Lpmarena.com—Sejumlah mahasiswa baru Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) mengeluhkan tumpang-tindih antara jadwal mata kuliah dan kelas bahasa yang dikelola Pusat Pengembangan Bahasa (P2B). Kondisi ini memaksa mahasiswa memilih salah satu kegiatan, bahkan berdampak pada pemotongan Satuan Kredit Semester (SKS) mata kuliah tertentu.
Jazimah Listya Azahra, mahasiswi Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), mengungkapkan bahwa tumpang-tindih jadwal terjadi antara mata kuliah Pengantar Studi Islam (PSI) dan kelas bahasa. Akibatnya, mata kuliah PSI yang semula dijadwalkan dua SKS harus terpotong menjadi satu SKS, sementara satu SKS lainnya dijadwalkan ulang ke waktu berbeda.
Menurut Jazimah, persoalan ini mulai terjadi sejak kelas bahasa pertama kali diumumkan pada Selasa, 16 September 2025. Saat itu, jadwal mata kuliah PSI yang telah ditetapkan harus disesuaikan ulang dengan jadwal kelas bahasa. Dampaknya, dosen pengampu PSI harus melakukan penjadwalan ulang dan berpindah ruang kelas sehingga berpengaruh pada stabilitas perkuliahaan.
“Jadi kami, mahasiswa dan dosen, harus mencari jadwal lain. Ini jelas merugikan karena ga hanya mahasiswa yang menyesuaikan, dosen juga punya jadwal sendiri. Bukan hanya tentang jadwal tapi juga ruang kelasnya. Menurut saya ini merugikan,” keluh Jazimah saat dimintai keterangan via WhatsApp pada Rabu (12/11).
Keluhan serupa disampaikan Alyadina Mumtazah, mahasiswi Program Studi Manajemen Dakwah (MD). Ia menyebut tumpang-tindih jadwal antara kelas bahasa dan mata kuliah terjadi lebih dari satu kali. Salah satu benturan terjadi pada hari Selasa ketika kelas bahasa bertepatan dengan mata kuliah Ilmu Sosial dan Humaniora. Sehingga dosen mata kuliah tersebut memindahkan perkuliahan ke hari lain.
Ia menuturkan, benturan jadwal juga terjadi pada pertemuan berikutnya akibat adanya agenda lain di jam kelas bahasa. Selain itu, mata kuliah Ulumul Hadis sempat dipercepat dan dijadwalkan pada jam yang sama dengan kelas bahasa atas permintaan dosen, sehingga satu kelas tidak mengikuti kelas bahasa.
Menurut Alyadina, perubahan jadwal yang berulang berdampak pada menurunnya motivasi mahasiswa untuk mengikuti kelas bahasa. Ia juga menilai Tata Usaha (TU) FDK tidak merespons secara sigap perubahan jadwal mendadak. Hal itu membuat penyesuaian lebih banyak dilakukan oleh dosen dan mahasiswa tanpa kejelasan koordinasi administratif.
“Gara-gara kayak gini jadinya banyak yang males, karena kita pindah-pindah jadwal dan langsung ke Kampus Barat juga jadi males, dan akhirnya banyak yang enggak masuk kelas bahasa,” katanya, Rabu (16/12).
Menanggapi persoalan tersebut, Kepala Pusat Pengembangan Bahasa (P2B), Fuad Arif Fudiyartanto, menyatakan bahwa penjadwalan kelas bahasa telah disepakati bersama fakultas sebelum penjadwalan kuliah aktif. Ia menjelaskan bahwa terdapat kesepakatan untuk mengosongkan slot waktu tertentu di setiap fakultas guna pelaksanaan kelas bahasa. Pola tersebut telah berjalan selama bertahun-tahun.
Ia menambahkan bahwa persoalan kerap muncul ketika sejumlah dosen mengubah kesepakatan jadwal bersama mahasiswa di tingkat kelas, meskipun jadwal tersebut telah ditetapkan sejak awal. Menurutnya, perubahan sepihak semacam itu berada di luar kewenangan P2B dan turut mempersulit pengelolaan jadwal yang sudah dirancang.
“Sosialisasi itu (kelas bahasa, Red.) kami akui memang masih kurang di beberapa fakultas karena padatnya jadwal, sementara dua bahasa itu penting karena relevansinya dengan universitas kita,” ujar Fuad.
Sementara itu, Wakil Dekan I FDK, Pajar Hatma Indra Jaya, menyampaikan bahwa pihak fakultas telah menyerahkan jadwal mata kuliah dan mengosongkan slot tertentu sesuai kesepakatan. Namun, jadwal kelas bahasa yang diterima FDK justru berbeda dari jadwal mata mata kuliah yang telah disetorkan.
“Jadwal yang sampai ke kita itu berbeda. Makanya kita tidak bisa membantu menyesuaikan, karena dari sistemnya kalo yang diubah satu (mata kuliah, Red.) maka harus diubah juga yg lainnya,” jelasnya.
Jazimah menilai, program kampus seharusnya menyesuaikan kebutuhan akademik mahasiswa, bukan sebaliknya. Perbedaan penjelasan antara P2B dan FDK terkait penjadwalan menunjukkan bahwa persoalan tumpang-tindih ini bukan semata soal teknis, melainkan problem koordinasi kelembagaan.
“Jangan sampai masalah yg kayak gini terjadi lagi di angkatan-angkatan di bawah kita yang jadwal nya dipindah-pindah. karena dampaknya kelas kurang maksimal dan ketidakstabilan sampe sekarang,” pungkasnya.
Reporter Hafizh Abdurrahman (magang)Â | Redaktur Wilda Khairunnisa | Ilustrator Arif Budiman (magang)