Simulasi yang mestinya menguji kesiapan sistem pendaftaran pra-KKN justru menguji mahasiswa. Minimnya informasi dan praktik lempar tangan antar lembaga menyisakan kebingungan dan hilangnya kesempatan memilih lokasi KKN yang diinginkan mahasiswa.
Lpmarena.com–Rangkaian Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2026 telah berlangsung sejak Maret lalu. KKN kali ini dibuka di beberapa wilayah selain dalam provinsi, seperti luar DIY dalam Jawa, luar Jawa, hingga luar negeri. Di balik riuh KKN ke-120 itu, ARENA menemukan permasalahan dalam proses pendaftaran pra-KKN.
Pada Selasa sore (24/03), sehari sebelum pendaftaran pra-KKN luar DIY dalam Jawa mestinya dilakukan, portal pendaftaran pra-KKN terbuka dan dapat diakses mahasiswa. Kejadian ini memunculkan kebingungan dan menjadi bola liar di kalangan mahasiswa.
Kondisi tersebut dirasakan Muhammad Azril, salah satu mahasiswa Ilmu Hadits. Setelah mendapat kabar dari salah satu temannya, ia lekas membuka portal pendaftaran pra-KKN dari ponsel miliknya.
Setelah berhasil login menggunakan Nomor Induk Mahasiswa (NIM), Azril antusias mencari lokasi KKN yang sedari awal ia inginkan. Sayangnya, beberapa lokasi yang ia hendak pilih telah dalam kondisi penuh. Akibatnya, Azril terpaksa memilih lokasi KKN dalam DIY.
“Pas dibuka, yang dimau (lokasi yang diinginkan, Red.) sudah habis. Kan maunya di luar kayak Malang, Batu, Wonosobo, Temanggung. Nah itu sudah habis,” jelasnya saat diwawancarai ARENA pada Selasa (28/04) di selasar Gedung Multipurpose.
Tindakan itu sepenuhnya ia lakukan lantaran kabar burung yang ia terima dari temannya. Di sisi lain, dirinya juga sangat menyayangkan tindakan pihak Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) yang dinilai kurang informatif dan transparan.
“Kalau ada simulasi setidaknya mungkin ada (informasi, Red.) di postingan,” ungkapnya.
Keluhan serupa dialami Sabrina Gaitanjani, mahasiswa Program Studi Ilmu Alquran dan Tafsir. Ia sempat kebingungan. Setahunya, pendaftaran baru akan dibuka keesokan harinya. Namun, khawatir tidak mendapatkan lokasi yang diinginkan, Sabrina akhirnya ikut mendaftar melalui portal yang telah terbuka lebih awal.
“Orang-orang panik, kok udah dibuka di SIA? Semua orang udah pada milih, aku buka di SIA udah pada habis slot kloternya, tinggal di beberapa tempat,” ungkap Ega, sapaan akrabnya.
Malam harinya, melalui postingan Instagram sekitar pukul 22.00 WIB, LPPM mengklarifikasi masalah tersebut. Diketahui, pembukaan portal pendaftaran pra-KKN merupakan pelaksanaan simulasi sistem. LPPM turut menyampaikan bahwa seluruh data mahasiswa yang telah menginput pendaftaran pra-KKN akan direset.
Mendengar kabar tersebut, Ega mengaku lega.
Jauh sebelum persoalan ini mencuat, LPPM lebih dulu mengubah jadwal pendaftaran pra-KKN. Berdasarkan unggahan akun Instagram resmi @lppm.uin.suka pada 11 Maret, pendaftaran pra-KKN luar DIY dalam Jawa dijadwalkan pada 18-21 Maret, sedangkan pra-KKN DIY tahap 2 pada 25-27 Maret.
Namun, sehari sebelum pendaftaran pra-KKN luar DIY dalam Jawa dimulai, tepatnya Selasa (17/03), LPPM mengumumkan penyesuaian jadwal. Dalam takarir unggahan itu, LPPM menjelaskan bahwa perubahan jadwal dilakukan sehubungan dengan libur Idulfitri sekaligus untuk memudahkan koordinasi dengan Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (PTIPD) dalam mengantisipasi serta penanganan potensi kendala sistem selama proses pendaftaran pra-KKN.
Imbas penyesuaian itu, pendaftaran pra-KKN luar DIY dalam Jawa diundur menjadi 25-28 Maret, sedangkan pendaftaran pra-KKN DIY tahap 2 dijadwalkan pada 30-31 Maret.
Sistem Baru atau Carut-Marut Baru?
