Pakaian di Kuburan

Pakaian di Kuburan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Risen Dhawuh Abdullah*

Sewaktu bulan mulai menampakkan diri, Kasim baru pulang dari kerja. Setiap pulang, ia selalu melewati tempat yang sama dan pikiran Kasim benar-benar terganggu pada akhir-akhir ini. Malam tiba kembali, ia terheran tatkala melewati depan kuburan di kampungnya. Bukan takut karena ada hantu yang menampakkan diri. Bukan takut kalau tempat peristirahatan terakhir manusia itu angker, tapi ada satu hal yang membuatnya merasa heran.

Kasim memperlambat langkahnya. Matanya menyorot sesuatu yang bergelantungan di pohon kamboja berukuran lumayan besar. Tepat di atas gundukan tanah yang masih memerah. Di sanalah benda-benda itu bergelantung. Benda itu adalah kaos dan celana. Mereka sedikit menari-nari terbawa irama angin malam.

Diamatinya potongan kaos dan celana itu. Dahinya mengerut, tanda ia sedang berpikir. Kasim merasa ada yang tidak beres. Kemarin benda itu belum ada di sana, pohon kamboja itu masih bersih, batinnya dalam hati. Timbul pertanyaan di benaknya. Siapa yang meletakan kaos dan celana di sana?

***

Kasim masih penasaran. Ia kembali lewat depan kuburan. Sepi menggelayuti. Pakaian yang tergantung di pohon kamboja sudah tidak didapati lagi. Di suatu pagi yang berkabut. Kasim kembali mengendarai motornya melewati depan kuburan. Terkejutlah Kasim. Pakaian itu kembali ada. Ada beberapa potong kaos dan celana yang berbeda warna dari kemarin.

Dengan spontan ia mempunyai suatu ide. Handphone-nya diarahkan ke pohon kamboja. Ia mengambil gambar. Kasim tersenyum memandang gambar yang baru saja ia ambil. Handphone kembali tenggelam dalam saku Kasim.

Kebetulan malam nanti adalah malam Jumat kliwon. Setiap Jumat Kliwon, di kampung Kasim diselenggarakan rapat RT, guna membahas apa saja yang menyangkut kampung mereka, termasuk keamanan kampung.

***

Rapat dibuka oleh ketua RT. Suasana berjalan hikmat. Lantunan doa zikir mengalun syahdu menembus atap gedung pertemuan. Meramaikan suasana malam yang sepi. Beberapa orang terlihat menggeleng-gelengkan kepala ketika berzikir. Ada juga yang malah sudah tertidur.

Selesai berdoa, bendahara kampung melaporkan anggaran yang keluar masuk bulan ini, yang dipergunakan untuk kepentingan kampung. Di sela-sela pembicaraan, beberapa orang muda-mudi terlihat sibuk membagi-bagikan makanan beserta minumannya.

Satu persatu orang dipanggil untuk membayar iuran rutin. Beberapa nama telah terpanggil, kali ini giliran Kasim. Ia menyerahkan uang kepada bendahara kampung. Lalu kembali ke tempat duduk, menghampiri Pak Tejo yang sedari tadi setia menemaninya.

Satu setengah jam kemudian, rapat telah selesai dan langsung ditutup oleh ketua RT. Kasim masih terduduk di tempat dengan Pak Tejo. Sementara orang-orang berhamburan mencari sandal di luar sana. Pak RT menghampiri mereka berdua. Senyuman terpancar dari wajahnya. Kasim membalas senyum. Begitu juga dengan Pak Tejo.

Baca juga  UTS Terstruktur atau Tidak bukan Masalah Subtantif

“Kenapa Kasim dan Pak Tejo belum pulang?” tanya Pak RT sembari mendudukkan diri.

“Kebetulan Pak, saya mau menyampaikan sesuatu,” kata Kasim dengan ramahnya.

“Begini, Pak…..”

Kasim mulai bercerita, diawali ketika ia melewati kuburan dan mendapati pakaian yang bergelantung di pohon kamboja. Pak RT mendengarkan dengan serius. Terlihat ia begitu tertarik mendengar cerita Kasim dari sorot matanya. Kasim juga memperlihatkan foto-foto yang ia ambil.

“Bagaimana kalau besok malam kita selidiki? Kebetulan saya juga ada jadwal ronda,” tawar Pak RT.

Bener, Sim. Besok aku juga ronda. Bareng sama Pak RT,” sahut Pak Tejo antusias. Tanpa pikir panjang lagi, Kasim langsung mengiyakan.

Ketiganya terlibat beberapa pembicaraan. Di luar sana suara burung hantu menggema menembus angkasa. Jika dirasakan alunan celotehnya, membuat bulu kuduk orang yang mendengarnya akan berdiri. Gedung pertemuan kian lengang. Hanya tinggal sekitar sepuluh orang, termasuk Kasim, Pak Tejo dan Pak RT.

