TAHLIL PUISI BAGI PENYAIR INDONESIA

TAHLIL PUISI BAGI PENYAIR INDONESIA

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

12745789_1113399118711023_3905812327753178157_nKomunitas MMPI (Mari Membaca Puisi Indonesia), Teater Eska dan Kbte-Indonesia, bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosumantri (PKKH-UGM), akan mengadakan “Tahlil Puisi bagi Penyair Alwy”. Acara ini digelar sebagai salah satu cara penghormatan terhadap penyair dan karya-karya puisi Ahmad Syubbanuddin Alwy.

Sebagai diketahui bersama, penyair Alwy, yang oleh kawan-kawan di Jogya lebih akrab dipanggil Ahmad, telah meninggal dunia di kampung halamannya, Cirebon, pada 2 Nopember 2015. Ahmad lahir di desa Bendungan, Cirebon, pada 26 Agustus 1962. Usai menamatkan pendidikannya di Pondok Pesantren Ciwaringin, ia melanjutkan kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selama bermukim di kota budaya, Ahmad dikenal sebagai sosok penyair muda yang sangat potensial, idialis dan kritis. Memiliki sumbangan yang signifikan dengan pertumbuhan dan perkembangan sastra di kota pelajar ini.

Menurut direktur MMPI, Aly D. Musyrifa, acara ini akan digelar di Gedung PKKH-UGM, pada hari Minggu, 21 Februari 2016, pukul 19.30 Wib. Dalam acara tersebut, akan hadir beberapa tokoh, seniman dan penyair dari beberapa kota, yang sekaligus merupakan teman-teman dekat Ahmad, akan membacakan puisi karya-karya almarhum.

Di antaranya, Acep Zamzam Nor (Tasikmalaya), Ahda Imran (Bandung), Afnan Malay, Bambang Darto (Yogya), Adi Wicaksono, Tomy Faisal Alim (Jakarta), Badrudin MC. (Cilacap) dan lain sebagainya. Selain doa bersama dan pembacaan puisi, acara ini akan menampilkan musikalisasi puisi oleh Teater Eska, musik Viera dkk, serta tafsir biola Iqbal H. Saputra.

Dalam rangkaian doa bersama yang bertajuk “In Memoriam: Ahmad Syubbanuddin Alwy” ini, menurut Hamdy Salad (kordinator acara), semua yang hadir dalam acara akan mendapatkan buku kumpulan puisi Ahmad Syubbanuddin Alwy. Buku kumpulan puisi ini dicetak secara terbatas, serta dibagikan sebagai kenangan dan permohonan doa.

Baca juga  Merajut Kembali Kebhinekaan

***

alwi_1Jejak Sang Penyair

AHMAD SYUBBANUDDIN ALWY lahir di Desa Bendungan, Kecamatan Pangenan, Cirebon, 26 Agustus 1962. Wafat pada Senin petang, 2 Nopember 2015. Anak pertama pasangan KH. Abdusshomad dan Hj. Aminah ini, merupakan keturunan ke empat dalam nasab Kyai Muhammad Said, pendiri Pondok Pesantren Gedongan, Cirebon. Ayahnya, Abdusshomad, dikenal sebagai seorang khattat, ahli menulis halus huruf Arab, yang menurunkan darah seni dan jiwa santri dalam dirinya. Selepas SD, sang penyair melanjutkan belajar di Pesantren Darut Tauhid Arjawinangun dan Miftahul Mutaallimin Babakan Ciwaringin, Cirebon. Kemudian menempuh kuliah di Jurusan Peradilan Agama, Institut Agama Islam Negeri (IAIN), kini bernama Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan memperoleh gelar Dokrandus pada tahun 1989/1990.

Semasa di Yogya, selain menjadi anggota Teater Eska, dan aktif mengikuti berbagai acara seminar, diskusi dan sarasehan seni, khususnya di bidang sastra, ia juga menjadi salah satu pendiri SAS, forum Study Apresiasi Sastra (1985), dan forum lingkar kreatif sastra yang dikenal dengan “Pengadilan Puisi Yogyakarta” (1987). Menjadi penggagas terselenggaranya acara fenomenal waktu itu, “28 Penyair Yogya Baca Puisi” di Aula kampus IAIN Sunan Kalijaga, 28 Oktober 1987. Pada tahun itu juga, bersama 8 penyair Yogya yang lain, ia diundang Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk mewakili Yogyakarta dalam Pertemuan Puisi Indonesia di Taman Ismail Marzuki.

Setelah kembali dan menetap di Cirebon hingga akhir hayatnya, selain tetap suntuk di dunia sastra, ia juga aktif di bidang sosial, politik dan keagamaan, hingga mendapat julukan “Raja Penyair Cirebon”. Selain menjadi penulis kolom pada Harian Pikiran Rakyat Cirebon, ia sempat pula menjadi dosen pada sebuah perguruan tinggi, serta peneliti di Center for Social Studies and Culture (CSSC), dan dikenal juga sebagai penggagas Koalisi Sastrawan Santri dan mendapat gelar “Sastrawan Santri”. Ia juga menjadi pelopor berdirinya DKC (Dewan Kesenian Cirebon) serta Yayasan DKC, dan sekaligus menjadi ketuanya dari 2003-2014. Dan kemudian, dipercaya sebagai salah satu pengurus Dewan Kebudayaan Jawa Barat (DKJB) periode 2014-2019.

Baca juga  Film "Sekolah Pinggir Sungai", Potret Pendidikan Anak Pinggiran

Sebagian besar karya-karyanya yang ditulis di Yogyakarta, telah diterbitkan dalam antologi puisi tunggal, Bentangan Sunyi (1996). Selain itu, karya-karyanya termuat dalam beberapa antologi bersama, seperti: Sajak Kelahiran (1985), Puisi Indonesia 1987, Negeri Bayang-Bayang (1996), Cermin Alam (1997), Titian Antar Bangsa (1998), Nafas Gunung (2004), Puisi-puisi Religius Indonesia (2005), Suluk Pesisir (2011), dan lain sebagainya.

Sebagai penyair, eseis, dan penggerak budaya, ia pernah diundang menjadi pembicara dalam Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN IX, 1997) di Kayutanam, Sumatera Barat, dan PSN X, 1989, di Johor Baharu. Mengikuti Pertemuan Sastrawan Negeri Serumpun dan, Ipoh Arts Festival II, di Malaysia (1998). Pada tahun 2000an, ia juga mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) di Brunai Darussalam; mewakili Jawa Barat dalam Pertemuan Seni Pertunjukan Tradisi Se-Asia Pasifik, di Taiwan. Menerima “Anugerah Seni” dari Gubernur Jawa Barat, sebagai pengembang dan pelestari Bahasa Daerah Cirebon (2009). Menerima “Anugerah Kehormatan” dari Persaudaraan Keraton Kanoman Cirebon (2011). Menerima Anugerah Seni di bidang sastra dari Provinsi Jawa Barat, 2014 (?).

Di akhir hayatnya, sebagai salah satu jalan untuk melakukan penelitian dan menulis sejarah Cirebon secara komprehensif, ia masih tercatat sebagai mahasiswa Paska Sarjana, Jurusan Sejarah, Universitas Padjadjaran Bandung. Senyampang menyelesaikan antologi puisi panjang dan utuh, yang mulai ditulis dan dicitakan sejak tahun 2000, dengan judul: Cirebon, 360 Tahun Kemudian.[]

 

MMPI | KBTE Indonesia | Teater ESKA

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of