Home BERITA Peringati HAKTP, Srikandi UIN Suka Bahas Ancaman Kekerasan di Ruang Digital

Peringati HAKTP, Srikandi UIN Suka Bahas Ancaman Kekerasan di Ruang Digital

by lpm_arena

Lpmarena.com–Peringati 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP), Srikandi UIN Suka menggelar diskusi publik dengan tema “Ruang Digital Tanpa Luka Untuk Semua” di Parkiran Multipurpose (MP) UIN Sunan Kalijaga, Rabu (10/12). Diskusi ini membahas pentingnya ruang aman bagi perempuan di dunia digital.

Pengurus Pusat Lembaga Terpadu (PLT) UIN Sunan Kalijaga, Siti Nur Azizah, memaparkan bahwa teknologi digital seharusnya menjadi ruang aman bagi semua kalangan. Ruang aman tersebut mencerminkan tempat yang tidak membuat seseorang merasa terhakimi, terisolir, dan terpojokkan.

“Ruang digital seharusnya menjadi ruang yang aman, terlebih bagi perempuan, karena efeknya ketika seseorang berada di satu tempat yang tidak aman bagi dirinya, yang kalah tidak hanya fisiknya, tapi mentalnya,” ujarnya.

Azizah menilai, dunia digital hari ini belum sepenuhnya menjadi ruang aman untuk berekspresi atau mengungkapkan pendapat, khususnya bagi perempuan. Pasalnya, perempuan memiliki tantangan tersendiri ketika berekspresi di dunia digital, salah satunya objektifikasi tubuh. 

Ia juga menuturkan bahwa banyaknya komentar negatif dalam sebuah platform menjadi bukti dunia digital belum menjadi ruang aman bagi perempuan. Padahal, komentar negatif, selain membatasi seseorang untuk berekspresi juga memiliki efek jangka panjang, yaitu kesehatan mental. 

“Teknologi bisa membuat makin up. Tetapi kalau tidak bisa memposisikan diri dengan baik membuat kita down,” ujarnya. 

Di sisi lain, ia sangat menyayangkan beredarnya akun shitpost di lingkungan perguruan tinggi seperti akun Tiktok @uinsuka.cantik. Akun tersebut berisi unggahan foto-foto mahasiswa UIN Suka yang disertai identitas dan program studinya. 

Menurutnya, akun Tiktok @uinsuka.cantik merupakan ajang validasi untuk menggaet followers semata karena bukan akun resmi institusi. Padahal, munculnya akun semacam itu justru menjadi embrio hilangnya ruang aman dalam dunia digital dan mendorong terjadinya objektifikasi tubuh perempuan. 

Tidak hanya itu, menurutnya, foto yang diunggah ke akun tersebut rentan disalahgunakan. Ia menjelaskan, foto-foto unggahan dalam akun tersebut dapat dimanipulasi menggunakan Artificial Intelligence (AI) untuk melakukan tindak kejahatan. 

“Mengupload foto ke AI, mau dibentuk seperti apapun itu bisa. Bayangkan foto kalian diambil, terus diancam, diperas,” papar Azizah.

Menurut penelusuran ARENA, akun @uinsuka.cantik menyajikan foto beserta data pribadi yang tercantum dalam setiap deskripsi postingannya. Hal tersebut, tentu memudahkan pelaku untuk melakukan kejahatan. 

Azizah juga menceritakan bahwa kejadian serupa pernah memakan banyak korban di kalangan mahasiswa. Korban mendapat ancaman untuk membayar sejumlah uang dengan nominal tinggi. Apabila korban tidak memenuhi permintaan tersebut, pelaku mengancam akan menyebarluaskan foto korban. Pasalnya, pelaku yang berniat melakukan kejahatan kerap mencari foto untuk digunakan sebagai alat pemerasan. 

Namun, banyak korban yang tidak berani untuk melapor kepada pihak yang berwenang dan memilih untuk diam atau hanya sebatas bercerita kepada temannya. Ketakutan korban untuk melapor, menurutnya, karena korban sering mendapat stigma negatif dan cenderung disalahkan.

“Stigma yang muncul di masyarakat adalah ketika perempuan menjadi korban, itu pasti perempuan yang disalahkan,” imbuhnya.

Zayina Syauqilla, Perwakilan dari Srikandi UIN Sunan Kalijaga, menjelaskan akun media sosial @uinsuka.cantik menjadi objektivitas kecantikan perempuan. Hal ini membuat ruang digital tidak aman bagi perempuan. 

Lebih jauh, ia menyampaikan, dengan adanya standar kecantikan melalui media sosial tersebut, bisa saja membuat mental health seseorang menjadi terganggu. Pun begitu, standar kecantikan melalui media sosial hanya mengobjektifikasi perempuan. 

“Menurutku itu cukup meresahkan sih. Karena itu jadi standar kecantikan yang tercipta gitu,” katanya saat diwawancarai ARENA.

Reporter Miqdam (magang) | Redaktur Rizqina Aida