TEATER ESKA: TIGA NASKAH, TIGA SUTRADARA DALAM SATU PANGGUNG

Spread the love

Tiga Bayangan merupakan sebuah proyek penciptaan teater pra-produksi Teater Eska UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Proyek ini menekankan pada pencarian dan penjelajahan ide, konsep, dan bentuk artistik panggung.

Tahun 2016 ini merupakan tahun kedua pentas Tiga Bayangan ini di gelar. Sebagaimana tahun pertama pada 2013 silam, pertunjukan kali ini Teater Eska juga mempersembahkan tiga repertoar dari tiga sutradara yang disatukan dalam satu panggung. Gelaran ini akan hadir pada tanggal 02 April 2016, pukul 19.30 di Gelanggang UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

TEATER ESKA PENTASKAN TIGA NASKAH, TIGA SUTRADARA DALAM SATU PANGGUNG

Sebagai proyek pra-produksi, Tiga Bayangan dikondisikan sebagai persiapan menuju proyek tertinggi dalam Teater Eska, yaitu Pentas Produksi. Masing-masing repertoar berjudul “Jamais Vu” dengan sutradara Jauhara N. Azzadine, “Neosamting (Blues Tanpa Minor Harmonik)” yang disutradarai Muhamad Saleh, dan “Persoalan Hidup dan Beberapa Pertanyaan Payah” garapan sutradara Lailul Ilham. Tiga repertoar ini menawarkan sudut pandang dalam melihat kenyataan sosial kita hari ini. Tawaran tersebut merupakan bentuk upaya mendialogkan antara gagasan pertunjukan dengan kenyataan yang sedang berlangsung di sekitar kita. Sudut pandang tersebut bermuara pada relasi disiplin seni teater dan keterlibatan kita sebagai manusia. Di panggung, Teater Eska tidak hanya mempertontonkan akting, namun juga tebaran wacana atas isu-isu yang akrab di sekitar kita.

Dalam “Jamais Vu” misalnya, ia mengambil spirit absurdisme dalam khazanah filsafat dan seni di Barat. Dalam semesta filsafat, absurdisme merupakan suatu aliran yang didasarkan pada kepercayaan bahwa usaha manusia untuk mencari makna kehidupan akan berakhir dengan kegagalan dan bahwa kecenderungan manusia untuk melakukan hal itu sebagai sesuatu yang absurd. Filsafat absurdisme ini berhubungan dengan eksistensialisme dan nihilism dan kita mengenal filsuf yang menyuntuki paham ini ialah Soren Kiergegard. Ilustrasi paling terang untuk menggambarkan ini adalah kisah dalam mitologi Yunani, yaitu sisipus. Soal sisipus ini juga telah diterang-jelaskan oleh esei Albert Camus dalam bukunya The Myth of Sisyphus. Esei tersebut pula yang mengilhami Martin Esslin untuk menguraikan sejarah absurdisme dalam teater yang kemudian ia tulis dalam buku The Theatre of The Absurd. Berkat kerja Esslin tersebut kemudian kita mengenal nama-nama besar seperti Eugene Iunesco, Samuel Beckett, dan lain-lain. Repertoar “Jamais Vu” garapan Azzadine ini hendak mengkomonikasikan tentang penantian yang tak kunjung berkesudahan, keberulangan yang berlangsung terus-menerus. Sia-sia.

Sementara repertoar “Neosamting (Blues Tanpa Minor Harmonik)” karya Muhammad Sholeh mengetengahkan sebuah pergulatan panjang dan melelahkan manusia dalam menciptakan sesuatu yang baru. Pertunjukan ini membidik sesuatu yang sederhana namun penting dalam setiap babakan perubahan di dunia. Repertoar ini percaya bahwa yang abadi adalah perubahan dan kemandegan merupakan bentuk penentangan fitrah kehidupan. Agar manusia bertahan dari keniscayaan perubahan dunia, maka ia harus melakukan berbagai inovasi supaya berkarib dengan perubahan. Dalam pertunjukan ini seperti hendak meneriakkan sebuah frasa dari teori evolusi Darwin yang terkenal itu: survival of the fittest.

Adapun karya Lailul Ilham yang berjudul “Persoalan Hidup dan Beberapa Pertanyaan Payah” ini hendak menampilkan ketimpangan sosial di masyarakat. Repetoar ini ingin mengisahkan bahwa masih ada jurang pemisah kelas sosial antara si kaya dan si miskin dan itu yang sesungguhnya menjadi akar dari konflik sosial yang kerap terjadi di negeri ini. Pribadi-pribadi yang hadir di panggung adalah subjek antar kelas yang saling terlibat dan saling melengkapi, namun pada akhirnya si kayalah yang diuntungkan, sementara keringat si miskin tak beroleh manfaat kecuali kepada tuannya, si kapital yang brengsek itu.

TEATER ESKA

_______________

Didukung oleh:

KBTE INDONESIA | LPM ARENA | SUKA TV | UIN SUNAN KALIJAGA

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of