Home SASTRACERPEN Mawar

Mawar

by lpm_arena

Oleh: Muhammad Fariz Ardan Fitriansyah

Setiap Sabtu sore, seorang lelaki tua duduk di alun-alun kota dengan setangkai mawar merah di tangannya–mawar yang paling segar, yang kelopaknya belum sepenuhnya membuka rahasia semerbak harum.

Ia datang sebelum matahari turun sepenuhnya. Duduk di bangku semen yang menghadap lapangan rumput, tepat di bawah pohon beringin yang bayangnya memanjang setiap sore. Tidak membaca. Tidak berbicara. Hanya duduk.

Orang-orang lewat seperti biasa: anak kecil berlari mengejar balon, pasangan muda berfoto dengan latar langit jingga, pedagang kaki lima menawarkan jagung bakar. Tak seorang pun benar-benar memperhatikannya, kecuali mereka yang memang gemar memperhatikan hal-hal yang tak penting.

Rumor tentangnya beredar tanpa pernah diminta. Katanya ia bekas laskar. Katanya ia pernah membunuh orang. Katanya ia kehilangan istri dalam kerusuhan. Kota kecil selalu membutuhkan cerita agar sore terasa lebih hidup.

Ia sendiri tidak pernah bercerita.

Petang perlahan menghilang, jingga tergantikan oleh gelap malam. Pak Tua menyipitkan mata pada jam tua Seiko vintage miliknya, kini telah pukul 19.00. Dengan menggenggam mawar yang masih utuh, Pak Tua beringsut dan menepuk-nepuk celananya, khawatir debu menempel.

Ia pria yang rapi dan bersih. Bahkan, penampilannya pun necis, persis gaya orang-orang tahun 50-an. Kemeja putih, pantalon krem, dan kaki dibalut sepatu kulit. Rambutnya disisir klimis ke belakang, meski uban telah menaklukkan seluruh hitam masa mudanya.

Sebenarnya tak ada yang mendesak Pak Tua untuk segera kembali pulang. Ia tak punya siapa-siapa. Namun, esok pagi ia harus siap sedia membuka toko jamnya di pasar. Selepas sembahyang malam, ia biasa duduk di teras, membaca buku dengan kacamata yang bertengger di antara mata dan aksara. Ia membalik halaman sehalus orang membelai kenangan. Suara tiang listrik dipukul ronda menjadi penanda waktu tidur—sebuah dentang lain dalam hidupnya yang dipenuhi bunyi.

***

Toko Denting Abadi sudah puluhan tahun melayani pelanggan kota dan sekitarnya. Di sanalah jam-jam mati dihidupkan kembali, dan waktu yang tersendat diperbaiki dengan obeng kecil dan kesabaran. Di toko itu, waktu memang sering datang dalam keadaan rusak. Ada yang terlambat setengah jam. Ada yang berhenti pada pukul tiga belas lewat dua belas. Ada yang tak berdetak sama sekali.

Ia membongkarnya dengan obeng kecil, meniup debu dari roda-roda halus, lalu memasangnya kembali. Banyak orang percaya ia memperbaiki jam. Sebenarnya ia hanya membantu waktu agar tampak bekerja sebagaimana mestinya.

Seorang pemuda bernama Hariman bekerja padanya. Tubuhnya kurus, rambutnya lurus, dan tangannya kini mulai terampil membedah mesin-mesin kecil. Ia menabung untuk kuliah. Ia menyukai arloji Seiko 5 model lawas, mungkin karena bentuknya sederhana dan tidak banyak gaya.

Hari ini, Denting Abadi tak kedatangan banyak pengunjung. Dan karena toko sedang sepi, Hariman dan Pak Tua membunuh waktu dengan bermain catur dan mengobrol.

“Wah! Zaman dulu ngeri sekali, Nak Hariman. Saya ingat ketika Belanda kembali tahun 46,’ ujar Pak Tua dengan nada tak menggurui.

Ia memindahkan pion tanpa tergesa, bersiap untuk melahap benteng Hariman.

