Oleh: Taufiqul Mujib*
Pasca digulingkannya Presiden Gus Dur, kelompok preman sipil tumbuh menguat. Karenanya, ada kebutuhan konsolidasi kelompok pro-demokrasi, termasuk jaringan pers mahasiswa. Catatan ini adalah salah satu cuplikan kisahnya.
Lpmarena.com- Pada masa kepengurusan Arena yang dinahkodai oleh Suraji Sukamzawi (PU) dan Budiono Zaini (Pemred), saya diberi misi membangun jaringan eksternal. Sebagai awalan, pada bulan April 2002, saya ditugaskan untuk menghadiri Kongres Nasional VI Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Malang bersama sejumlah kawan seperti Ismahfudi, Slamet Sinyo Fawzi, Falikul Isbah dan lainnya.
Menyiasati ketiadaan ongkos, apalagi uang saku, kami memanfaatkan koran bekas yang menumpuk di kantor Senat Mahasiswa yang bersebelahan dengan Arena. Menyamar sebagai penjual koran, kami berhasil menyelinap naik kereta api kelas ekonomi dari Stasiun Lempuyangan. Di perjalanan, ketika kantuk menyerang di tengah malam, kami menggelar sebagian koran bawaan sebagai alas untuk berselanjor dan, jika memungkinkan, sesekali merebahkan badan di sela kursi penumpang atau bordes (sambungan antar gerbong).
Namun, begitu kondektur datang hendak memeriksa tiket, kami bergegas bangkit, spontan berlagak menjadi pedagang asongan, dan dengan lantang berteriak, “Koran, koran, koran!” Trik ini kami ulangi lagi dan lagi, menumpang kereta serta mendapat uang jajan dari penjualan koran, Rp 2000 per eksemplarnya. Trik ini kami ulangi lagi dan lagi, menumpang kereta api
Setiba di Malang, kami segera menuju venue kongres. Kendati Arena telah memiliki sejarah panjang dengan jaringan PPMI, terus terang, kala itu saya buta sama sekali peta dan dinamika pers mahasiswa sehingga harus banyak belajar. Berbekal briefing singkat dari Suraji dan almarhum Jauhar La’aly, saya merangkainya dengan pengamatan lapangan kongres, baik yang resmi maupun “tidak resmi”. Dengan seksama, saya menyimak diskursus yang berkembang di belakang panggung, termasuk membaca gaya gojegan setiap orang untuk menemukan klik komunikasi lebih lanjut.
Singkat cerita, dalam kongres ini terpilihlah Rijal Asep Nugroho alias Jacky, dari Universitas Udayana sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen). Selanjutnya, sebagai amanat kongres, Jacky membentuk kabinet, di mana saya diminta memegang divisi advokasi. Dari sinilah kerja-kerja konsolidasi dimulai.
Jogja menjadi tonggak. LPM pertama yang saya kunjungi bareng Sinyo adalah Ekspresi (UNY). Di sana, kami ketemu beberapa tokoh yang sebelumnya telah aktif di PPMI, seperti Edi Sutopo, Faiz Ahsoul, dan Mustakim. Kami banyak berbincang, bikin pemetaan, dan sepakat untuk membangun “persekutuan”. Setelah itu, kami terus keliling, mengunjungi satu persatu pers kampus. Ke STPMD APMD, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (LPM Pendapa), STIE YKPN, Universitas Widya Mataram, Universitas Wangsa Manggala, Institut Pertanian (INTAN), dan Universitas Muhammadiyah. Kami juga bertamu ke LPM PASTI (Atma Jaya), dan Natas (Sanata Dharma).
Di beberapa kampus, kami menemui lebih dari satu lembaga persma. Semisal di UII, kami bersilaturahim dengan LPM Himmah dan Ekonomika (Fakultas Ekonomi). Di kampus Gajah Mada, kami beranjangsana ke Balairung, Sintesa (Fisipol), dan Mahkamah (Fakultas Hukum).
Tak lupa, sejumlah lembaga pers di lingkungan kampus UIN juga kita ajak rembugan. Ada Advokasia (Fakultas Syariah), Paradigma (Fakultas Tarbiyah), dan Introspektif (Koperasi Mahasiswa).
