Home SASTRACERPEN Rumah Tanpa Pasir

Rumah Tanpa Pasir

by lpm_arena
Rumah Tanpa Pasir

Oleh: Dwi Scativana Isnaeni

Rumah itu telah berdiri kokoh jauh lebih lama daripada ingatan siapa pun yang tinggal di dalamnya. Tiang-tiang kayu ulin hitam menancap dalam di tepi Sungai Amba, menopang anyaman lantai papan jati yang mulai memucat dan menghitam dimakan pergantian cuaca. Di beranda depan yang luas, angin buritan selalu setia membawa aroma khas air tawar yang basah, sementara suara gemericik arus deras menabrak bebatuan menjelma lagu latar konstan yang menemani pagi hingga malam penghuninya.

Arif tumbuh besar bersama bunyi benturan air itu sejak kecil. Ketika ia terbangun mendadak di tengah malam gulita, ia tahu rumah dan keluarganya masih baik-baik saja selama sungai di bawah kolong lantai masih bernyanyi dengan ritme yang tak asing di telinganya.

Namun beberapa tahun terakhir, suara alami sungai itu perlahan-lahan menghilang dari pendengaran. Yang datang menggantikannya justru raung kasar mesin-mesin industri. Truk-truk jungkit berukuran besar datang membentuk barisan panjang sejak matahari belum sepenuhnya tinggi di ufuk timur. Pipa-pipa besi raksasa diturunkan paksa ke dasar sungai, lalu mesin pompa disel mulai menghisap butiran pasir hitam tanpa henti siang dan malam. Air sungai yang semula bening keperakan seketika berubah menjadi keruh kecokelatan penuh lumpur. Arus sungai menjadi gelisah dan liar. Burung-burung raja udang dan bangau yang biasanya sering hinggap mencari ikan di atas bongkahan batu kali jarang menampakkan diri.

Kakek sering meminta Arif mendorong kursi rodanya ke beranda, duduk diam menghadap ke arah sungai. Lelaki tua itu tidak banyak mengeluarkan kata-kata. Tatapan matanya yang mulai rabun lebih sering mengikuti pergerakan arus air yang keruh daripada memperhatikan orang-orang lalu lalang di jalan tanah.

Suatu pagi, saat sedang merapikan jaring ikan di ruang tengah, Arif mendengar bunyi derit panjang yang kering dari arah bawah lantai rumah panggungnya.

Krek…

Arif menoleh dengan cepat, menghentikan aktivitas jemarinya. Salah satu tiang ulin bagian depan tampak sedikit bergeser miring dari tempat yang semestinya.

“Kek…” panggil Arif cemas.

Kakeknya hanya mengangguk pelan tanpa menoleh, seolah-olah sudah lama menunggu bunyi patahan itu datang berkunjung ke rumah mereka. “Rumah ini sudah mulai kehilangan pijakannya, Rif.”

Arif segera merayap turun, berjongkok memeriksa kolong bangunan bawah. Dasar pinggiran sungai yang dulu dipenuhi hamparan pasir hitam padat sebagai pengunci tiang ulin kini tampak ambles jauh lebih dalam. Di beberapa bagian fondasi, pasir penopang itu telah habis terkuras, hanya menyisakan lumpur hisap yang lembek dan permukaan batu-batu tajam yang mencuat malang di udara terbuka.

“Apa tiang ini masih bisa kita perbaiki dengan ganjal kayu baru, kek?” tanya Arif setelah naik kembali ke beranda.

“Rumah kayu ini bisa saja tegak kembali, Rif, kalau kamu bisa mengembalikan seluruh hamparan pasir yang telah mereka isap dari perut sungai itu,” jawab kakeknya tenang namun sarat kepasrahan. Arif memilih bungkam. Ia tahu tuntutan kakeknya adalah sesuatu yang hampir sepenuhnya mustahil.

Ayah Arif bekerja sebagai mandor pengawas pengangkutan pasir di dermaga milik perusahaan swasta tersebut. Setiap pagi sekali ia sudah berangkat sebelum subuh menjelang dan baru kembali pulang menjelang malam dengan pakaian kerja tebal yang selalu dipenuhi oleh lapisan debu pasir kering.

“Semua kerja keras dan cemoohan orang ini Ayah lakukan demi biaya sekolah dan masa depanmu nanti, Rif,” kalimat itu sering diulang ayahnya setiap kali mereka duduk menghadap meja makan.

Arif percaya sepenuhnya bahwa ayahnya bekerja mati-matian demi menjaga dapurnya tetap mengepul. Namun, setiap kali ia berdiri di pinggir jalan menyaksikan truk-truk besar bermuatan penuh pasir sungai melintas lambat di depan pagar rumah, ia merasakan ada sebuah gejolak rasa bersalah yang sulit dijelaskan oleh logika. Ia merasa seolah-olah bagian demi bagian dari fondasi rumah tempatnya bernaung ikut terbawa, runtuh sedikit demi sedikit di dalam bak truk besi itu tanpa pernah bisa dicegah.

