Pada Cermin, Aku Melihat Mereka dalam Dirimu

Pada Cermin, Aku Melihat Mereka dalam Dirimu

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh : Fitri M*

Aku sedang berdiri di depan cermin besar yang melengket pada kerangka bangunan bergaya eropa dengan ornamen ukiran Jepara di ujung. Ukurannya lebih dari tinggi manusia Indonesia pada umumnya. Memandanginya seakan tidak membosankan hasrat. Aku tidak tahu kenapa pastinya. Sedari tadi mengadu mata dengan cermin, semakin saja ada rasa penasaran muncul satu per satu.

Banyak khayalan yang menampar pikiran. Bangunan itu sendiri berada di pusat keramaian kaum urban dengan lantai yang bertingkat dua. Di sekelilingnya, banyak tempat untuk menukar uang dengan barang atau jasa, juga sebaliknya. Katanya, cermin itu dipasang agar ruangan di sekitarnya terlihat sangat luas. Memang, gedung yang ditempeli ukurannya kalau dikir-kira hanya sampai batas 10 x 8 meter saja. Terlihat kecil dibanding dengan bagunan di kanan-kiri.

Aku percayakan diri masuk ke dalam. Sekedar melihat isinya saja, tidak lebih. Pakaian, sandal, sepatu, juga jam tangan trendi ternyata yang menyesaki. Tapi aku tidak melihat jenis barang dagang yang berbau seperti ornamen di ujung cermin tadi. Sepertinya ini bukan merek lokal negara ini. Ah, ternyata benar sangkaanku. Ornamen tadi hanya sebagai pramuniaga yang menyilakan hasrat untuk masuk. Senantinya toh bakal kepincut. Aku putuskan kembali ke posisi di mana aku merayu cermin untuk mau setia kupandangi, tadi.

Kebetulan di tempatku berdiri ada sebuah kursi berukuran sekitar satu meter panjangnya dan menghadap ke arah cermin tadi berada. Jaraknya pun tidak terlalu jauh. Cukup menggerakkan kaki barang tiga langkah sudah sampai. Aku pun memanfaatkannya untuk duduk dengan menaikkan satu kaki ke atas untuk menopang tangan yang juga sedang menopang dagu. Sedang di belakangnya, trotoar lumayan lebar, selebar delapan orang kurus Indonesia, berjajar rapat menjadi pembatas di ujung sebelahnya, dengan jalan raya yang tidak sepi kendaraan pribadi. Kalau dihitung jumlahnya sangatlah memusingkan otak.

Trotoar yang aku punggungi pun tidak kalah ramainya. Bukan anak kecil bekejaran dengan teman sebayanya atau mereka yang sedang bermain petak sodor menjadi penyebab. Suara high heels, sepatu ternama dengan merek yang menempel dan sangat kentara dilihat mata, sandal kasual yang sebenarnya juga tidak sederhana, membisingi lantai trotoar yang terbuat dari lapisan granit bercampur curahan nilai seorang pekerja dengan upah rendahan.

Aku sempat berfikir tentang sesuatu serta mencari-carinya di dunia nyata, apakah ada sandal dengan merek yang berlambang burung walet, yang terkadang sering disia-siakan di teras masjid, ikut meriuhkan keramaian tadi? Dari cermin tadi aku tidak melihatnya. Pun ketika aku menoleh ke trotoar tadi. Tidak aku temui barang satu pasang. Kecuali di seberang jalan sana, dengan badan di atasnya yang membawa bakul berisi aneka gorengan.

Muka kupalingkan lagi menghadap cermin. Memelototinya dengan pikiran sesak penuh keresahan akibat ketakutan yang tidak bertuan. Aku tidak tahu apa yang kutakuti sebenarnya. Hanya merasa tidak nyaman saja di dunia yang harusnya ide-ide baru bermunculan. Cerminpun tak memberikan gambaran untuk membantuku mencari alasan rasional. Atau setidaknya yang supranatural pun tak apa. Ya, setidaknya bisa untuk dijadikan kambing hitam. Pekat pula.

Tunggu dulu, ada dua orang perempuan berperawakan muda mendudukkan badan di belakangku. Kurang dari 30 tahunlah kira-kira umurnya. Tepat di kursi yang bentuk dan panjangnya sama persis dengan kursi yang aku duduki. Bedanya kursinya menghadap ke arah jalan raya. Mereka menghalangi pandanganku di cermin. Tak mungkin aku mengusirnya. Tetapi, sepertinya aku mendengar sesuatu. Perempuan yang lebih panjang rambutnya sedang  berbicara dengan yang satunya. Sepertinya dia sedang membicarakan sepatu yang ada di balik cermin ini. Oh iya, benar. Aku tidak salah sepertinya.

“Sebenarnya bukan soal masalah harga. Ya, memang, aku belum digaji untuk bulan ini. Dompetpun sedang kosong. Tapi aku butuh sepatu itu. Terlihat nyaman di kaki. Kekinian pula. Kamu tahu bukan? Sepatuku sudah berumur tua di rak. Aku perlu itu,” ujarnya yang mata dan gerak bibirnya turut menyakinkan perempuan di sebelah.

