Agama Sebagai Citra Individualitas Umat

Agama Sebagai Citra Individualitas Umat

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Ilham Mr*

Bulan ramadhan pada setiap tahunnya selalu saja mendapat perhatian yang sangat besar oleh sejuta muslim di Indonesia, khususnya, bahkan terkadang non-muslim sekalipun. Tak terlepas juga dari agenda persuasif (seperti perfilman, iklan, majalah, spanduk, dan lain-lain) yang disulap sedemikian bentuk menyerupai latar islami. Lebih mirip sebuah persaingan produktivitas yang memanfaatkan massa yang memperdaya umat. Ironinya, persaingan serupa tidak hanya dilakukan pada agenda seperti di atas saja, tetapi juga dilakukan oleh umat yang berlomba-lomba untuk menampakkan eksistensi ibadah mereka (sebut saja riya’).

Problem tersebut hanya menjadi sebuah kecendrungan individual yang dihadapi oleh umat muslim. Sehingga terkadang kepentingan agama menjadi lalai dan terabaikan. Tentu, kecenderungan individual lebih banyak di pengaruhi oleh perkembangan teknologi yang sangat pesat. Alih-alih, teknologi kadang menjadi tempat peribadahan umat yang ingin menampakkan eksistensi ibadah sebagai wujud pencitraan, di mana teknologi jalan menuju pencitraan.

Anggap saja kebiasaan yang telah mendarah daging selama bertahun-tahun saat bulan ramadhan tiba. Postingan melalui sosial media yang dipenuhi oleh status yang menyinggung mengenai shalat, puasa, zakat, dan sebagainya bisa saja menjadi hal yang munafik terhadap agama. Pasalnya, pencitraan yang nampak kadang tak selaras dengan perbuatan yang dilakukan oleh umat.

Melihat contoh yang dekat saja, pada awal-awal ramadhan, hampir setiap masjid-masjid dipadati oleh para jamaah yang datang berbondong-bondong menyambut kedatangan bulan yang dianggap suci dan penuh pengampunan. Shaf (barisan dalam shalat) terkadang sangat rapat dan tak menyisakan tempat bagi jamaah lainnya. Namun, itu hanya bertahan untuk beberapa waktu saja. Semakin ramadhan larut, maka semakin larut pula intensitas jamaah yang hadir di masjid-masjid. Padahal rasionalnya, akhir ramadhan adalah momen akhir yang perlu disemarakkan sebelum menuju perayaan kemenangan. Ini berarti, kecenderungan individual umat hanya berlaku sebatas pencitraan saja. Melainkan persoalan inti dari agama menjadi hal yang terabaikan. Dan anehnya, keberadaan eksistensi ibadah di sosial media terus berjalan bahkan kadang melampaui perlakuan yang sebenarnya.

Baca juga  Mahasiswa FISHUM Menggugat

Agama sebatas proyeksi

Menelisik kembali anggapan Karl Marx, bahwa agama hanyalah proyeksi yang menjadi pelarian umat manusia dari realitas sosial sehingga menjadikan makhluk yang individualis. Bagi saya, anggapan tersebut boleh saja dibenarkan jika melihat kejadian di atas. Memang agama akan lebih mirip sebuah proyeksi jika keinginan umat hanya menguntungkan diri pribadi saja. Agama kadang tidak menjadi sakral lagi bagi para penganutnya. Sebab, agama diperalat untuk menyelamatkan identitas manusia pada umumnya.

Melihat kecenderungan individualistis tersebut dalam konteks Islam, sepertinya umat muslim telah terperangkap dalam sebuah dilema, yaitu antara pandangan terhadap ajaran agama yang hanya berdasarkan pada subjektivitas dengan pandangan yang masih berpegang teguh pada ajaran yang dogmatik. Dosis subjektif yang berlebihan dapat melahirkan sebuah liberalisasi terhadap ajaran agama. Sehingga dampaknya adalah agama sudah menjadi milik pribadi umat secara individu layaknya memiliki Undang-Undang Hak Cipta yang bebas mengaturnya, bukan lagi sebatas pada persoalan hak asasi kebebasan beragama. Maka perlu diwajari jika banyak sekali pendakwah yang menyesatkan umat melalui materi ceramahnya yang sangat tidak realistis dan tidak relevan dengan kebutuhan umat yang sangat mayoritas ini (kebutuhan sosial).

