perayaan hari besar, alih-alih laporan kerja maupun capaian advokasi.Â
Untuk menjawab sejumlah pertanyaan tersebut, ARENA mewawancarai Ketua Dema, Umar Ma’ruf, pada Senin (17/11) di Sunset Cafe Nologaten. Dalam wawancara ini, Umar berusaha menjelaskan arah gerak Dema, klaim capaian, serta sejumlah kendala yang menurutnya menghambat kinerja organisasi.
Apa motivasi Anda untuk menjadi ketua Dema?
Semangat awalnya waktu itu aku berangkat dari keresahan. Melihat Dema itu mereka menjadi gerakan-gerakan yang elitis akhirnya, mereka menjadi lembaga mahasiswa atau Ormawa yang berada di atas. Merasa berada di Dema yang besar, yang namanya sudah tersohor. Dia tidak mau untuk membumi, itu semangat ku waktu itu. Jadi kita bisa loh membuat Dema ini atau organisasi eksekutif menjadi organisasi yang ke bawah bukan ke atas. Merakyat bukan yang elitis. Mereka berbicara tentang rakyat, mereka berbicara tentang orang-orang yang di bawah. Aku berangkat dari semangat itu. Ingin membangun dan mencoba agar gerakan mahasiswa itu betul-betul pure membawa rakyat bukan cuma sekedar tagline. Bukan sekedar jualan.
Dema tahun ini diarahkan ke mana?
Pertama, kita punya tujuan untuk menyelaraskan itu (Ormawa) terlebih dahulu. Karena, apa namanya ya, bisa dikatakan begitu besarnya UIN Sunan Kalijaga dengan punya delapan Dema fakultas dan beberapa jurusan, itu selalu berjalan sendiri-sendiri. Itu menyelaraskan internal organisasi di lingkungan UIN Sunan Kalijaga.
Kedua, membangun iklim komunikasi dan koordinasi dengan pihak-pihak yang ada di luar organisasi. Lalu, kita punya kementerian luar negeri yang itu tugasnya membangun dan menjaga hubungan dengan pihak-pihak yang ada di eksternal organisasi. Kita juga tahu kita punya banyak keterlibatan dengan teman-teman organisasi yang ada di luar. Terutama untuk menopang perjuangan dan gerakan di luar.Â
Dema punya program kerja bulanan atau tahunan enggak?
Masing-masing kementerian memiliki program kerjanya sendiri. Kayak dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) itu punya setiap triwulan, kita punya koordinasi dengan Dema Fakultas. Program-program kerja yang sifatnya koordinatif dan komunikatif sepertinya. Kita mencoba membangun keselarasan dengan teman-teman yang ada di tingkat fakultas hingga kebawah.
Namun yang sering terjadi, banyaknya Ormawa di UIN, mulai Dema Universitas, Dema Fakultas, dan sebagainya, itu tidak berjalan selaras, tidak memiliki arah yang sama. Tentu masing-masing punya visi dan misinya, punya tujuan. Kita coba untuk membangun iklim komunikasi dan koordinasi di tataran Ormawa di UIN Sunan Kalijaga. Itu yang dijaga dan dilakukan sama teman-teman Kemendagri.
Program kerja apa yang dianggap paling berdampak bagi mahasiswa?
Waktu itu kita pernah mencoba membaca terlebih dahulu soal Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (RUU KUHP) jauh sebelum banyak teman-teman yang membahas. Waktu itu kita menemukan unsur dominus atau ada kejanggalan di KUHP. Waktu itu kita mencoba membuat agenda yang itu kita suarakan ke nasional bahwa kami mahasiswa UIN Kalijaga dengan mahasiswa Yogyakarta itu bersama-sama menolak revisi KUHAP.
Kita juga melibatkan banyak pihak, kita menghadirkan banyak kampus, bukan cuma untuk mahasiswa UIN. Kami juga pernah mengundang berapa puluh pemuda di DIY untuk hadir di UIN untuk bersama-sama kita aksi di Pertigaan UIN untuk menjadi pelopor dan menjaga terjadinya konflik di Yogyakarta.
Bagaimana capaian Dema tahun ini?
Kita punya banyak variabel, kita nggak punya satu titik fokus yang benar-benar itu untuk kita capai. Secara capaian, kita mencoba membangun spirit baru, itu sebetulnya. Mungkin itu ada di Dema sebelumnya, cuman aku coba membahasakan itu lagi. Aku coba membangun spirit Dema yang nggak mengorbankan eksistensi juga sih, tapi katakanlah supaya Dema ini membumi gitu loh. Bukan melangit kira-kira gitu. Bahasaku itu nyata. Jadi mencoba Dema ini hadir di regional, di isu regional. Itu bukan pencapaian juga sih menurutku, semuanya biasa aja.
Bagaimana Anda selaku ketua menilai kinerja Dema tahun ini?