“Saya masih muda, seumuran kamu mungkin. Saya berhenti sekolah MULO, karena tidak punya uang. Dulu, saya menyambung hidup dengan berdagang kue buatan ibu. Kue basah buatan ibu saya enak sekali. Kami hidup berdua di pinggiran sungai dekat sini. Namun semua berhenti saat ibu meninggal kena TBC. Sejak saat itu saya sendirian. Karena terdorong untuk berjuang, makanya saya bergabung dengan teman-teman laskar,” ungkap Pak Tua, ingatannya masih baik.

Rasa penasaran tentang bagaimana kota ini melintasi tiap masa menyeruak dalam diri Hariman. Sebagai orang yang juga tumbuh di kota yang sama, ia juga ingin tahu bagaimana kota berkembang, cerita-cerita lokal masyarakat mengusir Belanda, atau sekedar kuliner enak pada masa awal republik berdiri.

Akan tetapi, pemuda kurus tersebut jadi lebih penasaran dengan kisah hidup Pak Tua. Ia membayangkan suasana kota tempo dulu, masih sedikit penduduk dan jalanan kerap terjadi baku tembak. Alangkah mencekamnya dulu pikir Hariman. Kini, ia takjub mendengarkan Pak Tua takzim bercerita, sampai lupa bahwa lisong yang tadi dihisap berubah sepenuhnya menjadi abu di asbak.

Masa muda Pak Tua ia lewati ketika Belanda kembali dan kota menjadi lautan api. Ketika gradasi merah oranye dari kejauhan menjadi merah menyala ketika didekati, dan asap membumbung tinggi ke angkasa, bercampur dengan kelamnya malam.

“Terus, bagaimana kelanjutannya, Pak?” tanya Hariman penuh penasaran, tak menghiraukan bentengnya segera diambil oleh Pak Tua.

Namun, cerita terhenti ketika checkmate terjadi dan Hariman kalah.

Ia tidak melanjutkan ceritanya. Hariman tidak bertanya. Beberapa cerita memang lebih baik berhenti di tengah.

***

Jam dinding bandul berbunyi, jarum pendeknya menunjuk ke angka empat. Tanda bahwa toko sudah tak menerima pelanggan. Hariman bersiap menutup toko, rutinitasnya tutup toko adalah menyapu dan memastikan uang diserahkan kepada Pak Tua.

Karena akhir bulan, Hariman mendapat gaji untuk kelima kalinya. Betapa bahagianya dia, membawa uang dan buah tangan untuk ibunya di rumah. Selepas mengunci rolling door, Hariman berpamitan dengan Pak Tua, mereka berpisah jalan karena tujuan yang tak searah. Hariman paham jika di hari Sabtu, toko tutup lebih cepat satu jam.

Senja menyapa kota, jalan utama kota dipenuhi lalu lalang mobil dengan berbagai plat daerah lain. Tak ayal, memang kota selalu menjadi destinasi wisata. Keramaian dan antusiasme masyarakat juga terlihat jelas, sebab klub bola kebanggan kota berlaga di kandang. Di sela-sela meriahnya kota, Hariman berjalan menuju bakso langganannya. Dua porsi bakso komplit hendak dibawanya untuk ibu. Namun, baru saja aroma kuah kaldu sopan menusuk hidungnya, siluet lelaki tua yang kerap ia lihat tertangkap oleh ekor matanya. Ia tidak salah lihat, itu Pak Tua. Untuk apa Pak Tua ke alun-alun kota?

Dua hari berselang setelah Hariman menyaksikan Pak Tua di alun-alun kota, Hariman memberanikan diri untuk bertanya kepada Pak Tua.

“Pak, tempo hari saya lihat bapak di alun-alun, bapak ada acara apa?” tanya Hariman sedikit canggung.

“Bertemu teman lama saja. Lama tak jumpa,” sahut Pak Tua membenarkan kaca pembesar.

Terjawab sudah rasa penasaran Hariman, Pak Tua hanya bertemu teman lamanya. Kukira ada agenda khusus setiap Sabtu untuk pergi ke suatu tempat, toko tutup sejam lebih cepat memang. Cukup masuk akal mengingat akhir pekan seharusnya tak bekerja seperti hari-hari biasanya. Ia juga tak mau terlalu mencari tahu tentang kehidupan pribadi bosnya. Sudah terlalu banyak rumor yang beredar.

