Rotasi Asa

Minggu Pertama di Bulan Maret, Tahun 2012

“Ra, jangan lupa tugas hari ini. Resume tentang pengertian orientalisme.”

Seperti biasa, Nadia layaknya assistant-ku yang selalu bawel mengingatkan tugas-tugas kuliahku. Padahal, semalam suntuk aku membaca buku-buku filsafat lantaran pagi ini aku musti presentasi. Ya, kelompok perdana. Sering terdengar di daun pendengaranku, rangkaian kalimat begini bunyinya: mahasiswa ya harus suka membaca, membaca apa saja. Apa jadinya kalau mahasiswa bisanya cuma ngomong doang, bla bla bla. Omongannya ngawur. Yah, nggak ada maknanya tho kalau asal ceplas-ceplos. Setiap apa yang diungkapkan itu sebaiknya ada dalilnya. Jangan hanya kosong doang. Haha, kadang aku heran, kenapa harus membaca.

“Hum, boro-boro. Hari ini aku presentasi pertama Neng. Jam setengah delapan. Huh.”
Sambil kurapikan seabrek buku ilmiah yang tercecer di lantai aku pura-pura “santai” menanggapi Nadia. Kebiasaan buruk yang entah sampai kapan aku menyadari untuk bisa lebih rapi dan konsisten dengan tekadku sendiri.

“Ahaha. Jangan terlalu serius lah Neng. Biasa aja, kayak baru kali pertama presentasi aja sampai dibela-belain begadang semalaman. Hum, inikan semeseter empat. Jadi setidaknya udah berpengalaman. Haha.”

Dengan santai, tiduran di atas kasurnya yang bermerk sigma, Nadia membalas tanggapanku. Dia memang sulit mengerti.

“Bukan masalah pengalaman atau belum berpengalaman Neng. Dan justru karena kita udah semester empat. Dituntut lebih aktif, kritis and berbobot dong isi makalah and penyampaian presentasinya juga. Apakah sama mahasiawa semeseter dua dengan kita yang semeseter empat?! Different Neng.”

Tampaknya amarahku mulai terpancing. Payah, pagi-pagi udah emosi. Jadi ingat teman SMA-ku dulu. Nuha namanya. Dia sering berucap: Rara, jangan marmos dong! Tanyaku kemudian berlagak blo-on, apa itu Ha?! Jawab Nuha: marai (bahasa Jawa) emosi. Atau kalau kamu tidak tahu, biar aku yang translate ke bahasa Indonesia; bikin marah.

“Oke Neng, sepakat dah. Cayo pokoknya. Go sarjana, go!”

Nadia mengimbangi sikap sensiku. Yang akhir-akhir ini semakin sering terlihat saja. Padahal ini masih awal bulan. Hum. Apa pengaruh aku yang bersandang “Semester empat” ya?!

Minggu Kedua di Bulan Maret, Tahun 2012

Terngiang di daun pendengaranku, seorang guru sastra ketika aku mengenyam pendidikan setingkat SMA. Atau Mr. James (nama asli: Mr. Jamal) biasa menyebutnya: Senior High School tentang habit yang kebanyakan orang menganggap remeh, namun pada akhirnya bisa merubah tittle seseorang. Apa itu. Mari simak untaian kalimat yang terucap melalui bibirnya yang tipis:

“Sastra, tahukah kau kekuatan sastra?! Sepanjang sejarah, sejalan dengan berotasinya peradaban ini, sastra tidak pernah lekang di setiap perbincangan. Sastra mampu merubah dunia. Sastra mampu menghadirkan ketentraman dalam jiwa. Sastra mampu menghidupkan kembali gairah hidupmu yang mungkin berada dalam ambang keputus-asaan. Dan sastra, akan tetap bisa melestarikan bumi kehidupan ini selama kalian bisa menulis, menulis dan menulis. Dengan menulis, eksistensi sastra akan tetap melekat di perputaran sejarah dunia. Karena sejatinya, dengan tulisan, maka apapun akan abadi laksana sejarah yang terus menghiasi roda-roda kehidupan manusia. Dengan sastra, maka keindahan tutur kata-kata yang kau rangkai, menjadi lebih bermakna. Buktikan. . . buktikan. . . buktikan.”

“Kan. . . kan. . . kan”, itu yang menggaung di daun telingaku. Sesekali kupejamkan mata untuk bisa mengingat pesan Bu Mima, biasa aku dan teman-teman memanggilnya. Seketika itu pula, bersegera aku untuk membangunkan badanku dari bermalas-malasan dengan spring bed-ku. Kucari-cari “sesuatu”, kusibukkan tangannku membolak-balik tumpukan makalah yang kian hari, kian menumpuk. “Mana ya?!” gumamku sendiri. Kebetulan Nadia tidur lebih awal. Biasanya dia belum bisa mengarungi samudera mimpi jika jam di dinding kamar kost-ku masih menunjukkan sekitar pukul 22:00 WIB. Dan kebiasaanku masih sama, tidak akan beranjak tidur sebelum slogan hidupku terpenuhi: satu hari, satu puisi.

