Deklarasi Korp. Taruna PMII Rayon Adab dan ilmu Budaya Berakhir Ricuh

Yogyakarta – Germa (Gerakan Mahasiswa), seharusnya lebih bisa menempatkan diri pada posisinya sebagai control society dunia kampus, bukan menjadi biang kegelisahan akademika kampus.

Deklarasi Korp. Taruna PMII Rayon Fakultas Adab dan Ilmu Budaya yang dilaksanakan pada hari Rabu silam (24/10) berakhir ricuh. Aksi mereka diawali di gedung Multi Purpose UIN Sunan Kalijaga sekitar pukul 09.00 WIB, kemudian mereka melanjutkan aksi mereka keliling disemua Fakultas di UIN Sunan Kalijaga terkecuali Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Setelah itu aksi mereka di akhiri di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya.

Awalnya aksi mereka berjalan damai, dengan mengelilingi semua lantai di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya. Namun, aksi ini berubah ketika banyak mahasiswa lain merasa tergangu dengan aksi mereka, bahkan ada  perkuliahan yang dihentikan sejenak. Menyikapi aksi mahasiswa ini, Dekan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya beserta jajaranya diam tanpa respon. “Dekan diem-diem saja mas, pihak fakultas juga gak da yag berusaha melarang” ujar Khoironi Fawaid, salah satu peserta Deklarasi Korp. Taruna.

Yang menjadi kejanggalan ternyata aksi tersebut hanya sebatas ajang uji mental. “Itu cuma ajang uji mental aja mas”, ujar Khoironi Fawaid. Taruna. Aksi mereka kemudian diakhiri dengan menyanyikan yel-yel di taman Fakultas Adab dan Ilmu Budaya dan diiringi dengan sambutan para senior mereka. Setelah itu deklarasi tersebut diresmikan langsung oleh Dawam selaku ketua rayon Adab.

Beberapa mahasiswa Fakultas Adab protes terhadap aksi ini. “Aksi mereka mengganggu temen-temen yang kuliah mas, kalau sebatas deklarasi jangan di area Fakultas, kalau mau demo dan yang dituju pihak Fakultas silahkan demo, tapi kalau sebatas deklarsi janganlah!”, ujar Retno Atik Mahasiswi Jurusan SKI  semester 3

Namun ada juga yang berusaha untuk menengahi. “Aksi pergerakan itu sebagai kontrol golongan tertentu, kalau dulu antara golongan intelektual dan golongan pergerakan mereka menjadi satu, dan berjalan bersama dalam peranya sebagai control society. Namun sekarang antara golongan intelektual dan golongan pergerakan mereka berdiri sendiri dengan idelismenya masing-masing”. Ujar Rohim, Mahasiswa Jurusan SKI semester 3

[Usman]

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of