Produksi Kelas Menengah

Yogyakarta. Kaum terpelajar saat ini memiliki tantangan pribadi bukan lagi tantangan sosial. Tantangan itu berupa kesadaran palsu yang menjadikan diri mereka berperilaku borjuis, elitis dan tidak memperdulikan lingkungan sekitar.

Pernyataan ini disampaikan oleh Eko Prasetyo, Direktur Resist Book Yogyakarta dalam acara Sarasehan Bersama TEMPO dengan tema “Identitas dan Politik Kelas Menengah Indonesia” yang diadakan oleh LPM ARENA di Teatrikal Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (29/03) kemarin.

Menurut Eko, lembaga pendidikan saat ini tidak lebih merupakan arena dimana kesadaran palsu di produksi. Makin tinggi tingkat sekolah menjadikan orang semakin takut, ketergantungan dan tidak memiliki kemandirian. Nah, aspek pendidikan inilah merupakan salah satu bentuk produksi kelas menengah.

‘’Kelas menengah bersifat plural, dimana mereka dapat memiliki potensi-potensi radikal. Salah satunya mereka bisa menjadi parasit dalam proses demokrasi, karena kelas menegah lebih memilih poisisi aman dan selalu menghindar dari kontroversi‘’ tambah Mohammad Shodiq, Pengamat Sosial Yogyakarta.

Dalam sejarahnya kelas menengah Indonesia sempat bangkit dan men-jemuk saat Orde Baru, dimana banyak dihuni oleh mahasiswa, jurnalis dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Kontribusi mereka saât itu sangat besar terhadap lahirnya era reformasi.

Menurut Hairussalim, Pengamat Media dan Budaya Yogyakarta, Saat ini timbul perbincangan bahwa kelas menengah susah diajak ber-demokrasi. Justru kegemaran mereka adalah Sopping ke Mall, pergi ke Caffe, serta memanfaatkan media sosial sebagai alat yang strategis dan diminati untuk berkomentar tentang persoalan-persoalan bangsa.[Taufiq]

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of

Send this to a friend