Raut wajahku sumringah, ketika kedua bola inderaku memaku melihat note-book (buku catatan) yang berukuran sedang berwarna hijau tosca itu. “Aha, ketemu juga akhirnya.” Tanpa menunggu detik berdetik, kubuka lembar demi lembar yang terukir antologi puisiku. Terhitung sejak bulan Januari, atau tepatnya dua bulan yang lalu di tahun 2012. Kutulis puisi-puisi “sederhana” ini dengan pencil-tic berwarna merah menyala. Warna ini memang sengaja aku pilih, keuntungannya: supaya mataku bersemangat untuk membaca. Yah, minimal bisa menghargai karya sendiri.

Aku senyum-senyum sendiri. Kuteruskan membaca satu per satu dari puisiku dengan seksama dan tentunya berlagak mendramatisir setiap bait-baitnya. Judul-judul yang kupilih cukup menggelitik, tapi yang paling membuatku tergetar-getar dan dag dig dug itu puisiku yang di pojok kanan atas bertengger sebuah judul: “Istana Pengantin.” Kata orang, yang kayak gini ni, bikin klepek-klepek. Lupa kewajiban. Kewajiban apa?! Senyuman yang tersimpul di bibirku mulai surut. Bayangan sibuknya menjalani perkuliahan, juga segudang tugas dan gambaran masa depan ketika gelar sarjana menjadi sebuah tanda sebagai manusia terdidik, mengusik melayangku. Akupun mulai mendengus pelan: “Setidaknya aku punya kesibukan yang bagiku cukup menghibur hari-hari di sini. Yah, dengan sastra aku merasa sangat terhibur. Dan aku, akan tetap melakukannya diam-diam. Aku tahu, Tuhan mengawasi gerak-gerik lakuku.”

Minggu Ketiga di Bulan Maret, Tahun 2012

Hiburan yang paling real ketika kepenatan mulai melanda: situs jejaring sosial, facebook. Dan aku lebih nyaman melakukannya di kamar ini. Usai log in, mataku memusat di icon “message.”

*Anin Sahara Sasmaja
Ra, kapan main ke Jakarta?!
Reuni SMA di Jakarta aja, sekalian main-main lah, hiburan. Jangan di Jogja terus. Haha. 
Gimana Ra?! Owh ya, aku udah kunjungi blog-mu. Semalem aku juga baca-baca posting-an kamu terdahulu. Oke-oke Ra, puisi yang kamu tulis juga. Wah, tinggal diseriusi aja. Haha.

*Ronald Galau
Hei Cin, kamu kuliah dimana?
Semester berapa?
Makasih udah konfirm!

*Komunitas Sastra
Dalam sebuah catatan:
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama dia tidak bisa menulis maka dia akan dilupakan oleh sejarah.” (Pramodiea Ananta Toer)

*Reza Agustian
Ra, bulan April aku gajian.
Bilang ibu aku kirim satu juta.
Kabarku di sini baik, semoga kalian juga sehat.
Jangan lupa, kuliah yang tekun.
Jangan pacaran.
Kakakmu-

Aku tak karuan. Facebook hari ini membuatku bertanya-tanya. “Adakah kekuatan kata-kata bisa menjungkir-balikkan perasaanmu, prasangkamu, dan aktivitasmu yang terkesan biasa-biasa saja serta monoton?!” kurenungi inbox perlahan, kugerak-gerakkan mouse dan mengulang-ngulang membaca. Anin, teman SMA-ku yang selalu memberi motivasi untuk menulis dan menjadi penulis. Dia teman yang baik. Ronald, entah siapa dia. Teman baru dalam dunia maya. Komunitas sastra, ya seringkali membangkitkan gairah menarikan pena di atas selembar kertas kosong. Reza, Mas Reza. Dia kakakku yang kini merantau di ibu kota negara, Jakarta. Kemauannya yang kuat untuk bisa mencari pengalaman dari pekerjaan, memisahkan aku dan dia dengan jarak yang cukup jauh. Bahkan aku mulai acuh tak acuh pada kakak kandungku sendiri. Padahal pesan ibu: “Kalian harus saling membantu satu sama lain.”

Minggu ke Empat di Bulan Maret, Tahun 2012

Waktu terus berjalan, hari-hari menjelma menjadi hitungan minggu. Dan sudah pasti kalender dengan pergantian bulan segera aku balik dan pampang di atas meja belajarku. Sebuah “kalender duduk” souvenir dari kosmetik wardah. Terlalu banyak yang harus dipikirkan. Terlalu rumit urusan-urusan fana yang harus diperhitungkan untuk bisa berjumpa dengan: kesuksesan. Tapi musuh nyata kita yang mau tidak mau harus diwaspadai ialah sesal! Kucoba menengok catatan kalender lampau. Kulirik majalah dindingku dengan back-ground potoku berbalut kerudung arabian berwarna biru dongker, warna vavoritku. Dengan tulisan berhuruf kapital, mengisyaratkan sebuah gertakan untuk melangkah ke depan lebih pasti dan penuh pertimbangan.

Tulisan itu: “Siapa aku di tahun 2020?!” di bawahnya, sebagai anak gagasan juga tertera sebuah kalimat pemantik: “Sikapmu, Tingkahmu, Tutur Katamu adalah Cerminan Masa Depan!” benakku mulai mencari-cari siratan makna dari tulisan itu. Ada dengusan sesal yang bersumber dari relung dadaku. Selama kesempatan masih bersanding dengan usia kita dari Tuhan, adakah kata terlambat?

Sina El Samara, penulis adalah Mahasiswa program Studi Tafsir Hadist, fakultas FUSAP Semester 4.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of