Puisi-Puisi Bernando J. Sujibto : Elegi Perbatasan

Elegi Perbatasan

 

Kita tak pernah benar-benar pergi

melangkah, tangan-tangan tengadah

berdiam, suara riuh memanggil dari jauh

gaung pesona, jari-jari getir bergemuruh

langit setia mengirimkan pecahan pelangi

rintih-rintih hujan, di tanah menjadi luka

darahnya disesap akar-akar pohon

tumbuh untuk nafas kita

 

Di perbatasan pula

daun-daun itu tanggal

menyimpan keringat kita

dikirim tulus ke lubuk sungai

mengalir jauh dari negeri ke negeri

kenapa tak kita hanyutkan tubuh ini

melintasi lumut dan ludah di ujung muara

bukankah di laut kita akan berjumpa?

 

Kita tak pernah benar-benar pergi

palung takdir sembunyi di hati kita

matamu basah oleh peluh tiang-tiang barak

angin liar tergenang pada wajah bocah-bocah

tanganmu melambai, mereka melangkah

bibirmu gemetar, mereka berlari

ataukah sembunyi?

 

Elegi abadi

di perbatasan

ladang ladam meriam

 

[Turki, 2013-2016]

 

 

Cermin Jiwa

               —Jalaluddin Rumi

 

Setelah baca!

dengarkan! bisikmu

 

Baca

dengarkan

baca dengarkan

langit akan terbuka

malam-malam siaga

menyingkap rahasia

 

Baca

dengarkan

baca dengarkan

lahir samudera diam

 

Di antara ramai pasar

buih-buih samudera

jerit seruling pesta

di tubuh kita

 

[Konya, 2016]

 

Note:

Baca, kata pertama dalam kitab Alquran;

Dengarkan, kata pembuka dalam kitab Masnawi karya Jalaluddin Rumi.

 

 

Dergah

 

Pada sebuah dergah, kita punya satu rumah

hati dan malam yang luas, langit terbuka embun lunas

kepada doa-doa mengalir, bibir basah berlumur zikir

kita saling merangkul diri, kembali di kedalaman ruhani

mencecap madu-madu kesunyian, jalan cinta di taman

di ujung sana Dia menunggu, kita menari biru syahdu

mengepakkan sayap-sayap putih, membisikkan kasih

Baca juga  Aib Khoirudin

dari seorang Nabi, namanya kita sebut melampaui kali

mengalir dalam darah, menyemai ke pucuk nafas istirah

 

Pada sebuah dergah, kita punya satu rumah

aku sebentar singgah, engkau jauh menujah

 

 

[Konya, Desember 2016]

 

Note:

Dergah, tempat zikir untuk kelompok tarikat

 

 

Salik

 

Wahai…

di manakah engkau

malam-malam musim dingin

saat angin menyilet nyeri kulitku?

 

Aku tinggal bersama Shemsi Tebriz, bisikmu

 

Makam berlumur misteri, di sebuah masjid

tasbih melingkar, zikir tak henti mengalir

menjadi sungai anggur

pada kesunyian

pada candumu

 

Ke Shemsi Tabriz, aku menziarahimu

engkau yang telah pergi, mengalir jauh

ke taman-taman mawar, meniti tali-tali tasbih

yang samar di mataku

 

Wahai…

bagimu, rumah adalah penjara

 

 [Konya, 2016]

 

 

Nomaden

 

Adalah mampir

siapa tak hendak pulang?

 

(Konya, 2017)

Bernando J. Sujibto. Penyair alumni PP. Annuqayah, Sumenep dan Sosiologi UIN Sunan Kalijaga. Studi sosiologi dan sastra di Turki. Silahkan ditunggu buku antologi puisi perjalanannya berjudul Rumbalara Perjalanan (April, 2017).

Ilustrasi: https://ae01.alicdn.com

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of

Send this to a friend