Langgar Kelabu

Menjelang tumbangnya Orde Karno, di desamu, kau tak persis  tahu, apa yang akan terjadi setelah penghujung bulan lalu kau tuding kiaimu sendiri, Kiai Ghofar, sebagai biang kerok kemelaratan desamu. Yang jelas, hari-hari ini kau cemas melihat gelagat kiaimu yang kebakaran jenggot pada mimbar langgarnya. Langgar Kelabu.

Dan cemasmu beralasan. Hampir tiap malam pintu rumahmu yang reot tak pernah sepi dari gedoran tangan pengaku malaikat suci utusan langit. Dan bunyi gedoran itu dapat kau tangkap dengan jelas, ada aura maut disana. Tapi kau tetap menutup telingamu membujuk debar jantungmu.

Rupanya, barangkali tanpa kau sadari grafik abaimu serta debar jantung malammu bakal melewati titik klimaks. Seperti rembulan yang setiap bulannya punya purnama. Dan purnamamu bulan ini menjadi saksi bisu akan rentetan tragedi yang kau alami bakal mencapai titik klimaksnya.

Malam itu, andai kau punya jam dinding, tentu dapat kau lihat jelas jarum-jarumnya yang semakin bergerak turun gunung. Tapi jam bagi penduduk desamu yang mayoritas melarat itu adalah barang langka. Hanya orang-orang tertentu yang punya. Dan kau termasuk kebanyakan dari penduduk melarat itu. Tapi karena lewat celah dinding anyaman bambu rumahmu dapat kau lihat bayangan kawanan pohon pisang yang serempak condong kearah timur, kau pun yakin, tengah malam baru saja terlewati.

“Tok…tok…tok…” suara pintu reotmu seperti menebar gelombang kelam. Tapi kau abai seraya menenangkan istri dan anakmu satu-satunya yang masih balita. Dan istrimu amat ketakutan. Ia tahu betul, sesuatu bakal terjadi padamu, suaminya, pada keluarganya. Dan karenanya ia yang tadi mendekap bayinya kini mendekapmu. Dan kau tetap menenangkannya dengan membisikinya tentang hal-hal yang indah tentang cinta, meski kau sebenarnya tahu betul, sia-sia belaka.

“Thok…thok…thok…thok…” suara itu semakin keras. Merontokkan ulu hatimu, juga ulu hati istrimu. Hingga dapat kau rasa keringat dinginmu beleleran bersatu dengan keringat dingin istrimu. Tapi kau leaskan pelukan istrimu dan kau pun berdiri. Menenangkan debar jantung menuju pintu. Istrimu membuntutimu.

“Siapa…?” tanyamu serak terbata. Cemas!

“Aku…” jawabnya.

Gendang telingamu tak asing lagi dengan suara itu. Itu suara Sarpin. Sahabat dekatmu selama ngaji di Langgar Kiai Ghofar. Ia santri yang taat pada Kiai itu hingga ia dipercaya mengurus sawah-kebunnya–seperti kau dulunya. Tapi untuk lebih meyakinkan, kaupun bertanya lagi.

“Aku? Aku siapa?”

“Brakk…” pintu ditendang oleh salah satu dari tiga orang yang semuanya berbadan besar bersarung berpeci.

Kau pun terpaku. Dalam remang cahaya purnama kau tahu Sarpin ada diantara mereka. Tapi, mengapa kau begitu kasar denganku, pikirmu.

“Sar…Sar…Sarp..pppin…? Kau Sarpin kan?”

“Gak usah Sarpin-sarpinan. Ayo keluar!” bentaknya.

Kau hanya terpaku. Dan kakimu kaku dan tubuhmu beku dan fikiranmu kacau. Sabda apalagi yang mampu merubah kawan jadi musuh seganas ini? Seburuk inikah aturan-Mu Tuhan jika memang mereka menuruti perintah-Mu lewat lidah orang-orang suci-Mu? Dan mereka merangsek masuk dan memaksamu keluar rumah.

Dan istrimu menjerit histeris. Merangkulmu dari belakang. Dan jeritan itu tak terdengar oleh tetanggamu karena kau memang tak punya tetangga. Rumahmu terpencil di pojok desa.

“Ayo…!” bentak Sarpin dengan menudingkan goloknya kearah lehermu. Kau lemah. Kau tak mampu melawan tiga utusan suci itu.

Dan mereka merenggut istrimu. Menggemplangkannya hingga dahinya berdarah terjedot tiang bambu. Dan kau mau melawan. Tapi golok menempel pada lehermu.

“Laela. Istriku… jangan lukai istriku. Kurang ajar kau!”

“Diam!”

Dan mereka mencekal kedua tanganmu seraya terus menyeretmu. Menelusuri remang jalanan berumput berbatu.

“Mau kaubawa kemana aku Pin?”

