131 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Aku terjebak di sini. Lingkaran waktu yang terus berulang… Semua sama… Tak ada beda… (Vel dalam Jamais Vu)

Lpmarena.com, Memindahkan penyakit psikologis berupa hiperrealitas tanpa kehilangan ruh, itulah yang dilakukan sutradara Jauhara Nadvi Azzadine. Zadine dan tiga aktornya menyuguhkan absurditas kehidupan yang berulang-ulang dalam pentas berjudul “Jamais Vu” di Gelanggang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Sabtu (2/4). Lakon ini menjadi suguhan pembuka Pentas Tiga Bayangan Teater Eska.

Adegan diawali di sebuah latar taman dengan sebuah bangku dan sebuah pohon ranggas yang di bawahnya tidur meringkuk seorang pria surealis bernama Vel (Ahmad Kurniawan). Dua teman karib bernama Nep (Nevy Pelawati Agustina) dan Nos (Annisa Ayu Latifah) sibuk bercakap tentang mimpi dan fakta. Tentang penyair, film, dan lainnya. Vel membatu mendengarkan mereka.

jamais2

Vel menderita Jamais Vu. Vel memiliki kelainan bahwa dalam hidupnya hanya keterulangan dan keterulangan. Ia menjalani hidup yang tampaknya berganti, tapi sebenarnya sama. “Jamais Vu peristiwa yang terus berulang sehingga meninggalkan perasaan ngeri. Penyakitnya disebut hiperrealitas. Peristiwa berulang itu hanya imajinasi atau apa,” kata Annisa, pemain Nos. Annisa sendiri mengkhususkan di pra pementasan membaca-baca tentang hiperealitas. “Setelah saya baca, saya puas dengan persepsi saya. Saya baru dapatkan itu malam tadi,” tambahnya.

Jamais Vu berawal dari sebuah berita di Prancis, ada seseorang yang punya kelainan psikis seperti Vel. Jamais Vu merupakan kebalikan dari déjà vu. Jika déjà vu berarti pernah merasa berada di suatu tempat yang emosinya sama, sehingga menganggap peristiwanya sama, di Jamais Vu peristiwanya terus berulang tapi menimbulkan perasaan lain. Seperti dalam peristiwa makan, setiap hari manusia makan. Entah di rumah, di sekolah, atau di manapun. Keterulangan ini layaknya mitologi Sisifus. “Kita serasa itu sebuah keadaan yang berbeda. Yang berulang itu tidak selalu membosankan,” kata Zadine.

Zadine membuat naskahnya berawal dari kegelisahan ingin melakukan apa? Dari rutinitas sanggar yang kuliah, bermain, bantingan, makan, usai melihat sebuah film, disambung Waiting for Godot, dirampungkannya dalam semalam naskah Jamais Vu.

Bagi Solihul Akmalia, aktor teater dari Sanggar Nuun merasa ditipu oleh pentas Jamais Vu. “Saya ingin mengungkapkan kekecewaan yang menarik. Saya nonton Jamais Vu, saya baca sinopsisnya. Kok malah kelainan psikologis. Kelainan itu lebih bermakna psikologis, saya merasa ditipu,” ujar mahasiswi yang biasa dipanggil Madam ini. Ia menambahkan, dalam sinopsis mengambil sudut pandang si Vel.

Berbeda dengan Madam, penonton lainnya, Fitri menjelaskan, dalam bahasa Prancis, Jamais Vu artinya tidak pernah melihat. “Jamais Vu terutama yang cowok (Vel), seperti masuk rohnya. Saya menikmati perannya,” kata Fitri yang dulunya pernah aktif di Teater Genta ini.

Meski pentas diulang sebanyak tiga kali, semacam teror, pentas ini menyuguhkan pertunjukkan seperti yang dijabarkan sutradara, bahwa di tengah kehidupan yang tak henti-hentinya berulang, manusia harus sampai pada kesadarannya akan hal yang berarti. Karena tak ada hal yang berarti, tak ada hal yang menarik, tak ada yang membahagiakan, hanya penantian abadi. Semacam yang dikatakan Vel, “Tidak ada yang lebih hidup selain mengulang”.

Reporter dan Redaktur: Isma Swastiningrum