Home BERITA Aksi Rakyat Memanggil: Pendapatan Ojek Online Menurun Akibat Kenaikan Harga BBM  

Aksi Rakyat Memanggil: Pendapatan Ojek Online Menurun Akibat Kenaikan Harga BBM  

by lpm_arena

Lpmarena.com–Aliansi Rakyat Memanggil gelar aksi di simpang tiga jalan Gejayan pada Sabtu (13/06). Aksi tersebut dilatarbelakangi oleh kebijakan pemerintah yang semakin tidak berpihak kepada rakyat, salah satunya adalah naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sangat berdampak pada pekerja ojek online (Ojol).

Qudwah Muhammad Amin, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga sekaligus pekerja Ojol, menuturkan kenaikan harga BBM sangat membawa dampak besar bagi dirinya. Pasalnya, kenaikan harga BBM membuat pendapatannya sebagai pekerja Ojol justru berkurang. 

“Dampaknya ke pendapatan yang seharusnya itu bisa mencukupi untuk sehari,” tegasnya.

Ia menilai, kenaikan harga BBM juga turut berdampak pada melemahnya daya beli masyarakat. Pasalnya, dalam kurun waktu 10 jam bekerja, pendapatannya tidak sampai 100 ribu. 

Dilansir dari Tempo.co, risiko terbesar dari kenaikan harga BBM Pertamax dinilai bukan lonjakan inflasi, melainkan pelemahan daya beli masyarakat dan perlambatan konsumsi yang menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi.  Kenaikan harga Pertamax terhadap inflasi relatif terbatas. Pertamax bukan bahan bakar utama yang digunakan angkutan umum maupun distribusi logistik, sehingga kontribusinya terhadap inflasi umum tidak sebesar bahan bakar bersubsidi. 

“Orderan yang seharusnya lebih banyak yang masuk jadi bisa berkurang setengahnya,” ungkapnya. 

Qudwah mengaku pendapatannya banyak terpotong hanya untuk membeli BBM. Sementara itu, harga kebutuhan pokok terus melonjak membuat penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Ia juga menganggap sistem pengupahan yang diberikan aplikasi tidak sesuai dengan risiko kerja. Aplikasi yang mengaku sebagai mitra justru lebih banyak mengambil keuntungan dengan memotong penghasilan yang seharusnya didapatkan pekerja Ojol.

“Ongkos itu tidak terpatok hujan, macet, atau jauh. Harganya relatif sama. Itu kan kalau kita bolak-balik itu kayak bensin berkurang banget,” katanya. 

Nuril Atieq, salah satu massa aksi sekaligus perwakilan Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), menilai bahwa kenaikan harga BBM memiliki efek domino panjang. Pasalnya, kenaikan harga pada Pertamax tak hanya berdampak pada penggunanya, tetapi turut berdampak terhadap pekerja Ojol. 

“Tentunya bukan cuma bagi Ojol, tetapi bagi rakyat Indonesia pun akan sangat berpengaruh utamanya atas kenaikan sembako dan bahan pokok. Apalagi ditambah dengan melemahnya nilai rupiah terhadap dolar,” ujarnya. 

Tidak hanya itu, Nuril juga menilai Ojol menjadi punya beban ganda yang harus dipikul. Ojol sebagai pekerja informal belum dinaungi payung hukum. Padahal, Ojol menjadi pekerja informal dengan jumlah paling dominan.

Ia meminta pemerintah perlu segera memberikan payung hukum terhadap para Ojol. Pasalnya, selama bekerja dengan risiko tinggi, pekerja Ojol tidak diberikan jaminan keselamatan kerja dan jaminan hidup layak.   

“Itu tentu menjadi pukulan telak bagi Ojol,” ungkapnya. 

Qudwah berharap pemerintah membuat regulasi yang mengatur hak-hak pekerja informal seperti Ojol. Pasalnya, pendapatan pekerja Ojol tidak sebanding dengan risiko kerja yang harus dihadapi.

“Kenapa mereka (pekerja Ojol) bekerja malam? Karena kebutuhannya banyak sementara upahnya minim. Belum cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Makanya mereka sampai malam,” pungkasnya.   

Reporter Alif Abdurrahman | Redaktur Ridwan Maulana | Fotografer Ailen Nazla Tiffany