Oleh: Herdi*
Yth. Bapak/Ibu Dosen Pengampu Filsafat Sejarah DLL.
Di ruang kelas yang lebih sering “kosong” daripada dipenuhi Roh Objektif.
Salam dialektis.
Atas segala rasa yang tertunda, saya, mahasiswa yang masih percaya bahwa kuliah seharusnya ada dan terjadi akan menyampaikan sepucuk surat ini. Surat yang lahir dari pertemuan antara ekspektasi dan realitas, antara absensi dan absurditas, antara Hegel dan nihil.
Di kelas kami, sejarah berjalan pelan. Bukan karena waktu berhenti, tapi karena tidak ada yang sungguh-sungguh ingin bergerak. Dosen duduk seperti patung Yunani yang pensiun dini, menjelaskan negara sebagai Roh Objektif, padahal kami belum objektif terhadap rasa lapar sendiri. Teman-teman di bangku belakang asyik main game, sementara yang di depan pura-pura mencatat. Semua seolah hanya dituntut memahami satu hal: tugas harus dikumpulkan. Seperti itulah proses pembelajaran di ruang kelas kami—sudah menyerupai cara negara bekerja: peduli isi hatimu, asal kau patuh.
Sebenarnya saya tidak menolak seluruh isi kuliah Bapak/Ibu Dosen. Namun saya ingin mengafirmasi ulang bahwa kebebasan tidak selalu bisa dikurung dalam sistem logika. Ia bisa bersemayam di absurditas, di jeda, dan di keputusan untuk tidak menyelesaikan makalah tapi tetap datang ke kelas. Maka ketika nilai turun sebelum penyetoran, saya tertawa sinis. Bukan karena saya tidak peduli nilai, tapi karena integrasi antara penalaran dan pengajaran Filsafat Sejarah hanyalah ilusi. Dosen pengampunya tidak membaca, tidak bertanya, bahkan logika di pasang pada tubuh mahasiswanya.
Empat kali hadir dalam satu semester, salah satunya via Zoom, bukan sekadar catatan kehadiran yang buruk, melainkan bentuk pengabaian terhadap kewajiban. Kami paham bahwa dosen punya kesibukan lain. Namun ketika ketidakhadiran itu menjadi pola yang berulang, sementara tugas-tugas kuliah tetap berjalan tanpa pendampingan, jelas ini merupakan bentuk kegagalan dalam membangun ruang belajar. Yang lebih mengkhawatirkan justru bukan hanya ketidakhadiran fisik, melainkan absennya keterlibatan dosen dalam proses berpikir. Kami diminta membuat makalah panjang, dengan syarat mencantumkan referensi minimal dua buku dan dua jurnal, tetapi tanpa arahan, tanpa pembacaan, tanpa tanggapan. Dosen hanya memerintahkan, tapi tak pernah betul-betul menyimak. Lucunya, nilai sudah diberikan sebelum tulisan dikumpulkan. Maka, mahasiswa hanya menjadi mesin produksi tulisan. Tak ada bedanya dengan birokrasi yang menilai dari angka.
Padahal filsafat sejarah, setahu saya, bukan sekedar menghafal alur pemikiran Hegel atau menyalin biografi Marx. Ia adalah pembelajaran tentang waktu, perubahan, dan kesadaran yang tumbuh melalui dialog. Tapi ruang kuliah kami kering dari itu semua. Tidak ada percakapan atau dialektika di dalamnya. Yang ada justru hanya instruksi via WhatsApp, pengumpulan tugas dalam bentuk PDF, dan evaluasi akhir semester yang tak jelas dasarnya. Mirisnya, hal ini bukan hanya terjadi pada satu mata kuliah, tetapi juga pada banyak dosen lainnya.
Dalam suasana demikian, mengkritisi bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Kita perlu bertanya: mengapa sistem pembelajaran di perguruan tinggi justru memproduksi ketundukan? Mengapa dosen filsafat yang seharusnya menjadi fasilitator kebebasan berpikir, justru mempraktikan bentuk kekuasaan paling nyata, yaitu berlaku sewenang-wenangan dalam memerintah mahasiswa?