Hari berlalu seperti biasa di Denting Abadi, dengan beberapa orang bercengkrama. Beragam topik hadir, mulai dari perbedaan kualitas akurasi Seiko dan Casio hingga terpilihnya presiden wanita pertama baru-baru ini. Pak Tua tak tahu banyak terkait politik, ia tenang mendengarkan salah satu pelanggan bercerita tentang bagaimana sepak terjang presiden baru di masa lampau.

Di sela hangat percakapan, tubuh Pak Tua terhuyung dan seketika jatuh berdebum.

Seisi ruangan menjadi panik, ada yang terperanjat kaget karena latah, ada yang mencoba mengembalikan kesadaran lelaki itu, dan ada Hariman yang bergegas menyetop kendaraan lewat. Karena memanggil ambulan butuh waktu. Pak Tua harus segera dilarikan ke rumah sakit.

Namun, nyawa Pak Tua tak tertolong.

Hariman menatap gamang sosok Pak Tua. Kini lelaki tua itu terbujur kaku walau tubuhnya masih sedikit hangat.

Dokter rumah sakit mengatakan bahwa serangan jantung menjadi penyebab meninggalnya Pak Tua. Karena tak memiliki kerabat yang bisa dihubungi, pada malam hari ia segera dikebumikan. Makamnya tak jauh dari toko, sebuah pemakaman umum daerah.

Hariman menyesal tak dapat berpamitan dengan baik dengan Pak Tua. Untuk menunaikan pekerjaannya, ia berkunjung untuk ke Denting Abadi. Hanya membersihkan toko dan mengenang momen bersama Pak Tua yang takzim berkisah segala ceritanya.

 Bau logam dan kayu tua masih sama. Di laci meja kayu tempat mereka biasa bermain catur, terdapat amplop putih.

Untuk: Hariman.

Ia membukanya pelan.

Kepada Hariman,

Terima kasih sudah menjadi teman yang baik, Nak. Aku sedikit iri kepadamu, andai saja aku lahir sedikit lebih lambat dari zamanku. Pastilah aku dapat merasakan indahnya hidup tanpa perang dan berbagai kesukaran. Akan tetapi, tiap zaman mempunyai kegilaan zamannya sendiri. Dan pasti kamu juga akan mengalami zamanmu. Oleh karena itu, jangan bosan menjadi baik dan raihlah cita-citamu. Semoga kau sehat. Dengan ini kutitipkan toko.

Tertanda,

Jadi

Di balik surat itu ada kertas lain, lebih tua, lebih rapuh. Tulisan dengan ejaan lama.

Kepada Jadi,

Semoga kamoe selamat dan dapat membaca ini soerat. Belanda datang dan kami semoea pergi. Roemah dan segala isi diboemihangoes. Kami pergi ke roemah famili di Tjimahi, Jl. Pakoesarakan 3. Dan djika perang tlah oesai, seperti djandjimoe, Sabtoe sore mari bersama ke aloen-aloen dan djangan lupa bawa boenga kesoekaankoe. Demikian saja toelis ini soerat padamoe.

Ajoe

Hariman duduk lama sekali.

Ia membayangkan seorang pemuda berdiri di kota yang terbakar, menyimpan janji seperti menyimpan benda kecil di pergelangan tangan. Ia membayangkan seorang perempuan yang mungkin menunggu, mungkin tidak sempat kembali.

Setiap Sabtu sore, lelaki tua itu datang ke alun-alun. Dengan mawar merah.

Ia tidak pernah tahu apakah Ayu selamat. Ia tidak pernah tahu apakah surat itu sempat dibalas. Ia tidak pernah tahu apakah seseorang benar-benar datang mencarinya.

Namun ia tetap datang.

Beberapa orang memperbaiki jam agar janji tak lupa waktu. Beberapa orang lain duduk di alun-alun setiap Sabtu sore, supaya janji tidak benar-benar mati. Dan barangkali, di antara keduanya, tak ada yang lebih sia-sia. Tak ada pula yang lebih setia.

*Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Pernah belajar menulis di BPPM Balairung UGM. Kini bermukim di Bogor. Dapat dihubungi melalui Instagram @ardanfitriansyah dan Email ardanfitriansyahhh@gmail.com.

Ilustrator Dzikria Al-Haq | Editor Ridwan Maulana