“Diam saja kau lelaki Kafir!”

“Ha…Kafir?”

“Sudah diam. Hanya Kafir yang menghina Ulama.”
***

Di Langgar Kelabu, mereka menghadapkanmu pada Kiai Ghofar, menundukkanmu. Memang, di hadapan orang suci, orang kotor wajib menunduk, mereka yang tak menunduk berarti menghina. Dan menghina orang suci kafir hukumnya.

Tampak beberapa santri mengintip di balik pintu dibalik jendela. Tapi ada pula yang terang-terangan memposisikan diri di belakang Kiai membawa golok. Mengerikan!

“Sendika dawuh Kiai. Sesuai fatwa kiyai, Marwan sudah kami bawa” ucap Sarpin sebagai pemimpin gerombolan sambil duduk membungkuk di hadapan Kiai.

“Bagus… Bagus…”

Dan Kiai melambaikan tangan kiri, menyuruh tiga orang itu pergi ke belakangnya.

“Wan, maksudmu bagaimana?” nada keras keluar dari kiyai Ghofar dengan mata memerah memandangmu. Kalau biasanya ia berwajah Ridlwan, murah senyum, kini menjelma Izrael. Malaikat maut.

“Maksud Kiai?” tanyamu.

“Kata santri-santriku, kau menudingku sebagai biang keladi kemelaratan desa ini. Kau pula yang menganggapku setan berjubah. Apa maksudmu?”

Kau diam.

“Ayo jawab!”

Kau tetap membisu.

“Apakah maksudmu kekayaanku ini? Asal kau tau Wan. Tiap tengah malam sampai pagi aku rela berdingin-dingin menyembah Yang Kuasa. Kupanjatkan rasa syukur dan do’a. Tak ingatkah kau waktu kau masih sering subuh di Langgar ini? Berapa jam aku berzikir memuji-Nya? Kau tak boleh iri dengki menebar fitnah kesana dan kesini Wan. Ini anugerah Allah.”

Ia menghela nafas. Memalingkan wajahnya dari mukamu. Menengadah. Mengahadap langit. Dan mulutnya komat-kamit mengucap Hamdalah, hauqolah dan entah bacaan apa lagi.

“Coba kau pikir. Pikir Wan. Apa tidak wajar jika Allah teramat murah pada hamba-Nya seperti aku. Kau tahu kan? Tiap pagi tiap sore, kuajari penduduk jahiliyah ini akan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Kuajari mereka sopan santun dan tata kerama. Kalau mereka kelaparan mereka datang padaku, kukasih mereka jagung atau beras. Mereka datang butuh pekerjaan, kusuruh mereka menggarap sawah atau kebunku. Lalu kubayar mereka sepantasnya. Kurang apa aku? Jawab Wan!”

“Tapi Kiai. Tapi…”

“Tapi apa?”

Dengan tanganmu yang dibelenggu kau sungguh gemetaran. Tapi karena tekadmu terlanjur bulat, kaupun berani membantah Kiai. Kiai yang karismatik itu kau bantah, kau hinakan.
“Kiai…” kau hela nafasmu dalam-dalam. Bagai dawai panah yang ditarik kencang untuk meluncurkan anak panahnya. Meluncurkan gumpalan dendammu.

“Dulu, gara-gara kau iming-imingi kekayaanmu, Laela tak mau kunikahi karena takut pada orang tuanya yang menyuruh memilih menikahimu walau jadi istri yang ketiga. Dan selanjutnya, selanjutnya kau buang ia begitu saja karena kauanggap mau mencuri kekayaanmu. Menghancurkan karismamu.

Kau ingat kan? Betapa aku cemburu kala kulihat kau membelai wajahnya di serambi rumahmu. Sakit kiyai. Sakit. Sungguh. Dan akhirnya aku tetap mengawininya setelah kau ceraikan dia.”

“AstaghfirulLah Wan. Bukankah Laela sendiri yang memilihku untuk dijadikan suami karena aku lebih alim lebih solih lebih kaya dari orang-orang sepertimu. Dan tentu saja tawarannya kuterima karena aku kasihan melihatnya hidup dalam kemelaratan. E, e, dikasih hati merogoh rempela. Ya sudah, buat apa punya istri yang berani melawan suami. Kucerai saja dia. Biar tau rasa Wan. Biar jadi pelajaran baginya kalau jadi istri itu harus nurut pada suami. Bukankah itu mendidik Wan? ”

“Kiaiii…kiai…!” Ucapmu sinis dengan ujung kata yang menukik. Biar sekalian sinis! Rupanya kau merasa kalau nanti pasti santri-santrinya akan menghajarmu. Karena itu kau tumpahkan uneg-uneg beserta hasutan dan dendammu pada Kiaimu sendiri.