Baca juga  Gerhana Menelannya

Secara tidak sadar aku langsung melihat sepatuku. Yang satunya masih menempel di kaki sementara lainnya tergeletak di lantai trotoar. Sepatu ini aku beli ketika ada pasar malam di alun-alun kota. Haganya hanya seberat nasi ayam lima bungkus. Tapi aku merasa nyaman dengan ini. Sempat aku mengayuh otak. Berpikir apakah nyaman itu persoalan subjek si pemakai? Atau malah internalisasi dari hasrat liyan? Aku kira nyaman hanyalah persoalan fungsional. Tapi aku masih ragu juga. Mana dari ketiganya yang lebih berkuasa, untuk kasus perempuan tadi.

Lupakanlah. Kepala ini harus aku pegang dengan dua tangan. Tak cukup hanya dengan menyangganya saja. Merundukkannya juga mungkin aku perlukan. Supaya tidak berat membawa otak.

Ada suara lagi! Yang satu ini terdengar lebih ramai. Aku tengok di cermin untuk memastikan. Sekawanan orang asing, bukan masyarakat daerah sekitar sini aku kira. Sepertinya orang sedang berlibur. Terlihat dari polahnya berfoto ria di bawah lampu jalan berkontruksi model pra-kolonial, ditambah tancapan papan penunjuk jalan-yang sebenarnya juga tidak tidak ada jalannya di situ- di sampingnya. Untuk jadi kenang-kenangan teman di kampung mungkin. Macam anjing yang mengencingi suatu tempat sebagai tanda daerah kekusaanya saja. Untuk lebih detailnya, aku melihatnya langsung dengan menolehkan muka sampai bahu. Masih saja tingkahnya. Sudah puluhan potret kamera aku hitung-hitung gambar yang di ambil. Biarlah.

Bosan menjadi alasan untuk mengembalikan badan seperti beberapa menit yang lalu. Memandang cermin agaknya bisa menawar kesemrawutan pikiran, lagi. Kali ini agak berbeda sedikit. Aku tambah melamun untuk memisahkan diri dari kebisingan di belakangku. Sementara, aku teringat guruku ngaji sewaktu masih berumur di bawah syarat baligh. Pak Dur sering murid-murid menyapa beliau. Orangnya ahli dalam ilmu agama. Bertahun-tahun mondok di pesantren serta keluarga yang agamis membentuknya hingga menjadi tokoh masyarakat di desa kelahiranku.

Pak Dur pernah berkata kepadaku, “janganlah terlalu banyak melamun, nanti kesambet,” nasihatnya saat melihat aku sedang duduk di depan rumahnya dengan memandang pohon mangga yang sedang tidak berbuah pada waktu itu.

Akupun teringat kata-kata itu untuk saat ini. Benar saja, dari tadi melamun membuatku kesambet. Bukan setan tetapi kali ini yang memasuki pikiranku. Pertengkaran dengan salah satu teman di pagi tadilah biangnya. Khudori nama perolehan dari orang tuanya, temanku. Persoalanya sendiri karena perbedaan memilih tempat untuk memuja tuhan di waktu subuh. Kebetulan aku dan temanku beragama Islam.

Kejadiannya di pagi hari tadi setelah azan untuk salat subuh disebarluaskan. Seperti hari-hari sebelumnya, Khudori selalu membangunkanku untuk salat subuh berjamaah. Dia bangun melebihi kokok ayam yang dipelihara rumah samping kontrakan. Kebetulan kami ngontrak dua kamar yang saling bersebelahan.

Khudori hanya mengetuk kamarku saja, tanpa diiringi kata-kata bernada keras. Aku sudah tahu tanda tersebut. Sebelumnya, alarm di telepon genggam aku aktifkan terlebih dahulu, sebelum bunyi tok, tok, tok membisingi tidur yang nyeyak. Sesegera mungkin kamar mandi aku tuju. Secepat kilat wudlu, berganti busana muslim, serta berdiri dengan senyum hangat di depan Khudori yang menungguku di teras aku selesaikan.

“Kita harus beribadah dengan hati ikhlas. Senyum yang keluar dari diri jadi indikasinya. Kita akan berhadapan dengan tuhan. Bersemangatlah untuk hal tersebut,” jelasnya yang juga sedari tadi tersenyum kepadaku.

Kontrakan kami berada di ujung desa, bersebelahan dengan desa lainnya. Di desa yang kami tempati sendiri ada dua masjid. Yang satu terlihat mewah, satunya lagi bangunannya agak kecil dari yang pertama. Tidak terkecuali juga di desa sebelah. Jarak keempat masjid tadi dari kontrakan kami tidaklah jauh. Semuanya sama, barang beda hanya beberapa langkah kaki saja. Kami terbiasa salat subuh di masjid desa sebelah yang bangunannya agak kecil. Kebetulan jalan menuju ke sana bagus dan tidak ada kekhawatiran apakah nanti kaki ini akan tersandung batu di jalan karena kelopak mata yang masih setengah membuka.