Mungkin sebagian pembaca mengalami hal serupa: dosen yang jarang hadir, sering mengganti pertemuan dengan pemberian tugas, tanpa pernah memberikan dialog interkatif. Mungkin sebagian dari kita merasa lega ketika mendapat kabar bahwa dosen berhalangan masuk kelas, sembari berkata “lumayan bisa istirahat.” Namun di balik rasa lega itu, ada yang harus kita renungkan: untuk apa sebenarnya kita mahal-mahal membayar UKT?
Maka, ketika dosen yang tidak kompeten dibiarkan mengajar bertahun-tahun, lambat laun kampus pun akan kehilangan fungsinya sebagai ruang kritis. Ia akan berubah menjadi kantor administrasi pengetahuan—UKT dibayar, tugas terkumpul, nilai keluar, dan semuanya berjalan di atas kertas. Maka tak heran bila kampus akhirnya melahirkan para sarjana maupun guru besar yang miskin pengalaman berpikir kritis.
Hegel mengatakan bahwa sejarah adalah gerak menuju kebebasan. Tapi bagaimana mungkin kami bergerak, jika dosen sendiri enggan hadir di kelas. Apakah ini bentuk kebebasan mutlak? Eksperimen pendidikan pasca-struktural? Atau sekadar manajemen waktu yang buruk? Kami tidak tahu. Yang kami tahu, tugas tetap diberikan meski dosen seperti Heidegger: ada dan tiada. Di sinilah saya secara pribadi mulai curiga dan mulai mempertanyakan. Benarkah kampus arena kebebasan? Atau justru medan di mana kebebasan dinegosiasikan menjadi formalitas belaka?
Saya jadi teringat Stirner, salah satu tokoh filsafat, yang menyebut ide tak lebih dari hantu. Kampus hari ini menyerupai hantu itu. Ia menuntut cinta dengan syarat, ingin disembah sebagai rasio, dipatuhi sebagai etika, dan dipercaya sebagai sejarah. Padahal menurut saya, kampus bukan hanya institusi, melainkan hasrat yang hidup dalam tubuh, jadwal kuliah, dalam sistem presensi online. Ia merasuk ke cara kita duduk, cara kita menjawab ujian, bahkan cara kita menyebut “kebebasan.” Karena itu, menjadi liar adalah satu-satunya jalan yang masuk akal. Liar dalam arti berani keluar dari garis, menempuh jalan setapak yang tak tercatat dalam peta kurikulum yang membosankan.
Saya tidak menuntut revolusi. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa pengajaran adalah praktik etis. Ketika dosen memilih untuk tidak hadir, ia sedang mengajarkan sesuatu. Ketika memberi tugas tanpa penjelasan, ia sedang menyampaikan Pesan. Dan ketika mahasiswa diperlakukan sebagai tenaga kerja akademik tanpa perlindungan, berarti ia sedang memperpanjang siklus kekuasaan yang membuat kampus semakin menjauh dari semangatnya.
Saya pribadi tidak mau jadi bagian dari generasi yang hanya paham Habermas tapi tidak bisa ngomong jujur ke sahabatnya. Yang tahu tesis Fukuyama tapi tak mampu mendengarkan orang tuanya sendiri. Surat ini mungkin seperti emosional. Tapi filsafat, menurut saya, tidak anti emosi. Filsafat adalah upaya memahami dunia dengan seluruh keberadaan kita, termasuk kemarahan, kelelahan, dan rasa sayang terhadap kemungkinan berpikir yang lebih baik. Maka biarkan surat ini menjadi cermin, bukan tudingan.
Jika masih ada secuil niat untuk mendidik, kami harap Bapak/Ibu dosen mau membacanya. Jika tujuan hanya hajatan atawa mengejar sangu naik haji, kampus bukan tempatnya. Terima kasih atas ketidakhadirannya baik intelektual maupun fisik. Hal itu membuat kami sadar bahwa kebebasan itu bukan diberi, melainkan harus diperjuangkan, termasuk kebebasan berpikir meski ditinggalkan.
Dengan segala hormat dan sedikit getir.
Yogyakarta 2025.
*Mahasiswa yang masih berharap sejarah tidak hanya diajarkan, tapi juga dihadiri.
Editor Ridwan Maulana | Illustrator Dzikria Al-Haq