Yang kulihat dari kinerja Dema ya, memang belum bisa kita katakan sempurna. Karena memang setiap sesuatu pasti memiliki catatan, memiliki evaluasi, dan memiliki kekurangan. Tapi kita juga tidak bisa menafikan kelebihan yang ada atau yang dilakukan oleh suatu lembaga atau organisasi. Kalau memang perlu untuk kita nilai, kita belum bisa dikatakan sebagai Ormawa yang sempurna. Belum bisa dikatakan sebagai organisasi yang sempurna, belum bisa dikatakan sebagai organisasi yang hebat, belum bisa dikatakan sebagai organisasi yang katakanlah progresif. Aku yakin itu masih menjadi PR, masih banyak PR yang harus dibenahi di Dema.
Apa yang membuat program kerja Dema tidak optimal dan meninggalkan banyak PR?
Dema di tahunku, aku enggak meminggirkan atau mendiskreditkan kinerja teman-teman yang sudah semester tua, enggak juga. Cuma produktivitas dan progresifitas teman-teman mayoritas pengurus itu, bisa dikatakan kalah dengan teman-teman yang semesternya lebih muda. Faktornya karena memang jenjang Ormawa di UIN itu terlalu lambat. Jadi banyak teman-teman Dema punya banyak kesibukan lain gitu loh. Memang sudah semester akhir. Salah satu faktor besarnya yaitu ketika Pemilwa masih belum peremajaan.
Bagaimana refleksi Anda selama menjadi ketua Dema?
Ya, sebetulnya banyak lah, karena satu tahun. Mungkin harus di talkshow kan. Aku rasa pun memang selama satu tahun gak mencapai kata sempurna, jauh lah. Banyak teman-teman yang lebih hebat, banyak teman-teman yang lebih cakap, yang lebih produktif, yang lebih progresif dalam gerakan. Namun aku coba membangun itu agar gerakan di UIN ini bisa hadir bagi masyarakat, kira-kira itu.
Bagaimana Dema mengawal isu kampus?
Ya, persoalan Uang Kuliah Tunggal (UKT) itu, kita dengan Sema kolaborasi untuk konsen terhadap isu UKT. Di wilayah UKT sendiri, kita pernah berkomunikasi dengan teman-teman Sema bahwa UKT ini kita membersamai Sema, bukan Sema yang membersamai kita. Karena Sema sebagai lembaga legislatif bertugas untuk menyerap aspirasi. Menyerap aspirasi, kita punya beberapa konsen aspirasi secara garis besar di wilayah UKT, di wilayah fasilitas, dan di wilayah pembelajaran atau kurikulum, kira-kira gitu. Secara UKT, kita membersamai Sema. Secara posisi, kita membersamai Sema untuk memperjuangkan dan merespon masalah-masalah UKT.
Apa bentuk konkret yang dilakukan Dema setelah Sema menyerap aspirasi mahasiswa?
Setelah Sema mendapatkan hasil dari serap aspirasi, waktu itu kita beberapa kali sering duduk audiensi dengan rektorat. Terkait biaya UKT, terkait besaran UKT, dan terkait waktu pembayaran. Misalnya, di awal semester genap, kita mendorong audiensi untuk memperpanjang waktu pembayaran. Kita juga pernah audiensi waktu itu, karena efisiensi, kita membaca arahnya ke kenaikan UKT, karena anggaran-anggaran banyak yang terpangkas.
Kemarin kita juga serap aspirasi UKT mahasiswa baru, terkait serap aspirasi UKT mahasiswa baru. Itu memang belum secara tindak lanjut. Karena langkah berikutnya itu memang belum maksimal untuk tindak lanjutnya. Kita baru sampai pada tahap advokasi dan audiensi yang dilakukan. Terus kita juga terakhir terkait perpanjangan waktu semesternya. Lupa dari semula kapan ke kapan. Cuma waktu itu kita audiensi perpanjangan, waktu itu kita juga melakukan audiensi untuk membuka banding.
Apakah semua Ormawa di UIN sudah terkoordinasi secara maksimal?
Setiap organisasi pasti memiliki semangatnya masing-masing. Dema-F punya semangatnya masing-masing. Sema-U punya semangatnya masing-masing. Waktu itu pun teman-teman pasti memiliki semangatnya masing-masing. Karena setiap masing-masing orang yang berorganisasi punya tujuannya masing-masing, punya kehendaknya masing-masing. Karena tidak adanya kehendak bersama. Semua boleh punya misi, punya fokus, punya arah tujuan masing-masing. Kira-kira membangun Ormawa di UIN punya satu yang memang itu menjadi kehendak bersama.
Bagaimana hubungan Dema dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)?