Safari demokrasi di masa itu bukanlah perkara mudah. Secara teknis, tantangan terbesar ya soal transportasi dan komunikasi. Di Arena, sepeda motor merupakan barang langka. Awalnya, tunggangan andalan kami buat keliling-keliling itu Suzuki merah punya Sinyo, yang beberapa kali harus didorong karena, meminjam istilah Ebin Marwi, mengalami “kematian bensin.” Alternatifnya, kami pinjam bebeknya Yusrol Hana’i.
Untunglah, tak lama setelah itu, saya mendapat kiriman motor dari orang tua. Kuda besi itu adalah Honda Astrea Star keluaran tahun 1980, yang kemudian dijuluki “Mpu Gandring”. Sejak saat itu, Mpu Gandring setia mengantar perjalanan konsolidasi, bukan hanya saya, tetapi sering pula menemani banyak kawan untuk berbagai urusan. Mulai dari perjuangan di medan pergerakan hingga pergulatan dalam medan perasaan, Mpu Gandring selalu ada, menempuh jarak dengan deru yang tak kenal lelah di usianya yang renta.
Perihal komunikasi, kami sering nitip SMS ke kawan yang punya barang mewah bernama handphone. Atau, jika dibutuhkan obrolan agak panjang, kami harus pergi ke Wartel di Kopma. Ketika antriannya panjang, kami biasanya mlipir ke kawasan Bimo Kurdo atau Papringan.

Di luar persoalan teknis, kami juga dituntut jeli menavigasi dinamika yang sudah terbentuk sebelumnya di gerakan persma. Kami harus menghadapi kenyataan bahwa perpecahan sudah terjadi, dan kami musti bertemu dengan semua pihak yang “berseteru”. Karenanya, kami tidak melulu diskusi intelektual yang ndakik-ndakik saat ngobrol. Kerap pula terselip pendekatan kekancan dan gojeg ala angkringan yang, alhamdulillah, perlahan mencairkan kebekuan komunikasi.
Alhasil, pada tahun 2002 atau 2003, sukses digelar Kongres PPMI Dewan Kota Yogyakarta. Para delegasi LPM yang kami kunjungi hadir, kendati tidak semua mendaftar sebagai anggota PPMI. Kongres berjalan lancar, dan terpilih pengurus Dewan Kota yang baru: Ahmad Nurhasyim (Paradigma) sebagai ketua, didampingi Slamet Sinyo (Arena) sebagai Sekjen. Tak berhenti di situ. Konsolidasi terus berjalan dan diperluas ke luar Jawa. Sinyo pasti punya banyak cerita perihal ini.
Hingga pada 2004, dengan kekuatan penuh, rombongan Jogja menghadiri Kongres Nasional VII PPMI di Bandung. Bertepatan dengan tahun politik, salah satu pembicaraan hangat dalam kongres adalah penentuan sikap PPMI secara organisasi terhadap Pemilu yang akan berlangsung. Perdebatan di fórum terjadi lumayan tajam. Beberapa opsi yang didiskusikan adalah boikot, tolak, dan golput. Setelah debat sengit, Kongres menyepakati bahwa PPMI mengusung isu GOLPUT terhadap Pemilu 2004. Kongres juga memilih Sekjen baru, yaitu Agung Sedayu dari Universitas Jember. Dalam kepengurusan ini, Arena kembali dipercaya menggawangi departemen advokasi nasional, Falikul Isbah duduk sebagai koordinator.
Selepas dari kepengurusan PPMI, saya kemudian lebih banyak berdinamika di gerakan agraria bersama KRP Yogyakarta, sembari berikhtiar merampungkan skripsi.
Terima kasih Arena yang sudah memberikan kesempatan belajar melalui dialektika yang tidak pernah mudah, tapi penuh romansa dan sangat berharga. Selamat untuk pencapaian usia setengah abad!
*Pernah kuliah di Fakultas Syari’ah, Jurusan Jinayah Siyasah, angkatan 1999 | Foto Arsip Arena