Puisi-Puisi Risen Dhawuh Abdullah: Pengemis

Puisi-Puisi Risen Dhawuh Abdullah: Pengemis

Pengemis

Menengadah langit harapan.

Matanya cerlang memandang.

Aliran-aliran batinnya yang ia lemparkan.

Pada awan yang berak-arak pergi, semakin jauh meninggalkan ringkihnya.

 

Menebas gelisah begitu sulit terlaksana.

Menimbulkan harapan sangat susah bila nyatanya waktu sulit terpatik pada matahari.

 

Bantul, 7 Maret 2017

 

Pengemis 2

Menengadah tangis pada tangannya yang hampa akan napas-napas orang.

Biarpun ia sedih, tapi hatinya sesungguhnya sekuat baja impian yang ia rabuk dengan doanya sendiri.

Setiap jalan, baginya lautan yang tidak ada batasnya.

Di sanalah ia akan melaut.

Tapi kini kian hari kian kering, bahkan airnya semuanya hilang diserap bumi.

Dengan tanpa tangis, ia melangkah tegar di bawah deras matahari yang memaksanya tabah dalam menghadapi segala kesempatan.

 

Bantul, 7 Maret 2017

 

Guru

Mengengkol waktu.

Membentuk sudut pengabdian.

Sembari membuang muka pada toko yang. berderet rapi

Serapi kisahnya.

 

Sunyi tidak ingin ia kuasai.

Bila renta datang mengekang.

 

Angan-angannya berlari pada putih yang nanti akan usang.

Menonton adegan drama senja yang sempurna.

 

Akankah waktu berteman?
Tidak! Ini bukan urusan waktu.

Tak lain ialah bagaimana ia bisa membuat hujan di sekolahnya yang kemarin dilanda kekeringan.

 

Bantul, 6 Maret 2017

Risen Dhawuh Abdullah, sedang menuntut ilmu di SMA N 2 Banguntapan, Yogyakarta.

Pelajar yang rajin membaca dan menulis cerpen. Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra 2015, kelas cerpen. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

Ilustrasi: archive.ivaa-online.org

Komentar

komentar

Baca juga  Fakultas Adab Sebagai Barometer Budaya

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of