Lpmarena.com–Ruang terbuka hijau (RTH) di UIN Sunan Kalijaga masih dianggap kurang memadai. Beberapa RTH yang sudah ada bahkan telah dialih fungsi menjadi bangunan atau area parkir, sementara kampus sudah tidak punya lahan tambahan. Kondisi tersebut membuat lingkungan kampus semakin padat dan menimbulkan kejenuhan bagi mahasiswa.
Dina Septiana, mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), menjelaskan bahwa RTH sangat dibutuhkan mahasiswa untuk melepas penat setelah selesai mengikuti kelas. Terlebih, Dina yang kini menempuh semester tujuh merasa RTH sangat dibutuhkan untuk beristirahat setelah mengerjakan skripsi.
“RTH buat kita itu penting banget. Butuh tempat untuk istirahat, seperti taman. Tapi taman di fakultas selalu penuh,” ungkapnya saat diwawancarai ARENA pada Rabu (05/11) di Gedung FITK.
Selain untuk istirahat pasca mengikuti kelas atau mengerjakan skripsi, menurutnya, RTH dibutuhkan untuk pembuatan tugas seperti video dengan latar yang asri. Terlebih, letak kampus yang ada di pusat kota, harusnya bisa menyediakan RTH bagi mahasiswa.
Ia juga menyebut, dengan tingginya biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT), kampus mestinya bisa menyediakan fasilitas yang layak bagi mahasiswa. Dan RTH merupakan bagian dari kebutuhan mahasiswa yang sudah seharusnya diperhatikan kampus.
“Mungkin jadi nilai plus juga kalo misalnya UIN punya lahan yang hijau. Terus, biar UKT bisa sebanding sama fasilitas,” katanya.
Hal serupa juga dialami Alfafin Iktifa, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (FISHUM), mengeluhkan minimnya RTH di fakultas. Menurutnya, RTH yang ada di fakultas tidak sanggup menampung mahasiswa dalam jumlah banyak. Dengan begitu, kampus perlu menambah RTH di luar fakultas.
Ia juga menjelaskan, alih fungsi lahan dari RTH menjadi parkiran atau bangunan membuat RTH yang ada di kampus menjadi lebih sedikit. Ia mencontohkan, halaman depan Gedung Convention Hall (CH), sekarang telah dialihfungsikan menjadi area parkir. Padahal, halaman CH harusnya difungsikan sebagai RTH yang bisa digunakan mahasiswa.
“Di depan CH, di sana pohonnya sudah rimbun, luas, dan juga adem,” kata Alfafin saat diwawancarai ARENA pada kamis (27/10) di Kafe Lokanusa, Kotagede.
Dengan alih fungsi lahan dari RTH menjadi parkiran atau bangunan, tentu telah bertentangan dengan konsep ekoteologi yang diusung UIN. Pasalnya, setiap acara besar, salah satunya acara PBAK 2025, Rektor UIN Suka, Noorhaidi Hasan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa UIN akan menjadi kampus ekoteologi atau kampus hijau.
Selain itu, Sofyanudin Abdur Rasyid, pengurus Mahasiswa Pecinta Alam Sunan Kalijaga (MAPALASKA), menjelaskan jika RTH dipangkas untuk penambahan area parkir atau bangunan dianggap tindakan yang tidak solutif. Pasalnya, kampus sudah tidak punya RTH yang bisa digunakan mahasiswa.
Ia menjelaskan, minimnya RTH bisa berakibat pada kesehatan warga kampus. Udara segar di kampus menjadi semakin langka dan makin banyak polusi. Seharusnya, pihak kampus bisa menghitung polusi yang dihasilkan mahasiswa, supaya dari hasil tersebut diketahui berapa RTH yang diperlukan.
Dilansir dari Kompas.id, keberadaan RTH yang memadai sangat penting bagi kehidupan saat ini. RTH memberikan udara segar, bisa bernafas dengan lega, dan mengurangi kekhawatiran, serta baik untuk kesehatan mental. Di sisi lain, tanaman dan pepohonan berwarna hijau menimbulkan efek terapeutik, efek yang bisa memperoleh rasa nyaman atau ketenangan bagi yang melihatnya.
“Tapi nggak kelihatan dari kampus mau gimana. Sekarang cuma penghijauan, terus langsung dilempar ke Kampus Pajangan. Masih sama jawabannya dengan tahun lalu,” keluh Sofyan saat diwawancarai ARENA pada Jum’at (31/10) di Markas MAPALASKA.
Menanggapi hal itu, Mochamad Sodik, Wakil Rektor II Bidang Administrasi Perencanaan dan Keuangan, menjelaskan kampus lebih mendahulukan lahan parkir ketimbang RTH. Kondisi parkiran di beberapa fakultas perlu mendapat perhatian lebih karena sudah menggunakan bahu jalan.
Meski begitu, ia juga tidak menampik bahwa RTH di kampus ini sendiri kurang memadai dan perlu adanya penambahan. Ia mengaku, seiring dengan jumlah mahasiswa yang kian bertambah tiap tahunnya, ruang terbuka kian diperlukan. Namun, hal tersebut masih sangsi dari perhatian kampus.
“Parkirkan sudah emergency, jadi itu yang kita utamakan. Tahun depan (parkiran, Red.) begitu sudah ada dana, kita langsung mulai pembangunannya,” ujarnya saat diwawancarai ARENA pada Rabu (29/10) di Gedung Rektorat.
Meski begitu, Alfafin juga sadar lahan parkir masih menjadi masalah yang harus kampus selesaikan. Tetapi RTH juga harus tetap diperhatikan oleh kampus. Ia berharap kampus memiliki kesadaran mengenai pentingnya RTH agar menjadi tempat yang nyaman untuk warganya.
“Ternyata RTH lebih penting, karena nyumbang oksigen buat kita. Jantungnya dunia itu pohon- pohon,” pungkasnya.
Reporter Miqdam (magang) | Redaktur Ridwan Maulana | Ilustrator Nayla Aulia Qudsi (magang)