Menulis Seharga dengan Kebebasan

Lpmarena.com, “Menulis seharga dengan nyawa atau kebebasan seseorang,” begitulah yang dikatakan oleh Hafidz Muftisany dalam seminar bertajuk Harmonisasi Fisika dengan Keterampilan Writerpreneur. Acara diselenggarakan oleh Hima-PS Fisika, Sabtu (14/5) di Gedung Teatrikal Saintek UIN Sunan Kalijaga.

Hafidz yang juga berprofesi sebagai wartawan dan redaktur Republika ini menerangkan, ketika Perang Badar di zaman rasulullah, saat itu Islam menang. Tawanan perang akan dibebaskan asalkan mengajarkan menulis. Itu sebabnya menulis sangat berharga bagi kebebasan seseorang, bahkan nyawanya.

Pengalaman awal menulis seperti yang dicontohkan Hafidz dimulai saat masih kecil. Misalnya saat menulis diary, yang ketika tulisan dulu itu dibaca lagi maka akan menimbulkan tawa. “Bukti tulisan berkembang, ketika kita baca tulisan kita lima atau sepuluh tahun lagi pasti tertawa,” ujar Hafidz dengan diselingi humor. “Apa yang kita tulis adalah apa yang kita baca. Baca apapun,” tambahnya.

Setidaknya ada empat alasan kenapa harus menulis seperti yang dipaparkan Hafidz. Pertama, selain membaca kita diperintahkan untuk mencatat, seperti yang tertuang dalam surat Al-Alaq: 4. Kedua, sebagai strategi dakwah rasulullah mengembangkan dakwah Islam. Ketiga, menulis meninggalkan sejarah. Keempat, menulis sebagai sarana kemandirian.

Dari manfaat dan melihat energi yang dihasilkan dari menulis, Asih Melati selaku dosen Fisika UIN Sunan Kalijaga menuturkan di toko buku, karya-karya banyak diproduksi oleh anak muda. Ia mencontohkan, dalam satu skripsi saja bisa dibuat satu hingga empat buku. “Dari menulis sangat efektif untuk yang berjiwa muda. Pemuda akan memiliki eksitasi lebih kalau tidak dikeluarkan,” kata Asih Melati. Eksitasi merujuk konsep fisika yang berarti penambahan sejumlah energi.

Reporter dan Redaktur: Isma Swastiningrum

Komentar

komentar

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of