Lpmarena.com–Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta mengadakan diskusi dan refleksi dengan tema “Komitmen Media Massa dalam Penegakan Nilai-Nilai Hak Asasi Manusia” pada Minggu (28/12) di Sekretariat AJI Yogyakarta. Diskusi tersebut membahas tantangan media massa saat ini.
Masduki, Guru Besar Jurnalisme dan Media, menuturkan media massa menjadi subordinat dari rezim. Ia menilai media massa saat ini menukar kebebasan dengan kemajuan bisnis. Hal ini karena kelompok elit yang terafiliasi dengan kepentingan ekonomi lokal maupun global.
Menurutnya, media massa saat ini tengah mengalami masalah krisis ekonomi. Selain itu, pemilik media yang partisan membuat pers dan media massa tidak punya kebebasan dan semakin terkonsentrasi pada kepentingan kelompok elit.
“Krisis dan tekanan ekonomi menyebabkan pers itu tidak lagi independen. Dengan menggunakan instrumen ekonomi untuk menekan kebebasan pers,” terangnya.
Senada dengan itu, Furqon Ulya, perwakilan Sekolah Jurnalisme Surastri Karma (SK) Trimurti, menjelaskan secara terang-terangan pemerintah mengatakan untuk tidak memberitakan terkait kekurangan pemerintah. Hal tersebut adalah tekanan bagi bentuk kebebasan pers. Media malah harus menulis hal-hal positif terkait kinerja pemerintah.
Ia menerangkan bahwa untuk menutupi kekurangan pemerintah, banyak media yang penuh dengan iklan. Hal ini, menurutnya, menjadi tantangan tersendiri bahwa ternyata kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat justru mendapat tempat di media.
Melansir data dari dewan pers, Indeks Kemerdekaan Pers (IKP) menurun dalam 3 tahun terakhir, hal ini menunjukkan kondisi media massa tidak sedang baik-baik saja.
Lebih lanjut, ia mengkhawatirkan indeks kebebasan pers Indonesia terus menurun. Ia menyampaikan banyaknya media dalam jurnalisme konflik mengambil narasumber yang tidak memiliki perspektif korban.
“Media harus menekankan pada perspektif publik yang harus didukung, sedangkan dalam pemberitaan kemarin minim bahkan enggak ada,” ujarnya.
Sementara itu, Muhidin M. Dahlan atau yang kerap disapa Gus Muh, sejarawan dan pengelola Warung Arsip menyebut, persoalan yang dihadapi pers saat ini sama persis dengan orde baru. Pasalnya, media massa saat ini menghadapi represifitas dari pemerintah.
Gus Muh menyebut, salah satu yang mengalami hal tersebut adalah Buletin Jumat Ar-Risalah, milik Masjid Jendral Sudirman. Melansir dari laman Masjid Jendral Sudirman, pada tahun 1983, Buletin tersebut digrebek oleh intel Korem 072 Yogya sebab isinya mengkafirkan pemerintah dan menyisipkan konsep revolusi dari luar negeri.
“Akibat dari tindakan itu disita beberapa majalah terbitan, bahkan lebih dari itu, militer juga memenjarakan orang-orang yang terlibat di majalah tersebut,” pungkasnya.
Reporter Alif Abdurrahman (magang) | Redaktur Rizqina Aida