Orang-orang Bingung

Orang-orang Bingung Lpmarena.com Oleh: Liberika Swarapukang* Berbeda dari sepanjang pagi yang telah usai, pagi ini suara ribut memecah hening mengalahkan suara kendaraan satu dua yang biasa melintas. Di seberang jalan rumah seorang warga bernama Warisman, menggelegar teriakan caci maki. “Ada apa di depan itu, Bu?” Warisman penasaran, menyenggol pundak istrinya yang tengah terpaku pandang ke arah keramaian di muka pintu warung Bi Ijah. “Orang berantem, Pak,” Sang istri yang ditanya menjawab tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. “Siapa orang itu, Bu?” tanya Warisman lagi sembari membenarkan letak pelukan melingkar sarung kotak-kotak…

Read More

Calon Pelacur yang Manis

Calon Pelacur yang Manis Part II Oleh: Khaerul Muawan www.lpmarena.com Selama enam tahun lebih aku dan Risma berjalan bersama waktu. Tak satu pun hari kami lalui untuk bersenang-senang seperti anak kebanyakan. Selama itu pula, ibuku jarang pulang ke rumah. Saat bangun pagi, Risma memasak sarapan. Ia belajar memasak dari teman-teman dan gurunya. Saat ia berangkat sekolah, saat itu pula aku berangkat bekerja. Aku menghabiskan waktuku di anjungan hanya berjualan keliling dan mengamen. Kusisakan uangku untuk ditabung. Penghasilan selama enam tahun membuat adikku bisa bersekolah dengan tenang. Sedangkan aku sudah tidak…

Read More

Perempuan yang Menunggu di Halte Bus

Perempuan yang Menunggu di Halte Bus Oleh: Zaim Yunus* Di kota ini sepi sangat mudah ditemui, informasi sangat sulit dicari; tidak ada penjual koran menjajakan berita di persimpangan jalan, lampu merah, atau keramain tempat orang-orang berkumpul menunggu atau melepas orang terkasih tanpa suara di tempat bernama stasiun. Di kota ini tidak ada orang yang mau menjual informasi, menulis berita atau hanya sekadar bercerita bersama keluarga.  Kota yang teramat sepi, di mana kabar berita hanya dapat ditemui di kepala sendiri, bahkan jam dinding pun enggan memberi tahu seberapa lama waktu Dina…

Read More

Calon Pelacur yang Manis

Calon Pelacur yang Manis (Part 1) Oleh: Khaerul Muawan Bukan hal sederhana ketika berhadapan dengan kehidupan. Entah kata sandi apa yang telah kukatakan pada Tuhan hingga membuatku lulus tes untuk ikut serta dalam kehidupan ini. Sebuah kehidupan yang sukar dijalani. Andai kala itu aku tahu kehidupanku sesukar ini, lebih baik aku memilih tidak hidup sama sekali. Bagi mereka yang bisa bernafas dengan lega, menganggap kehidupan ini adalah segalanya. Tak memikirkan bagaimana melihat mentari pagi. Sedangkan aku hanya memikirkan bagaimana mendapat sesuap nasi untuk melihat mentari pagi. Mentari yang menerangi hari-hariku…

Read More

Dua Bulan setelah Aku Ditanam

Dua Bulan setelah Aku Ditanam lpmarena.com Oleh: Muhammad Sidratul Muntaha Idham Di kala siang terik, seorang petani laki-laki berusia senja duduk di pinggir kebun. Bermandikan keringat dan dihujani matahari, ia membakar sebatang rokok sembari duduk santai setelah menyulam beberapa tanaman tembakaunya di kebun. Ternyata penanaman kali ini sial sekali, pekerjaan menyulam menjadi lebih lama dari biasanya karena cukup banyak tembakau yang tidak tumbuh optimal. Tapi sepertinya keberuntungan masih menyertaiku. Kau tahu, bagaimana mendebarkannya waktu penyulaman itu setelah lima sampai tujuh hari setelah ditanam? Jangankan menunggu waktu penyulaman, berada di bedengan…

