Home BERITA Teater Eska Soroti Kecemasan Manusia Kiwari Lewat Pentas “Interval Yang Ganjil”

Teater Eska Soroti Kecemasan Manusia Kiwari Lewat Pentas “Interval Yang Ganjil”

by lpm_arena

Lpmarena.com–Teater Eska menggelar pertunjukan berjudul “Interval Yang Ganjil” di Gelanggang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pada Sabtu (13/07). Kecemasan manusia kiwari menjadi tema mendasar dalam pentas yang juga merupakan kolaborasi bersama Teater Asdrafi ini.

Shohifur Ridho’i, selaku sutradara pertunjukan, menjelaskan kecemasan ialah sesuatu yang kompleks dan tidak sekonyong-konyong dialami seseorang, faktor eksternal juga turut menjadi pendorong untuk menambah permasalahan yang ada. Ia mencontohkan dengan ketidakmampuan seseorang untuk mengakses pendidikan yang layak, menghadapi kerusakan lingkungan, dan carut-marut politik dapat menyebabkan kecemasan dan frustrasi di masyarakat.

Di sanalah, lanjut Ridho’i, menjadi lahan basah bagi kapitalisme untuk meraup untung, dengan menganggap segala hal yang ada adalah komoditas, termasuk kecemasan itu sendiri.

“Makanya tadi kan (dalam pentas) yang dijual bukan barang ya, tetapi harapan. Sekarang kan apapun jadi komoditas, agama kan jadi komoditas. Jadi itu dibaca kapitalisme gitu, orang-orang yang rapuh itu dibaca sebagai kesempatan pasar, misalnya psikiater semakin laku, semakin mahal,” jelas Ridho’i. 

Ia juga mengungkapkan bahwa drama ini sekaligus menyoroti bagaimana hari ini, akibat penggunaan media sosial yang intens, menjadikan kita mudah lupa. Dalam pementasan ditunjukan, adegan sengaja dibuat secara acak dan melompat, mirip dengan pengalaman menggulir di media sosial yang tidak bisa diperkirakan konten apa yang akan tersaji selanjutnya.

“Makanya kita gampang lupa, kayak mengingat itu kaya hal yang mahal karena misalnya tadi ‘aku lihat bagus nih’ terus kayak kita lupa habis lihat apa gitu, jadi mengingat tuh semakin pendek karena kecepatan itu,” tambahnya.

Rizal, penonton pertunjukan, mengaku baru pertama kali melihat pertunjukan dengan tema seperti ini, saat pertama kali menonton ia bingung dengan gerakan aktor yang tidak biasa. Akan tetapi sewaktu pertunjukan berjalan, ia mulai memahami maksud dari gerakan-gerakan yang dilakukan oleh para aktor, ternyata sering muncul di platform seperti TikTok dan Instagram.

“Kita semua sering menonton gerakan-gerakan seperti itu, bahkan mengalaminya. Cuman karena tadi ga ada musik-musik TikTok-nya jadi keliatan aneh gitu,” ucap Rizal.

Menurutnya, banyak adegan dalam pertunjukan yang menyentil kehidupan sehari-hari seperti tren cek khodam, hingga keranjang kuning yang sering muncul di platform media sosial, menjadikan pentas yang dibawa kali ini apik.

“Hal-hal yang receh yang biasanya sering dijadiin becandaan kalo lagi ngopi sama temen-temen ternyata punya dampak ke diri kita,” ungkap Rizal, “Dan kerennya bisa diracik jadi naskah untuk pentas kaya gini, keren sih,”imbuhnya.

Ridho’i mencatat jika gerakan-gerakan aneh dalam drama ini cerminan tren yang hadir di platform seperti TikTok. Meskipun gerakan tersebut terlihat aneh ketika diadaptasi ke medium kesenian, ditambah iringan musik yang sama sekali berbeda dari biasanya, tetapi dengan fenomena ini, ia ingin mengajak para penonton untuk mewawas diri.  

“Jadi ini bisa menjadi ruang refleksi, memikirkan realitas, fenomena dan sebagainya,” pungkas Ridho’i.

Reporter M. Zilman Nadzif | Redaktur Selo Rasyd Suyudi | Fotografer Tim Dokumentasi Teater Eska