Berbicara hubungan Dema dengan UKM hari ini, itu ada dalam kinerja Kemendagri. Karena UKM adalah organisasi yang ada dalam kampus dan itu terhubung secara jalur komunikasi. Itu berada dalam naungan Kemendagri. Kita dengan teman-teman UKM ada dua macam komunikasi yang dibangun. Ada komunikasi formal, ada komunikasi kultural, atau bisa dikatakan komunikasi struktural. Itu yang kita usahakan untuk bangun, dan itu kita bangun bukan hanya dengan UKM. Kita dengan Dema-F pun punya komunikasi struktural dan punya komunikasi kultural.
Teman-teman yang di UKM dan Dema ini menjadi kepanjangan tangan dari Sema untuk mengomunikasikan, mengoordinasikan, dan bisa dikatakan berdialog terkait Keluarga Besar Mahasiswa UIN (KBMU) dengan UKM itu sendiri. Kita mencoba membuka ke teman-teman UKM untuk KBMU itu. Apa yang menjadi kebutuhan, apa yang menjadi aspirasi dari teman-teman UKM ke Sema. Itu secara struktural contohnya. Kita juga punya agenda bersama seperti Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK).
Kenapa kantor Dema di Student Center (SC) selalu kosong?
Kita itu bukan mengosongkan, kita tidak menggunakan ruang Dema sebagai sekretariat. Kita enggak meninggalkan itu. SC adalah seperti teman-teman. Karena kami pun adalah bagian dari UIN Sunan Kalijaga. Secara penggunaan memang tidak tersentral di SC. Enggak meninggalkan lah intinya. Kita pun mempersilahkan kepada teman-teman yang mau menggunakan ruangan Dema. Kami persilahkan siapapun. Dalam catatan bukan sembarangan dipakai. Teman-teman UKM atau teman-teman internal kampus lah. Kita nggak bisa dong memberikan ruang kepada teman-teman yang ada di eksternal. Karena memang bukan bagian dari lingkungan kampus.
Misalkan teman-teman yang ingin menggunakan ruang Dema juga silakan. Nah, kemarin Sema mau pakai, silahkan. Kita coba itu menjadi ruang yang terbuka. Kita enggak membuatnya sebagai ruang Co-Working. Itu menjadi tempat yang bisa digunakan. Jika memang Dema lagi enggak memanfaatkan maksudnya. Kita tidak banyak memusatkan di SC. Kita lebih fleksibel. Kadang kita di kemahasiswaan, sekali di ruangan Dema, sekali di kemahasiswaan, atau kadang di luar juga. Kita jaga dan kita rawat lah. Karena bagaimana itu sekretariat kita, sekretariat Dema.
Selain isu kampus, isu apa lagi yang turut Dema kawal?
Kita bersama teman-teman tidak menutup diri dengan hanya kita yang melakukannya. Banyak teman-teman dari gerakan-gerakan mahasiswa, baik itu BEM maupun organisasi eksternal kampus atau dari elemen gerakan masyarakat itu sendiri yang turut hadir di situ. Kita juga melihat keprihatinan terhadap itu permasalahan Pedagang Kaki Lima (PKL) Malioboro.
Kita tidak meninggalkan isu nasional juga. Pernah turut di Indonesia Gelap waktu itu. Terus isu nasional waktu itu RUU TNI, kita pernah juga ke masyarakat pinggiran Bantaran Kali Gajahwong, tapi kita pusatkan di daerah Giwangan. Terus juga persoalan Sumbu Filosofis. Itu sebenarnya rangkaian masalah yang terjadi dari Sumbu Filosofis itu. Kita juga pernah dengan teman-teman, di daerah Gunung Kidul yang krisis air bersih. Karena di sana betul-betul kesulitan, salah satunya di daerah Gedangsari. Ya itulah rangkaian hal-hal yang ada di lokal. Mungkin kita juga pernah waktu itu menyuarakan sampah. Terakhir kita yang bersih-bersih pantai sebagai kampanye untuk persoalan sampah di Yogyakarta yang sudah darurat.
Kenapa Dema menerima Bantuan Sosial (Bansos) dari Polri pada Februari lalu padahal itu dianggap menggembosi gerakan?
Kita dikasih. Kita nggak tahu disitu. Akhirnya aku ngobrol sama beberapa teman-teman di Dema. Kebetulan itu kita kan mau puasa dan Dema punya agenda. Akhirnya kita ambil. Karena landasannya gini, bukan ini dari siapa-siapanya. Kan banyak yang mengindikasikan pembagian ini untuk menggembosi pergerakan dan sebagainya, itu sah-sah saja anggapan teman-teman. Terjadi kekhawatiran itu wajar. Nah, karena kita itu punya agenda, yaudah itu kita ambil dan kita salurkan atas nama kita. Bukan atas nama polisi bukan atas nama Polri, itu kita copot semuanya, kita ganti Dema berbagi waktu itu.
Reporter Fathia Fajrin Dewantara, Wilda Khairunnisa | Redaktur Ridwan Maulana