“Rupanya ilmumu yang kau gembar-gemborkan itu tak mampu menembus relung hati seorang perempuan. Kau kira perempuan dicipta hanya untuk menjadi budak nafsumu?
Kau memang Kiai busuk! Kau setan! Kekayaanmu, ilmu agamamu, kesalihanmu malah menutupi hati nuranimu. Kau tahu kan? Penduduk desa ini melarat semua karena apa? Karena kau. Karena kau didik mereka menjadi abdi-abdimu dengan menggembar-gemborkan janji-pahala dan Barakah. Ya, barakah. hingga seringkali mereka bahkan bertikai berebutan sisa makanan atau minumanmu. Dan kau malah tersenyum bangga. Bukankah begitu Kiai? Kau punya sekian puluh hektar tanah ini hasil dari mana? Bukankah dulu kau sengaja membikin situasi penduduk desa ini menjadi penghutang seumur hidup lalu pada menyerahkan sawahnya padamu? Apakah itu sesuai dengan Alquran dan Alhadis yang kau bacai tiap pagi petang?”

Kiai tertusuk hatinya. Tubuhnya bergetar. Tak tahu ia mau mengucap apa. Mulutnya komat-kamit tak jelas. Tak hamdalah tak hauqolah. Tuhan, apa salahku hingga Kau jadikan muridku sendiri mendurhakaiku, barangkali begitu dalam hatinya.
Dan santri-santrinya yang dari tadi mengintip di balik langgar dibalik pintu di balik jendela membawa apa saja, kini terbakar amarahnya melihat kiai pujaannya kau hinakan. Maka bagi mereka kau kafir, murtad. Dan orang murtad halal darahnya. Dan membunuh orang murtad mendapat pahala, meski teman sendiri.

Terdengar takbir bergemuruh dari mulut para santri. Dan Kiai hanya diam membisu. Dan kediambisuan Kiai seperti memberikan restu pada santri-santrinya untuk menghabisi nyawamu. Dan kau melawan. Tapi kau seorang tak punya daya. Kau pun diringkus dihantam digebuk. Dan entah apalagi yang dilakukan massa terhadapmu. Dan tubuhmu remuk redam. Sekujur kulitmu lebam. Dan darah merembes menetes mengalir dari celah-celah lubang hidung mulut telingamu. Juga membanjiri pori-porimu. Tapi kau tetap masih hidup, meski kau tak mampu walau hanya untuk sadarkan diri. Takbir berhenti.

Dan Laela, istrimu, datang dengan menggendong anakmu. Memelukmu dengan derai airmata cinta. Dan kau akhirnya mati. Dan anehnya: jasadmu semerbak mewangi. Maka, teman-temanmu yang menghakimimu pun semua jadi lunglai. Mereka sadar dan akhirnya menyesal. Lalu mereka rela merawat mayatmu hingga jasadmu dikuburkan.
***

Setelah kejadian itu Kiai sering termenung sendiri. Lalu sering sakit-sakitan. Hingga akhirnya di suatu hari ia sakit keras. Parah. Keluarganya membiarkannya karena selain di daerahnya tak ada rumah sakit kiai sendiri tak mau diobati ataupun sekedar disuntik. Dan dalam sakit parahnya, kiai seringkali mengigau memanggil-manggil namamu. Dan kau tak penuhi panggilannya karena kau sudah mati.

Maka, bulan itu, kiai yang sakitnya sudah sangat parah akhirnya mati. Tapi sebelum mati ia meninggalkan pesan buat santri-santinya. Pesannya singkat jelas: “Kuburkan aku dekat makam muridku: Marwan!”

Ya, itu saja. Dan akhirnya santri-santrinya memang memenuhi pesannya tanpa perdebatan sedikitpun. Semuanya setuju. Di samping kuburanmu, tanah pun digali buat mengubur jasad kiai. Para santrinya ramai-ramai mendoakannya, juga mendoakanmu.
***

Tiga puluh dua tahun kemudian.

Awal november, kulihat Langgar Kiai yang sudah berantakan itu direnovasi oleh Muballigh pendatang atas bantuan pemerintah. Ia bukanlah Muballigh yang kaya raya. Tapi seorang alim yang sersahaja. Yang bertekat bulat untuk mendermakan hidupnya demi membebaskan masa kejahiliyahan penduduk setempat.

Namun tak seperti dulu. Tak seperti waktu kiai Ghofar menjadi pengasuh Langgar itu. Karena muballigh itu tak punya taring demi menggigit perhatian massa. Fatwanya hambar nyaris tak didengar. Dan aku hanya miris, tak bisa apa-apa.

Akhir november, kuinjakkan kakiku yang entah kesekian kalinya kedalam pekuburan ini. Pekuburan dengan dua tokoh guru-murid yang punya lelaku berbeda. Lelaku yang kadang bertolak belakang. Yang akhirnya sama-sama terlupa. [Ahmad Taufiq]

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of