Berbeda dengan yang memandang ajaran agama secara dogmatik, memang tidak menutup kemungkinan bahwa mereka ini tidak terjebak dalam hal individu. Melainkan, tingkat orientasi ibadah lebih bermutu dibanding mereka yang berpandangan sebatas subjektif. Apalagi dari segi kualitas ibadahnya sedikit kemungkinan akan berakhir pada wujud pencitraan. Wujud pencitraan inilah yang selalu menyelamatkan identitas pribadi bagi mereka yang beragama dengan kesewenangan individu. Mereka membungkus pribadi dengan balutan keagamaan yang bersifat simbolis semata tanpa mengarungi makna hakiki dari ajaran agama. Hal yang paling naif jika mereka tidak menyadari bahwa ibadah dengan hanya sebatas pencitraan adalah bentuk membohongi diri sendiri akan sebuah realitas.

Oleh karena itu, mengembalikan hakikat ramadhan yang sudah meleset jauh adalah merupakan proses untuk menyelamatkan ajaran Islam yang nilai dan kandungannya telah dikikis oleh para individualis yang memperkaya diri melalui agama. Barang tentu, ramadhan adalah target untuk merevolusi ajaran-ajaran Islam (dalam artian tidak mengubah yang sudah mutlak ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta, melainkan memperbaiki ajaran yang telah dimodifikasi oleh kecenderungan individual umat semata). Adapun tawaran mengenai target di atas disebabkan karena ramadhan memiliki keistimewaan khusus yang tidak terdapat di bulan-bulan yang lainnya sehingga konsentrasi umat hampir mayoritasnya terbelenggu di dalamnya. Dengan menyatukan nilai dan kandungan Islam yang terkikis tersebut adalah harapan yang niscaya akan mereinkarnasi sebuah nilai baru dalam Islam nantinya. Apabila revolusi ajaran (seperti yang dimaksudkan sebelumnya) ataupun reinkarnasi nilai dalam Islam yang terkikis sudah terealisasikan, maka labelisasi bahwa agama hanyalah sebuah proyeksi akan terbantahkan dan terpecahkan.

Baca juga  Rindu pada Angin

Dengan demikian, kembalinya hakikat agama yang telah dimanfaatkan sebagai kepentingan yang individualistis tersebut, akan memudarkan stigma bahwa agama yang hanya sebatas gambaran hanya mampu memantulkan cahaya yang berbentuk simbolis saja. Tetapi, pemaknaan hakiki mengenai Islam adalah hal yang wajib agar agama tidak lagi menjadi kesewenangan pribadi bagi penganutnya. Apalagi jika umat hanya lari dan melindungi kemunafikan di bawah naungan agama. Sungguh, hal demikian merupakan proses mematikan fungsi agama sebagai fungsi sosial. Sebab, agama dilahirkan juga atas landasan membangun kehidupan sosial, bukan semata wadah untuk menyembah kepada Tuhan.

Maka dari itu, dalam tulisan singkat ini, yang hanya sebatas memberikan sedikit ulasan mengenai citra individualitas umat beragama, diharapkan mampu mengajak umat Islam, khususnya, agar kembali memaknai Islam sebagai agama yang sempurna berdasarkan Al-Quran, hadits, dan ketetapan ulama, bukan berdasarkan keinginan pribadi saja. Apalagi di penghujung ramadhan ini, adalah waktu yang tepat untuk mengintropeksi kembali kesalahan yang telah diperbuat sebelum memasuki hari raya umat Islam sedunia. Mari selamatkan agama!

Selamat menanti berhari raya!

*Penulis mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga.

Komentar

komentar

Share:

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of