Renungan untuk Hari Kemerdekaan

Lukisan berjudul "Peace of Mind" karya Deddy PAW dalam pameran Ibu Pertiwi.
Lukisan berjudul “Peace of Mind” karya Deddy PAW dalam pameran Ibu Pertiwi.

Lpmarena.com, Semangat nasionalisme dihadirkan dalam Pameran Lukisan dan Patung bertajuk “Ibu Pertiwi” yang diadakan oleh Jogja Contemporary. Kegiatan ini dilaksanakan di Bentara Budaya Yogyakarta dari8-17 Agustus 2014. Menghadirkan karya lima seniman berbakat Indonesia,Deddy PAW, Made Wiradana, Anggar Prasetya, Laksmi Shitaresmi, dan Wahyu Sentosa.

Rismilliana Wijayanti, manager Jogja Contemporary mengatakanacara ini semacam perenungan sebelum hari kemerdekaan. “Kalau karya-karya seniman orang Indonesia itukan nilai nasionalismenya tinggi, tapi kemudian kita lihat nasionalismenya yang seperti apa? Nasionalismenya disini itu lebih ke bagaimana mereka menuangkan pemikirannya ke karya memakai ikon-ikon yang Indonesia sekali,” tukasnya. Ia menambahkan nilai nasionalisme yang dimaksud bukan tentang propaganda, tetapi bagaimana nasionalisme itu lebih merasuk dalam (jiwa).

Lebih lanjut Rismilliana menjelaskan judulpameran lebih memilih “Ibu Pertiwi” daripada “Indonesia” karena  jika “Indonesia”itu hanya sebatas label. “Indonesia itu label aja, tapi kalau Ibu Pertiwi itu lebih sampai ke dalam. Lagunya kan kulihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati air matanya berlinang… Sekarang yang disedihkan ibu pertiwi itu apa sih? Itu kemarin yang dimunculkan sama Romo Sindhu ketika membuka pameran ini,” jelas Rismilliana.

Nasionalisme Para Seniman

Lima seniman menyuguhkan karya dengan ciri khas masing-masing. Deddy PAW dalam setiap karyanya menghadirkan sosok Buddha yang mengajarkan tentang persatuan dan kedamaian. Deddy dengan apel enigmatis-nya lebih banyak bermain akan teka-teki, kemiteriusan, simbol, tanya, juga mitos apa yang tersembunyi dalam buah apel. Seperti yang tecantum dalam kisah-kisah Adam-Hawa, Injil, Fatimah Az Zahra, mitologi Yunani, dan lain-lain. Apel sebagai simbol keabadian, cinta, kekuatan, kesempurnaan, kecantikan, kesehatan, dan sebagainya.

Meski Deddy muslim, ketika ditanya kenapa Buddha? Ia menjawab karena Buddha merupakan tokoh teladan universal bagi semua agama. “Kebetulan saya rumahnya kan dekat dengan candi Borobudur  saya ingin memperkenalkan contoh manusia teladan yang dekat dengan saya. Bukan tentang agamanya, tetapi tentang ajaran-ajaran baik. Buddha itu ya agamawan, ya Nabi, ya orang bijak,” tambah seniman yang juga pernah menjadi wartawan seni di Harian Media Indonesia selama 16 tahun ini kepada ARENA (11/8).

Baca juga  Lukisan Sebagai Komunikasi Antar Budaya

Saat memasuki pintu pameran, pengunjung disuguhi dua patung orang tradisional karya Wahyu Santosa. Patung setinggi 2,7 meter ini memperlihatkan potret kesenian tradisional Indonesia yang diberi judul Kuda Lumping dan Kendang.

Berbeda dengan Laksmi Shitaresmi, dalam karyanya Laksmimenyiratkan gagasan akan kolektivitas dalam bangsa yang dinamis. Seperti pada patung berjudul Spirit of Life #1. Dalam patung ini ada dua anjing berwarna merah, yang satu dinaiki seorang gadis yang membawa setumpuk buku, satunya dua orang gadis yang tengah memainkan bola. Anjing yang seolah menjadi stigma diubah oleh Laksmi dari yang berkonotasi buruk menjadi tujuan baik. Tidak hanya anjing tetapi juga sosok babi seperti dalam patung berjudul Ritual Bath dan Tidurlah Pulas, Anakku. Patung sekeluarga babi itu seolah bicara bahwa negara itu dasarnya adalah keluarga. Kita diajak kembali kepada basis, dasar, yakni keluarga.

Tak kalah menarik ada karya lukisan surealis Anggar Prasetya dengan semangat refleksi politik dan kepemimpinan Indonesia. Seperti dalam lukisannya yang berjudul DT XXXV, DT XXXVII (Atasan yang Terperangkap, DT XXXIX (Peti),dan Grafiti Tanpa Makna. Juga karya-karya lukisan Made Wiradana yang menggambarkan metamorfosa hewan, kondisi, atau keadaan sosial. Seperti dalam lukisan Made yang berjudul Horse dan Nyanyian Pagi.

Menarik untuk dipertanyakan lagi: “Setelah merdeka lalu apa?”. Atau jangan-jangan benar apa yang dikatakan Dr. Hatta: Sebelum merdeka kita banyak cita-cita, setelah merdeka kita kehilangan rupa.(Isma Swastiningrum)

Editor : Ulfatul Fikriyah

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of