Puisi-Puisi Imam Budiman: Tiri Jadah

Tiri Jadah

keduanya diciptakan tak lazim:

malam punya terik yang tiri

siang punya pekat yang jadah

 

malam dan siang yang terbuang itu,

akhirnya merayakan kelahiran

seorang bayi buruk rupa.

 

2017

 

Tuan Dalang

ada yang lebih dulu kabur dari
dongeng celaka sang tuan dalang

: aku dan kau di antara mereka

betapa bengis kedua tangannya
yang sekehendak memainkan
nestapa setiap lakon cerita

dalang itu memang disewa
untuk mengarang-ngarang
kehidupan yang serba sial

sampai ia di ujung sekarat
tuan dalang memainkan
dongengnya seorang
sebagai diri yang
terbuang

2017

 

Ceramah

kata-kata pun moksa
apalah arti puisi bila hanya
sekadar dituliskan?

mimbar ceramah pun siksa
apalah arti berdalil bila
menyembah-Nya saja
acapkali kau merasa
terpaksa

Ciputat, 2017
Ketika Hujan

rangka payung merekah
sekujur jalan menjelma
cabang sungai-sungai
yang mengarah layu
kepada kesunyian

perempuan itu pun
menyingsing sepi
agar terhindar
dari jarum
rerintik

sebelum tubuhnya
lebur dan fana

Ciputat, 2017

 

RIP

tubuh bunga selasih
mengonggok kaku
di halaman kecil
kening perupa

: lekas menguarkan
bau ganjil kematian

kita sudah tak bernyawa
membicarakan ihwal
kata dan sabda

2017

Imam Budiman, kelahiran Samarinda, Kalimantan Timur. Puisi-puisinya dimuat di media lokal/nasional. Kini aktif di Komunitas Kajian Sastra Rusabesi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Buku puisi tunggalnya; Perjalanan Seribu Warna (2014) dan Kampung Halaman (2016).

Ilustrasi: www.artisoo.com

Komentar

komentar

Baca juga  Negeri Surga yang Berhikayat

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of