Menggugat Kesadaran Penguasa

Menggugat Kesadaran Penguasa

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Arifkie Budia Warman *)

Kesadaran bangsa pun telah hilang dalam hati para penguasa bangsa dan Negara ini. Ditidurkan oleh uang, dipingsankan oleh jabatan tanpa memahami rakyat sebangsa mereka. Tanpa sadar dengan apa yang mereka lakukan  mendatangkan dampak yang begitu besar bagi kehidupan rakyat.

Teringat akan pidatonya seorang pensiunan dokter Jawa Kraton kepada calon-calon dokter di sekolah dokter dalam novelnya Pramomodya Ananta Toer, Jejak Langkah. Masalah-masalah kehidupan yang besar-besar justru mulai berdatangan, kadang berbarengan, kadang tak terduga. Yang tidak disadari oleh meraka yang tidak mengetahui. Ia tidak tahu, apakah di antara parasiswa ada yang tahu, yaitu …… apa yang yaitu itu? Yaitu itu tak lain dari : timbulnya kesadaran bangsa, bukan kepingsanan bangsa….. Apakah rela tertinggal 5 tahun dari Tionghoa dan 2 tahun dari golongan Arab, itupun kalau pribumi memulia, kalau tidak, tak bakal juga ada wakil pribumi yang membela kepentingan bangsanya…. Dan pribumi masih tidur jugakah kau? Apa bakal jadinya bangsa ini kalau tak juga memulai.

Dengan keadaan Indonesia sekarang, ini perlu dipidatokan kembali oleh dokter itu ke mahasiswa, ke seluruh rakyat Indonesia khususnya kepada pejabat-pejabat yang duduk di atas singasananya. Biar semua sadar akan bangsanya, biar semua mengerti keadaan-keadaan teman sebangsanya, biar semua tak larut dalam kepingsanannya, dan agar semua terbangun dalam tidur yang panjang itu.

Dahulu konteksnya pada masa penjajahan Belanda. Dimana rakyat dibuat tidak mengerti dengan bangsanya sendiri, tak paham akan artinya nasionalisme serta tak mampu untuk memahami kemerdekaan yang seharusnya. Jika kita lihat ini tak lepas dari peran pemerintahan Belanda itu sendiri. Dengan politik etisnya, Belanda mampu meredamkan bahkan mematikan pemahaman rakyat akan kemerdekaan bangsa mereka sendiri. Hanya sebagian kecil yang mulai mencoba-coba membuat suatu perlawanan untuk pembebasan. Dan itupun tak berhasil dengan lancar.

Baca juga  Wali Mahasiswa Keberatan Wajib Pesantren

Kita bisa memaklumi apa yang terjadi pada rakyat Indonesia pada zaman penjajahan dahulu. Tak ada ruang gerak sedikit pun bagi mereka. Bergerak melawan Belanda berarti harus ditumpas bahkan dilenyapkan. Ini pun menjadi salah satu yang menyebabkan kesadaran berbangsa pada ketika itu tidak tumbuh dengan sempurna. Hanya tumbuh pada segelintir orang yang tak mampu melawan kekuasaan dan hegemoni yang sedang berlangsung ditengah-tengah bangsa mereka.

Sekarang Indonesia telah merdeka dari penjajahan, walaupun menurut saya belum bisa dikatakan merdeka dengan sepenuhnya. Kemerdekaan yang sebentar lagi akan genap 68 tahun ini apakah telah menimbulkan kesadaran berbangsa itu sendiri ? Apakah selama ini rakyat Indonesia masih dalam ketidaksadaran, kepingsanan atau bahkan sadar tapi hanya kesadaran palsu (false consciousness) ?.

Kenyataan ini mungkin bisa kita lihat pada kejadian-kejadian yang terhangat saat ini. Korupsi, pencucian uang, penggelapan bahkan kenaikan harga BBM menjadi topik terhangat berbagai media massa yang sangat mengusik ketentraman dan kesejahteraan rakyat. Tak dapat dipungkiri semua peran ini dikantongi oleh para wakil rakyat sendiri. Wakil rakyat yang katanya dapat menyejahterakan dan memakmurkan rakyat. Namun kenyataannya hanya bisa memoroti, menyengsarakan, menindas bahkan menelantarkan rakyat sendiri. Dimana kesadaran berbangsa itu pada hati para wakil rakyat ini?

Isu yang sangat kontroversi dan banyak tantangan dari rakyat sendiri saat ini tak lain yaitu kenaikan harga BBM. Kebijakan pemerintah untuk menaikkan BBM menuai berbagai respon dikalangan masyarakat. Kebijakan ini dinilai merugikan rakyat sendiri, bukan menyejahterakan malahan menyengsarakan. Kebijakan ini dibarengi dengan pemberian BLSM ( Bantuan Langsung Sementara). Seolah pemberian ini untuk meredam kemarahan masyarakat dengan kenaikan harga BBM. Ironisnya pemberian BLSM ini tak tepat sasaran. 8.554 warga mengembalikan BLSM dengan berbagai alasan. Ada yang menolak menerima, ada yang salah alamat, penerima telah meninggal, identitas tak dikenal bahkan disebabkan tak adanya pemberitahuan (Kedaulatan Rakyat, edisi 30 juni).

Baca juga  UIN Sunan Kalijaga Deklarasikan Diri Menjadi Kampus Budaya

Dengan naiknya harga BBM memberikan dampak yang cukup besar bagi kehidupan masyarakat. Kenaikan harga bahan pokok, kenaikan ongkos angkutan kota serta diikuti dengan kenaikan-kenaikan harga lainnya. Yang semua itu kembali menyebabkan kemiskinan dan kesengsaraan rakyat. Apakah keluarnya kebijakan ini berdasarkan kesadaran berbangsa? Ditambah dengan pemberian BLSM yang tak akan mampu mengobati perasaan masyarakat. Pemerintah yang dikatakan wakil rakyat ini seolah tak pernah sadar akan bangsa mereka. Tak pernah memahami akan nasib rakyatnya dan lebih parahnya tak mau mencoba untuk memahami. Mereka hanya senang dengan kepingsanan, tertidur nyenyak dengan bergelimpangan uang, korupsi tanpa sedikit pun merasa iba dengan orang yang telah menjadikan mereka sebagai pejabat yang disegani.

 

*) Penulis adalah mahasiswa

Al-ahwal al-syakhsyiyyah

Fakultas Syariah dan Hukum 2011

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of