Sore hari, Arif kembali menemani kakeknya duduk di beranda papan. Dahulu, dari titik ini, mereka berdua sering menghabiskan waktu memancing ikan tawes menggunakan joran bambu sederhana. Kini, air permukaan terlalu pekat oleh sedimen lumpur. Ikan-ikan hampir tak pernah lagi muncul bernapas di permukaan.

“Kamu tahu kenapa struktur rumah panggung ini bisa bertahan kokoh melintasi zaman puluhan tahun, Rif?” tanya kakeknya membuka percakapan.

“Karena kualitas kayu ulin pilihan yang dipakai mendiang buyut dulu sangat kuat, kek,” jawab Arif penuh keyakinan.

Kakeknya menggeleng perlahan, melepaskan pandangannya ke bentang air. “Bukan cuma karena perkara kekuatan kayu ulinnya, nang.”

“Lalu karena apa, kek?”

“Karena ekosistem sungai ini ikut bekerja menjaganya tetap seimbang,” kakeknya mengangkat telunjuk tuanya, mengarahkannya ke batas air. “Pasir di dasar berfungsi menahan getaran dan beban tiang agar tidak ambles. Batu-batu kali besar bertugas memecah kekuatan hantaman arus saat banjir datang. Dan akar pohon-pohon beringin di tepi mengikat tanah agar tidak longsor. Semua elemen alam ini saling menjaga dalam diam. Kalau salah satu bagian kamu ambil secara serakah untuk kepentingan semen kota, maka bagian yang lain otomatis akan ikut kehilangan seluruh kekuatannya.”

Arif memandang aliran air yang terus bergerak maju membawa buih limbah. Baru kali itu ia menyadari sebuah kebenaran baru, bahwa rumah tinggal mereka sebenarnya dibangun dan dijaga bukan hanya oleh sepasang tangan manusia.

Beberapa hari kemudian, hujan lebat mengguyur wilayah hulu sejak siang hari tanpa ada tanda-tanda reda. Mula-mula hanya berupa rintik gerimis tipis, lalu intensitasnya berubah menjadi sangat deras disertai angin kencang. Aliran Sungai Amba yang biasanya bergerak tenang mendadak berubah warna menjadi cokelat pekat menyerupai susu cokelat. Arus liarnya membawa hanyut batangan bambu, sampah plastik, ranting patah, dan potongan log kayu besar dari arah hulu hutan yang gundul. Mesin-mesin pengisap pasir raksasa di tengah sungai telah berhenti beroperasi sejak siang, dan truk-truk pengangkut sudah pergi meninggalkan dermaga lebih awal.

Langit malam turun dengan cepat, mengunci pemukiman dalam kegelapan yang pekat. Arif sedang membantu ibunya menutup rapat seluruh jendela kayu ketika bunyi retakan keras kembali terdengar dari arah bawah lantai teras depan. Kali ini suaranya jauh lebih nyaring dan menghentak batin.

Krek…

Seluruh lantai papan rumah susun itu bergetar hebat, membuat lampu teplok di dinding bergoyang-goyang tidak stabil. Kakek memejamkan sepasang matanya dengan rapat, menarik napas dalam-dalam. “Sudah waktunya, Arif.”

“Apa yang sudah waktunya, kek?”

“Kita harus segera keluar dari rumah ini sekarang.”

Arif tidak membuang waktu. Ia langsung menarik tuas kursi roda kakeknya, mendorongnya dengan tergesa menuju pintu keluar arah halaman. Namun, sebelum roda depan kursi itu sempat menyentuh ambang pintu paling atas milik anak tangga, tanah di bawah fondasi rumah mereka mendadak berguncang keras akibat abrasi lateral sungai yang meruntuhkan tebing pertahanan tanah.

Suara kayu-kayu ulin yang patah beruntun terdengar bersahut-sahutan bagai rentetan tembakan di dalam gelap. Tiang bagian depan amblas masuk ke dalam tanah sungai yang amblas. Posisi lantai rumah seketika miring dramatis ke arah depan. Piring-piring porselen dan gelas seng berjatuhan dari atas rak dapur, hancur berkeping-keping di atas lantai. Dinding pembatas papan berderit-derit kencang seolah sedang mengeluarkan jeritan kesakitan yang teramat sangat.

Arif mengerahkan seluruh tenaga ototnya, berusaha menarik paksa kursi roda kakeknya ke arah atas kemiringan lantai, tetapi roda bagian depan telah tersangkut erat pada patahan papan lantai yang terangkat kaku.

“Kek! Pegangan yang kuat!”

“Lari keluar sekarang, Arif! Jangan hiraukan Kakek!” teriak lelaki tua itu kencang. Untuk pertama kalinya dalam hidup Arif, suara kakeknya yang biasa tenang terdengar menggelegar penuh kepanikan di tengah deru hujan.