Read More

Aku Menulis untuk Menghancurkan Kota

Oleh: Zaim YS Jika kalian bertanya kenapa aku menulis, tolong jangan tanyakan lagi. Kepalaku telah retak oleh pertanyaan yang sama. Tapi, sungguh, tidak ada orang di dunia ini yang ingin jadi penulis. Aku pikir kau juga berpikir sama sepertiku. Ada dua kemungkinan ketika seseorang—terpaksa—menjadi penulis: pertama, ia ingin menyelamatkan nyawanya. Kedua, ia ingin bunuh diri dengan cara yang paling merepotkan namun sederhana. Dan aku memilih alasan pertama untuk menjawab pertanyaan kalian. Satu hal yang ingin aku tanyakan kepada kalian, kenapa kalian menyukai hal-hal yang aku sembunyikan dan tidak sedetik pun…

Read More

++ (Plus, Plus)

Oleh: Aditya Priambudi* Saat itu sang surya telah lama kembali ke pelukan cakrawala. Udara dingin pun mulai sayup-sayup berhembus, seiring dengan naiknya rembulan ke angkasa nan bertabur gemintag. Namun kegelapan tak pernah mampu menghentikan gemerlapnya kehidupan malam di sepanjang Gang Mawar. Sebuah kawasan lokaliasi terselubung yang keberadaannya telah menjadi rahasia umum bagi masyarakat Jawa modern yang mendiami wilayah ini. Meskipun akan tampak bagai bumi dan langit jika dibandingkan dengan Gang Dolly di Surabaya saat masih beroperasi, padahal sama-sama berlokasi di gang. Mungkin karena Gang Mawar memiliki luas yang lebih sempit,…

Read More

HANTU TING-TING

Oleh : Hari Taqwan Santoso* “Hantu Ting-ting?” tanyanya tak percaya. Ia yang seorang pendatang itu lebih banyak mendengarkan ketika orang-orang membicarakan hantu. Kita ini hidup di zaman apa sih? Ini milenium ketiga. Hantu dan hal-hal mistis lainnya adalah pembicaraan yang cocok dibicarakan abad pertengahan atau lebih kuno dari itu, yaitu ketika pengetahuan ilmiah masih sangat terbatas dan menjadi milik segelintir orang saja. Artinya, itu adalah masa ketika jumlah orang yang sok tahu jauh lebih banyak daripada orang yang benar-benar tahu. Sekarang zaman sudah berubah, banyak orang pandai, sarjana berjumlah puluhan…

Read More

Lali Ta : Sekelebat Banaspati yang Menyala Hebat

Oleh: Eko Nurwahyudin* Sebuah hadiah kemerdekaan untuk kita yang lalai, bahkan abai Kegilaan itu, mulanya hanya sesuatu seukuran tai kambing menjijikkan. Bentuknya yang bulat, padat, keras, dan berwarna hitam legam menempel di atas tempayan yang baru selesai kubuat. Tak peduli aku mulanya. Tapi, semenjak sepuluh kali panen padi, aku amati kegilaan itu hampir menutupi sepertiga bibir tempayan. Membesar dan terus membesar tiap harinya, sama seperti hasratku memusnahkannya! Berbagai alat sudah aku pakai guna melenyapkannya, dari mulai pakai pisau dapur sampai pakai linggis. Pun berbagai cara sudah aku coba, dari mulai membelahnya…

Read More

Tentangmu yang Kulebih-Lebihkan

Oleh: Eko Nurwahyudin* Bisa jadi ketika aku menulis tentangmu, semua kejadian akan kulebih-lebihkan. Bukan lantaran aku mengamini cinta yang punya makna itu cuma cinta pertama yang saban hari ditayangkan televisi. Tentang masa dimana dua manusia memainkan peran kehidupan utopis. Masa dua manusia saling mendongkel makna pada rembulan yang sedang purnama, atau gugusan bintang yang melangit, dan sekehendak hatinya memenggal lembayung senja dari rantai waktu yang pasti mendatangkan gulita dan kesunyian. Dan kesemuanya itu yang berbau keindahan berakhir pada gombalan yang merekahkan senyum kecil. Ya, lakon cinta yang demikian itu cenderung mencabut…

Read More