Baca juga  Puisi-Puisi Rodiyanto: Syair Kematian

Aku dan Khudori sendiri seperantauan. Kita berasal dari desa yang sama. Desa Ronggo tepatnya. Dia tipe orang agamis. Salat subuh tidak ketinggalan dalam jadwal tetapnya. Hidup sedari kecil di lingkungan pesantren membangun karakternya seperti ini. Tutur kata para kyai selalu diingat serta diejawantahkan dalam hidup. Salah satunya tentang salat subuh berjamaah ini.

Tidak seperti biasanya, Khudori menawariku untuk salat di masjid desa tempat kami tinggal. Masjid yang lumayan mewah maksudnya. Alasannya sendiri menurutku tidak subtansial. Yang menjadi imam waktu itu seorang ustad yang diidolakan oleh teman-teman seorganisasinya. Dia merasa ada hasrat kuat untuk mendengarkan lantunan ayat dari kitab suci dan ceramah yang sangat manis dari ustad tadi, katanya.

Aku sendiri tidak tahu ukuran kemanisannya itu dari apa, dia tidak menjelaskan secara mendetail. Dia sendiri belum pernah mendengar suara dari ustad tersebut. Bertemu saja pun tidak sama sekali. Ocehan dari teman-teman di organisasilah yang menghasratinya. Aku tidak menyetujui untuk hal ini. Alasanku sederhana, jalan di sana tidak terlalu bagus. Banyak batu menonjol dari atas tanah. Di tambah lampu penerangan jalan yang mati diterjang angin serta hujan tempo hari pula. Bukankah itu tidak menjadi salah satu syarat untuk salat dikatakan gugur secara sah.

“Kamu ini bagaimana. Bukankah yang semacam itu mampu menambah berat di timbangan keimanan kita? Harusnya kamu beriang hati dengan ajakanku ini. Bukankah imanmu juga sangat kurang untuk bisa dikatakan hamba tuhan?”

Khudori, apa kamu tidak tahu kalau mataku ini sebenarnya tertutup malas untuk menyoal hal-hal seperti itu. Haruskah kakiku kesandung batu karena ustad pujaanmu. Bukankah tuhan sangat anti untuk memberatkan umat dalam menyembah. Aku tidak sepakat dengamu. Tidak lagi untuk sekarang ini. Kamu terlalu kolot untuk mempertontonkan seseuatu. Tidak terkecuali soal agama. Kamu terlampau buta untuk melihat dunia. Akhirat juga serasaku.

“Sudahlah. Aku bukan tipe orang yang bersemangat bertengkar. Apalagi denganmu. Ya terserah kamu, sana. Pergilah ke masjid di desa sebelah. Supaya kakimu tetap terjaga dari batu. Aku tetap dipendirianku,” gerutu Khudori yang langsung saja meninggalkanku.

Ya, terserah kamu saja. Kata itu cukup untuk mewakili kekolotan yang kamu simpan lama. Selama hasrat-hasrat baru yang kamu munculkan di setiap pagi serta sore hari.

Ah, kau Khudori. Kamu seperti setan saja. Masuk di bayanganku tanpa permisi. Sekedar pemberitahuanpun tak kamu sisipkan di pintu otakku. Cukuplah waktu untuk melirik sikapmu. Bukankah aku hadir ke tempat ini untuk menyiram bersih kotoran darimu di kepala. Kenapa harus aku mengikutkanmu sampai ke sini. Ah, kau Khudori.

Cermin. Aku harus kembali ke cermin. Sekelabut ingatanku muncul. Cermin memberikanku jawaban atas pertanyaan yang tidak pernah aku tanyakan kepadanya. Yang pertanyaan itu sendiri tidak pernah secara sadar otak ini berusaha merangkum kata-kata utuh sebagai wakil atasnya. Sebuah pertanyaan akan ke-diri-an. Diri yang merasa elok berdiri gagah di atas tanah bersengkarut kepentingan. Diri yang keliru memahami subjek atas dirinya sendiri.

Diri, ya mungkin aku cukupkan sampai pada diri untuk kali ini. Aku sadar cermin tak mampu menjadi dewa atas segala hal. Memperbaiki hubungan dengan Khudori salah satunya. Akan aku lakukan dengan diriku sendiri. Tidak bermaksud memperlakukanmu seperti pelacur di rumah bordil, cermin. Aku akan kembali padamu esok atau hari-hari lain yang tak pernah terencanakan sebelumnya. Dengan pertanyaan yang sudah teranyam rapi dalam bingkai pengetahuan. Supaya aku tidak terlihat bodoh di depanmu, cermin.[]

 

Poskrip: Cerita ini terinspirasi dari konsep pembentukan subjek simbolik Jacques Lacan.

 

*Penulis seorang pekerja di Yogyakarta.

Ilistrasi: cdn.klimg.com

Komentar

komentar

2
Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of

nice page

Nice artikel