Lpmarena.com–Kampanye Monologis dan Diologis Pemilihan Wakil Mahasiswa (Pemilwa) UIN Sunan Kalijaga pada Senin (15/12) di Convention Hall (CH) terpaksa ditunda selama beberapa jam akibat minimnya kehadiran mahasiswa. Acara yang seharusnya dimulai pukul 09.00 WIB baru dimulai pukul 10.30 WIB. Meski begitu, hingga acara dimulai, jumlah mahasiswa yang hadir di lokasi tidak lebih dari sepuluh orang.
Insiden ini menunjukkan kegagalan Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa Universitas (KPUM-U) dalam mensosialisasikan agenda Pemilwa. Padahal, dalam Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis) Pemilwa UIN Sunan Kalijaga 2025, KPUM berkewajiban menginformasikan seluruh rangkaian Pemilwa kepada Mahasiswa. Namun, berdasar pantauan ARENA, masih banyak mahasiswa yang tidak mengetahui agenda Pemilwa tersebut.
Ahmad Saladin, Mahasiswa Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam (FUPI), mengaku tidak mengetahui adanya kampanye monologis dan dialogis Dema Universitas. Ia justru baru mengetahui agenda tersebut saat datang ke kampus untuk mengikuti jadwal perkuliahan hari itu.
Ia juga menuturkan bahwa tidak melihat adanya pihak KPUM-U yang melakukan sosialisasi agenda Pemilwa ke dalam kelasnya. Padahal, menurutnya, hal tersebut merupakan salah satu tugas pokok KPUM-U.
“KPUM itu terdiri terdiri dari berbagai macam golongan, berbagai macam mahasiswa. Jadi seharusnya mereka punya cukup sumber daya manusia untuk menjangkau setiap fakultas, setiap prodi,” katanya saat diwawancarai ARENA pada Senin (15/12) di koridor FUPI.
Menurut Saladin, minimnya sosialisasi yang dilakukan KPUM-U dapat mengindikasikan ketidakseriusan KPUM dalam menjalankan demokrasi di kampus. Karena itu, ia menilai wajar apabila sebagian mahasiswa bersikap apatis terhadap politik kampus.
Ia juga tidak menampik bahwa KPUM-U telah melakukan sosialisasi melalui media sosial. Namun, minimnya jumlah mahasiswa yang hadir dalam kampanye tersebut menunjukkan bahwa sosialisasi yang dilakukan KPUM-U dinilai kurang efektif.
“Di media sosial itu hanya terkait untuk memilih, untuk visi-misi Paslonnya. Namun tidak mengampanyekan atau tidak mempromosikan adanya agenda ini,” imbuhnya.
Hal serupa juga dirasakan Tiara Ramadini, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora. Ia mengaku tidak mengetahui siapa saja kontestan Pemilwa saat ini. Kondisi tersebut, menurutnya, diperparah dengan tidak adanya sosialisasi dari pihak KPUM-U kepada dirinya dan teman-temannya. Tiara menyayangkan situasi tersebut lantaran tidak semua mahasiswa mengetahui rangkaian kegiatan Pemilwa
Ia juga menjelaskan, baru mengetahui adanya kampanye monologis dan dialogis melalui akun instagram KPUM-U. Namun, menurutnya, cara tersebut kurang efektif karena banyak mahasiswa yang tidak mengetahui akun tersebut.
Selain itu, menurut Tiara, akses informasi pada unggahan Instagram KPUM-U dirasa sulit dan ribet karena harus memindai barcode terlebih dahulu. Hal itu membuat mahasiswa tidak mendapat informasi secara cepat.
“Sumpah, malesin banget! Kayak harus screenshoot dan masukin akun Google. Kenapa gak langsung aja ada di akun Instagram (KPUM-U, Red.) itu,” ujarnya saat diwawancarai via WhatsApp, Rabu (17/12).
ARENA telah berusaha menghubungi pihak KPUM-U, Ahmad Solehudin. Tapi sampai berita ini terbit, belum ada itikad dari pihak KPUM-U untuk menanggapi.
Reporter Ilham Khairun | Redaktur Ridwan Maulana | Foto Ghulam Ribath