Arif menolak menyerah. Ia mencoba mengangkat tubuh tua kakeknya dari atas kursi roda. Namun, struktur bangunan di atas mereka bergerak terlalu cepat. Air sungai yang meluap sudah mulai masuk menerobos celah-celah bawah rumah dengan arus yang deras. Tanah basah di tepi sungai runtuh berlubang sedikit demi sedikit menelan silsilah bangunan.

Segala kehancuran itu terjadi hanya dalam hitungan detik yang kejam. Bunyi patahan kayu ulin utama yang mengerikan terdengar berdentam. Jeritan ibunya memecah kesunyian malam, disusul suara dentuman panjang yang memekakkan telinga ketika seluruh kerangka rumah itu kehilangan sisa titik penyangga terakhirnya di muka bumi.

Bangunan rumah panggung yang selama puluhan tahun telah menjadi tempat lahir, tumbuh dewasa, dan titik berkumpulnya tiga generasi manusia itu perlahan-lahan rebah, ambruk total ke arah pusaran arus Sungai Amba yang ganas.

Arif terlempar kuat keluar menembus dinding pagar teras, tubuhnya menghantam permukaan tanah pekarangan yang becek oleh air hujan. Ketika ia berhasil siuman dan memaksakan diri untuk bangkit berdiri di bawah guyuran gerimis, rumah masa kecilnya telah berubah wujud menjadi potongan-potongan papan kayu mati yang hanyut tercerai-berai dibawa pergi oleh derasnya arus sungai menuju laut lepas.

Hujan badai baru benar-benar reda sepenuhnya menjelang fajar menyingsing. Yang tersisa di lokasi pekarangan hanyalah bekas longsoran tanah baru yang membentuk luka ceruk lebar di tepian batas air sungai. Arif berdiri mematung seorang diri di bawah sisa kabut pagi, memandangi petak kosong tempat rumahnya dahulu pernah berdiri dengan anggun. Tidak ada lagi sisa beranda tempat mengobrol, tidak ada lagi anak tangga kayu tempat bersandar, dan tidak ada lagi pohon mangga teduh yang biasa menaungi halaman mereka. Semuanya telah lenyap disapu takdir air.

Beberapa jam kemudian, matahari terbit memancarkan terik yang membakar debu jalanan. Di jalan tanah depan bekas rumahnya, barisan truk-truk jungkit milik perusahaan kembali melintas perlahan membelah kesunyian desa, seolah-olah tragedi runtuhnya sebuah keluarga semalam tidak pernah terjadi di tempat tersebut. Orang-orang upahan kembali bekerja di posnya masing-masing, dan mesin-mesin pengisap pasir kembali meraung nyaring memenuhi udara sore.

Arif berdiri membeku di pinggir jalan berbatu saat sebuah truk bermuatan penuh pasir sungai melaju perlahan di hadapannya. Butiran-butiran pasir hitam yang basah jatuh menetes sedikit demi sedikit dari celah bak besi bagian belakangnya, membentuk sebuah garis jejak tipis yang panjang di sepanjang permukaan aspal jalan.

Ia mengikuti arah jalannya jejak butiran pasir itu dengan sepasang mata yang kosong dan pandangan yang teramat panjang. Entah butiran tanah ulayat itu akan berakhir di mana nantinya—di sebuah proyek jembatan layang megah, bangunan gedung bertingkat kelas atas, atau di dalam campuran semen rumah-rumah mewah baru yang berdiri kokoh jauh dari jangkauan aliran sungai.

Satu hal yang kini ia pahami dengan saksama di dalam kepalanya, bahwa rumah tinggalnya sesungguhnya tidak pernah benar-benar runtuh hanya karena hantaman air hujan semalam. Rumah itu sudah mulai roboh secara perlahan sejak hari pertama ketika butiran pasir pengunci di bawah kakinya diambil sedikit demi sedikit oleh keserakahan industri. Selebihnya, hujan badai semalam hanyalah bertugas menyelesaikan sebuah pekerjaan kehancuran yang telah lama dimulai oleh tangan manusia sendiri.

Banjarnegara, Juli 2026

Penulis Dwi Scativana Isnaeni adalah asal Banjarnegara, tulisannya telah dimuat diberbagai media digital, zine, buku antologi. Menjuarai beberapa lomba esai dan opini, serta menulis beberapa buku. Salah satu buku yang telah terbit berjudul “Industrialisasi Budaya: Budaya Massa, Pop Art, Pop Culture, dan Perubahan Budaya Menuju Peradaban Algoritmik”. Buku Novel terbarunya “Oyot Toya Wingit” memenangkan Bilfest Award 2026 serta Novel “Suamiku Seorang Marbot” meraih Juara 1 LPM Buya Hamka, dan dalam proses penerbitan. Email: dwi.scativana23@gmail.com | Ilustrator Aileen Nazla Tiffany | Editor Wildan Humaidyi