Home BERITA Apsas 2026: Kritik Dunia Modern Lewat Wayang Kulit Metamorfosis Franz Kafka

Apsas 2026: Kritik Dunia Modern Lewat Wayang Kulit Metamorfosis Franz Kafka

by lpm_arena

Lpmarena.com—Gregor Samsa yang bermetamorfosis menjadi seekor kecoa merupakan simbol keterasingan dan ketidakberdayaan manusia dalam kehidupan modern. Hal itu disampaikan Sigit Susanto, penerjemah sekaligus dalang lakon Metamorfosis karya Franz Kafka, dalam acara Apresiasi Sastra (Apsas) 2026 pada Sabtu (10/01) di Balai Budaya Karangkitri, Bantul.

Sigit menjelaskan, apa yang tertulis dalam novela Metaformosis masih sangat relevan dengan kehidupan kiwari. Pasalnya, di tengah arus modernisasi, manusia semakin bersikap individualis dan disibukkan dengan rutinitas yang menjemukan.

“…tiba-tiba bangun dari mimpi buruknya jadi kecoa raksasa yang menjijikan. Kecoa itu simbol yang lemah. Jadi itu menggambarkan masyarakat yang lemah di hadapan dunia modern dan kapitalisme,” katanya.

Menurut Sigit, kehidupan modern memaksa manusia untuk bekerja tanpa jeda. Hal tersebut membuat naluri kemanusiaan semakin lemah dan memicu meningkatnya kasus depresi.

Namun, menurutnya, manusia saat ini tidak punya pilihan selain tetap bertahan di tengah ketidakpastian tersebut. Sebagaimana Gregor Samsa dalam lakon tersebut,  manusia harus tetap bertahan meski dianggap tidak produktif dan dianggap sebagai aib.

“Samsa telah bekerja keras untuk melunasi utang keluarganya. Namun perubahannya menjadi kecoa menjadikan Samsa berakhir tragis. Dianggap tidak berguna dalam masyarakat,” jelasnya.

Dilansir dari Kompas.com, kasus stres kronis yang dialami manusia kemungkinan disebabkan oleh ketidaksesuaian gaya hidup modern dengan faktor bilogis. Selain itu, bilogis manusia saat ini dikalahkan oleh tranformasi teknologi serta lingkungan yang begitu cepat. Hal itu membuat manusia menjadi over produktif sehingga dipenuhi dengan hal-hal yang membuat dirinya gelisah.  

Dengan begitu, meski Metamorfosis di tulis dalam lintas zaman dan budaya yang berbeda, menurut Sigit, novela tersebut masih terus hidup dan menjadi perbincangan di berbagai tempat. Hal itu juga yang menjadikan karya tersebut diterjemahkan dalam berbagai macam bahasa di mancanegara.

“Jadi sangat relevan dan karya yang bagus. Metamorfosis ini menjadi karya klasik tetapi modern. Artinya, dia (Franz Kafka, Red.) nulis pada 1915, tapi karyanya masih terus dibicarakan orang,” ungkapnya.

Selaras dengan itu, Akbariantoro, salah satu penonton, merasakan hal yang sama. Menurutnya, apa yang terjadi dalam cerita Metamorfosis dirasakan di kehidupan saat ini.

Ia menjelaskan, proses alienasi dan dehumanisasi begitu mudah ditemukan di masa sekarang. Pasalnya, manusia modern hanya berinteraksi dengan manusia lain hanya berdasarkan kebutuhan.

“Kita dengan mudahnya didehumanisasi seperti tokoh dalam Metamorfosis,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menceritakan adaptasi Metamorfosis dengan wayang kulit memberikan kesan yang berbeda bagi dirinya sebagai pembaca novela tersebut. Ia mengapresiasi bagaimana Sigit menyajikan wayang dengan visualisasi, gerakan lakon, serta vokal yang memberikan atmosfer luar biasa bagi penonton.  

Lebih lanjut, ia menjelaskan, pementasan yang dibawakan Sigit, membantunya memahami kesengsaraan, kesedihan, dan depresi yang dialami Gregor Samsa. Hal itu membuat tokoh yang diciptakan oleh Kafka jauh lebih hidup dan penonton lebih mudah memahami proses alienasi dan dehumanisasi.

“Saya merasa momen ini dapat menimpa siapa saja bahkan saat ini. Jadi cerita Metamorfosis ini benar-benar masih sangat bisa eksis di kehidupan kita sehari-hari,” pungkasnya.

Lebih jauh, Sigit juga menjelaskan, perpaduan antara wayang dan sastra Eropa tersebut, berangkat dari kejenuhannya terhadap cerita-cerita wayang yang dianggap monoton. Selain itu, sebagai penerjemah karya tersebut, ia ingin memperkenalkan Metamorfosis yang masih relevan hingga saat ini kepada masyarakat secara lebih dekat.

“Aku suka Kafka, aku suka dalang. Aku ingin mengombinasi antara budaya Jawa dengan cerita dari Eropa,” pungkasnya.

Reporter Juni Triyani (magang) | Redaktur Ridwan Maulana