***

Tepat pukul sepuluh malam, hanya bermodal lampu senter, Kasim, Pak Tejo dan Pak RT berjalan menembus jalan yang remang. Jalanan tergenang air, tanah menjadi becek, sehingga sesekali kaki-kaki mereka terkena air.

Melewati sebuah kolam yang tak dihuni ikan, suara kodok terdengar jelas.

Ketiga orang menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu kuburan. Pak RT memberi instruksi untuk diam sesaat. Kemudian mereka berjalan pelan merambat di balik tembok kuburan, sambil sesekali meneropong lewat tembok yang berlubang karena ditelan usia.

Tanpa diketahui, ketika mereka bertiga kembali menengok ke dalam kuburan, mereka dikejutkan. Seseorang berpakaian putih terlihat sedang menjemur kaos dan celana di pohon kamboja. Bulu kuduk Pak Tejo berdiri. Wajahnya menahan takut. Tubuhnya mulai gemetar. Kasim terheran-heran melihat Pak Tejo yang teramat ketakutan.

“Kenapa, Pak? Jangan takut dulu, itu bukan hantu, hanya manusia. Kakinya menyentuh tanah,” kata Kasim enteng.

“Kasim, Pak Tejo, coba perhatikan. Dia Sarimin,” ujar Pak RT kepada mereka berdua.

“Benar, Pak. Lalu kita apakan dia? Apa kita langsung hampiri?”

“Jangan, kita ikuti saja.”

Pandangan mereka tertuju kepada orang berpakaian putih. Rupanya orang itu sudah selesai menjemur pakaian. Ia terlihat menenteng ember. Sesaat kemudian orang itu menghilang tanpa disadari Pak RT dan Kasim. Rupanya Pak Tejo yang masih setia dengan raga gemetarnya tahu, kalau orang itu melompat pagar belakang kuburan.

Baca juga  Wisanggeni

“Orang tadi melompat lewat pagar belakang kuburan, Pak.”

Pak RT segera memberi instruksi untuk cepat-cepat menghampiri orang berpakaian putih itu. Ia yakin, belum berjalan jauh. Mereka melewati semak-semak.

Benar! Kasim berlari dan langsung menarik pakaiannya dari belakang. Pak RT dan Pak Tejo tergopoh-gopoh mendekat. Sarimin hanya bisa melongo melihat ketiga orang yang sudah mengelilinginya. Ember yang ditentengnya terjatuh.

“Kenapa kamu main ke kuburan malam-malam begini? Sebenarnya kamu mempunyai tujuan apa?” tanya Pak RT pelan. Bibir Sarimin gemetar, tapi terasa kaku.

“Mungkin seringnya warga kita yang pingsan di depan kuburan akhir-akhir ini karena ulah Sarimin. Mereka takut dengan dandanan Sarimin yang terkesan menakutkan. Mereka mungkin menganggap ini adalah sebuah penampakan,” kata Kasim seperti menjelaskan.

“Benar juga,” Pak Tejo menyetujui.

“Terpaksa saya melakukan ini, bapak-bapak semua. Maaf sebelumnya kalau saya telah mengganggu keresahan warga karena ulah saya. Tapi tentu ada alasannya mengapa saya begini. Mestinya kita tahu, bahwa lahan di kampung kita hampir tidak ada yang lengang. Lapangan yang dulu untuk bermain bola kini disulap menjadi rumah…” ujaran Sarimin terhenti, ia terbatuk-batuk. Sesaat kemudian ia melanjutkan

“Begitu juga dengan sawah-sawah. Lahan yang kosong hampir habis. Rumah-rumah sudah dibangun, apalagi kalau bertingkat, menjadikan suasana terasa sumpek. Tak ada lagi ruang bebas. Tak ada lagi pohon yang rindang sekedar untuk mencari kesejukan di bawahnya. Sampai-sampai menjemur pakaian saja saya tidak bisa. Beruntung mereka yang mempunyai rumah bertingkat. Mereka bisa menjemur di atas sana. Itu sebabnya saya rela melawan rasa takut. Pergi masuk ke dalam kuburan pada malam hari setiap dua atau tiga hari sekali, agar masyarakat tidak menganggap saya gila karena telah menjemur pakaian di kuburan,” kata Sarimin panjang lebar. Pak RT merenung. Kasim dan Pak Tejo juga merenung. Pak RT terharu. Perlahan air mata membasahi pipi. Berkilau terkena sinar lampu motor yang lewat.

Bantul, 5 Desember 2016

*Penulis lahir di Sleman, 29 September 1998. Pelajar yang suka membaca dan menulis cerpen. Alumni bengkel bahasa dan sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Salah satu murid penyair Jogja, Evi Idawati. Sedang menimba ilmu di SMA N 2 Banguntapan, Bantul, Yogyakarta.

Ilustrasi: www.tibordenagy.com

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of