Antara Suminah dan Gayatri

Saat saya pergi ke dukuh Brongkol desa Purwodadi Gunung Kidul, saya bertemu dengan seorang perempuan perkasa. Dia adalah kepala dukuh Brongkol. Ia masih muda dan bersemangat. Suminah namanya.Menjadi seorang kepala dukuh disebuah desa terpencil di Gunung Kidul tentu membutuhkan kesabaran dan kekuatan ekstra.

Ia bercerita, pada awalnya warga di dukuhnya terutama perempuan sangat sulit untuk berkomunikasi dengan orang asing atau  berbaur  dengan warga yang lain. Semisal saat acara pernikahan, perempuan warga dukuhnya susah untuk disuruh berbaur dan memilih untuk berada diluar ruangan. Begitu pula saat kegiatan pertemuan warga, hampir tidak pernah terdengar suara perempuan berbicara.

Bukan Suminah ketika melihat hal tersebut ia diamkan. Sebagai seorang kepala dukuh, ia mengajak warganya untuk berbaur, pertemuan formal ia ganti dengan obrolan santai tanpa forum resmi. Ia gali keresahan dan keinginan warganya, terutama untuk kaum perempuan. Dia mendorong perempuan didukuhnya untuk berbicara, menyatakan pendapat dan menanggalkan rendah diri. Ia bentuk kelompok tani wanita. Ia giatkan perempuan untuk ikut terlibat  dalam konservasi hutan keanekaragaman hayati dan menggalakkan penanaman umbi-umbian lokal yang mulai punah. Kini, kelompok tani wanita yang ia gagas anggotanya tidak hanya didukuhnya saja tapi meliputi tiga dukuh lainya dari desa Purwodadi.

Ketika harga melinjo yang sangat murah Rp.700,00 per kilogram,ia gelisah. Akhirnya, ia mencari tukang pembuat emping untuk mengajari warganya membuat emping mlinjo. Ia sendiri yang membuat proposal aspal jalan, pendirian PAUD, sampai untuk mencari bantuan pembuatan hutan keanekaragaman hayati ia nekat ke Dinas Kehutanan Propinsi sendiri. Waktu itu ia hanya bermodal nekat, alamat dinas kehutanan saja dia tidak tahu.

Nun jauh dibelahan dunia pertama, seorang Gayatri Chakravorty Spivak berbicara lantang tentang gagasan subaltern. Ia memang seorang lintas disipliner, tapi ia lebih terkenal dengan “ can subaltern speak”nya. Gayatri melewati batas India – Amerika, seorang internasionalis. Ia rela meninggalkan pekerjaanya yang mapan beberapa kali setahun, demi memberikan pelatihan kepada para pengajar dari suku asli di Bengala barat agar bisa mengajar  dan mendidik para siswanya agar mampu bertransformasi sendiri.

Lain Gayatri, lain pula Saminah. Saminah saya kira tidak pernah membaca esainya Gayatri. Dia hanya tamat SLTP dan menjadi pembantu rumah tangga di Jakarta bertahun tahun. tapi ia punya semangat yang sama dengan Gayatri. Warganya yang masih merasa rendah diri dan tak berani bersuara, ia wakili. Seperti yang Gayatri tuturkan “Di berbagai tempat di dunia, di sepanjang sejarah manusia, selalu ada orang-orang yang secara absolut tidak punya suara dan tidak dapat berbicara,”.

Suminah tidak seperti aktivis LSM  yang ramai dikritik dalam kurun waktu 1970-an sampai 1980-an yang dianggap menjual kemiskinan untuk mengentaskan kemiskinan pribadi. Mungkin ia juga tidak seperti Gayatri yang berbicara lantang tentang kaum subaltern. Ia hanya melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, berangkat dari kegelisahan atas kondisi lingkungan dan pengalamanya. Ia mewakili dukuh Brongkol untuk bersuara. Mewakili masyarakat dukuhnya yang hanya nggerundel untuk bersuara nyaring atas nasibnya.[anik Aveus]

 

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of