Puisi-Puisi Bunga Hening Maulidina: Sajak Almamater

Sajak Almamater

 

Almamaterku, tercinta.

untuk jambang-jambang di podium

dan kembang-kembang angsana

pedestrian menguning bercengkrama,

beserta celotehan para pandir yang bijaksana

dalam buku dan baki hidangan makan malam

durjana.

kuusap keringatmu dengan kaus kakiku

yang bau, juga lap keringat bapakku di warung

tenda, penuh luka dihirupnya doa, biar aku jadi

seperti mereka yang duduk manis memeras otak

dari jumat sampai senin, dari agak botak sampai licin.

 

tercinta almamaterku paling cinta…

untuk pita-pita suara yang berontak

pada angin dingin gunung sunyi, dan di ujungnya

memilih memeluk kekasih, alih-alih kinasih

semesta, di buku-buku jari ibu yang erat

menggulirkan cinta pada kita, sang

durjana.

kutiup lilin di kafe-kafe sarat air mata nan

cita yang mulia penuh gulana, dan termasuk derap

kaki di malam hari dalam pertemuan baka dengan tuhan,

mengharapkan suatu kelak akan membasmi kejahatan di dunia,

dimulai dari membasmi nyamuk dengan semprot serangga.

 

almamaterku, tercinta…

tercinta di apnea

Solo, 09 Februari 2017

 

Yogya-Solo

1

di titik nol, ada tak

terhingga peristiwa

yang kupandang di

balik potret panorama.

2

setiap ada para santaklaus

dengan karung gembung

aku mengira mereka telah

singgah di uap-uap embunmu

yang senja nan misteri.

3

setelah jumlah ada ragam

setelah ragam ada genggam

setelah genggam ada siram

yang menguyupi payung pelangi.

4

aku ingin kemah

menghuni lalu merunut kata pergi

 

 

Solo, 9 Februari 2017

 

Tak Semua Bisa Puisi

: Milan Kundera

bagi tetes air pohon

yang diterpa angin, serta matahari

hangat, lalu besertanya

senyum hidup seorang penambal

ban dan kawannya

 

Solo, 9 Februari 2017

 

Nasi Kucing

:Pak ts

Baca juga  Iman Budhi Santosa: Menulis Sastra Bukan Untuk Menjadi Sastrawan

malam, hujan, dan angkringan

ialah seonggok harapan atas hidangan

sederhana rasa. dan, entah mengapa

kali ini rasanya seperti memandang wajahmu

nan bijaksana.

sebungkus nasi kucing dan berbungkus kenangan

yang kuberadu malam ini di benakku.

 

Solo, 31 Januari 2017

Bunga Hening Maulidina, lahir di Sragen, 07 Agustus 1995. Belajar di Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Anggota Diskusi Kecil Pawon.

 

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of

Send this to a friend