Lepaskan Media dari Oligarki

Lpmarena.com, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Advokasia menyelenggarakan seminar nasional dengan tema “Oligarki Media di Era Demokrasi dan Kepentingannya”, bertempat di Teatrikal Fakultas Syari’ah dan Hukum, Kamis (28/4). Seperti yang diungkapkan Ainul Fatah Al-Qiromy, Pemimpin Umum LPM Advokasi, terselenggaranya acara ini untuk menyikapi persoalan media saat ini. Di mana seharusnya media independen dan obyektif dalam mengangkat berita dan mengedukasi masyarakat. Akan tetapi menjadi alat dan tunggangan oleh sebagian golongan.

Oligarki muncul di era 90-an muncul media baru yang banyak dikuasai oleh Keluarga Cendana. Sejak era reformasi, banyak media baru yang dikuasai oleh para konglomerat, pemilik modal, bahkan media menjadi suatu keniscayaan, karena sangat efektif dalam melakukan kampanye. Seperti Hary Tanoesudibyo pemilik MNCTV.

“Media tidak lagi obyektif. Subyektivitas dan hegemoni oleh beberapa oknum adalah realitas yang tidak dapat dipungkiri saat ini,” ujar Ainul Fatah.

Bambang Muryanto, pembicara dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengatakan dari sekitar 250-an kanal yang ada di Indonesia, hanya dikuasai sekitar 13 media besar. Lanjut Bambang, hal ini akan berdampak negatif yang luar biasa.

Dampak tersebut, pertama, konglomerasi media menjadi alat eksploitasi jurnalis. Dampaknya, jurnalis adalah salah satu jenis yang menyedihkan dalam hal kesejahteraan. Sehingga tidak bisa membuat berita yang bagus dan kredibel. Pada akhirnya beritanya hanya menyasar hal-hal yang sensasional. Terjadi budaya copy-paste yang melanggar kode etik. Kedua, terjadi penyeragaman berita. Pendangkalan informasi dalam demokrasi. Seharusnya ada keragaman informasi dan media dimiliki oleh banyak orang.

Bagi Bambang, media massa merupakan salah satu media untuk mempengaruhi opini publik. Publik diarahkan terhadap hal-hal yang menjadi kepentingan dari pemilik media. Agar dengan mudah oknum mengambil kesempatan dan keuntungan darinya. Sehingga yang diberitakan tidak lagi sesuai dengan kondisi riil masyarakat.

Beberapa cara ditawarkan oleh Bung Ben Senang Galus, keynote speaker dari Dinas Dikpora DIY. Menurutnya, kita perlu menyadari bahwa oligarki media adalah persoalan ekonomi politik, memiliki hak atas informasi yang benar untuk mengawasi penguasa dan ikut berpartisipasi agar tidak terjadi silang media massa.

Pengawasan ini diamini oleh pembicara seminar lainnya, Romi Heriyanto, calon wakil walikota Jogja Independent (JOINT). Ia mengatakan keberadaan media menentukan dan berpengaruh besar terhadap perkembangan masyarakat. Ada beberapa fungsi media, diantaranya: edukasi, pengontrol dan pengawas penguasa, media antara penguasa dan publik, dan sebagai ruang advokasi publik.

Magang: Rodiyanto

Redaktur: Isma Swastiningrum

Beri Komentar

Send this to a friend