ARENA mewawancarai Muhammad Toriq Nurmadiansyah, Koordinator Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) untuk mendapat kejelasan. Toriq memaparkan bahwa pendaftaran pra-KKN yang dibuka pada Selasa sore (24/03) adalah simulasi sistem yang baru.
Dalam wawancara yang dilakukan pada Jumat (05/06), Toriq menyampaikan bahwa terdapat pembaruan pada sistem pendaftaran pra-KKN. Menurutnya, sistem baru itu merupakan hasil evaluasi dari sistem pendaftaran KKN tahun lalu yang dinilai tidak efektif karena terdapat mahasiswa yang telah mengikuti KKN konversi dan masih tercatat sebagai pendaftar KKN reguler.
“Sebelumnya kan nggak pernah (simulasi, Red.), baru pertama kali ini kita coba dengan sistem baru itu supaya tidak crowded seperti sebelumnya. Yang bikin crowded apa? Yang konversi (KKN konversi, Red.) ” ungkapnya.
Memastikan sistem baru tersebut dapat bekerja maksimal, Toriq sekaligus LPPM meminta PTIPD selaku pengelola situs untuk melakukan simulasi sebelum pendaftaran pra-KKN dapat diakses pendaftar. Menurutnya, LPPM sekadar berwenang untuk menetapkan waktu simulasi.
Senada dengan itu, Abdul Qoyum selaku ketua LPPM menyebut bahwa simulasi ini ditujukan untuk mengantisipasi masalah pada situs yang baru. Simulasi pendaftaran pra-KKN tersebut, kata Qoyum, seharusnya hanya terjadi dalam selang waktu 10 menit. Alih-alih demikian, situs pendaftaran pra-KKN justru terus terbuka sampai pukul 10 malam.
Lebih lanjut, Qoyum menceritakan simulasi pendaftaran pra-KKN dibuka sejak sekitar pukul 10 pagi. Sekitar pukul 18.00, ia mengaku baru menerima informasi mengenai banyaknya mahasiswa yang telah menginput pendaftaran pra-KKN. Ia lekas menelepon PTIPD untuk menutup portal yang baru benar-benar berhenti di sekitar pukul 22.00 WIB.
“Ternyata yang daftar sudah 1950, saya minta PTIPD mereset semua dengan risiko yang harus saya terima. Toh kalau saya hapus saya dicaci maki, kalau enggak saya hapus saya juga dimaki-maki mahasiswa yang belum dapat lokasi. Saya balik pada prinsip awal aja,” jelasnya saat diwawancarai di ruangannya pada Kamis (30/04).
Menindaklanjuti hal tersebut, ARENA menemui Shobirin selaku pemrogram aplikasi pendaftaran pra-KKN dari divisi Sistem Informasi Akademik PTIPD. Shobirin membenarkan bahwa sistem pendaftaran pra-KKN menggunakan sistem baru yang belum pernah diuji coba. Atas permintaan LPPM, dirinya menjalankan simulasi hingga pukul 22.00 WIB.
Selama simulasi berlangsung, portal tersebut menampung ribuan pendaftar. Dirinya juga menjelaskan bahwa LPPM juga mempunyai akses untuk mengontrol sistem tersebut dan dapat menjalankan secara mandiri sehingga tidak membutuhkan bantuan dari pihak lain.
“Harusnya kalau udah ketahuan banyak mahasiswa yang daftar, mereka (LPPM, Red.) bisa tutup sendiri karena sudah ada fitur yang bisa diakses,” ujarnya saat diwawancarai ARENA pada Jumat (05/06) di gedung PTIPD.
Keterangan yang diperoleh ARENA menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara LPPM dan PTIPD mengenai pihak yang mestinya bertanggung jawab dalam pelaksanaan simulasi.
Setelah kejadian itu, LPPM meminta PTIPD untuk melakukan reset data yang diperoleh selama simulasi pendaftaran. Namun menurut Shobirin, proses tersebut tidak mudah dilakukan.
Pasalnya, data pendaftar pra-KKN dalam DIY tahap 1 yang dilakukan pada 11 Maret telah tercampur dengan data pendaftar tahap 2. Akibatnya, penghapusan data tahap 2 berpotensi menghapus seluruh data pendaftar tahap 1.
Mengikuti perintah LPPM, Shobirin akhirnya hanya mereset data pendaftar pra-KKN luar DIY dalam Jawa. Sementara data pendaftar KKN dalam DIY tidak mengalami perubahan sama sekali.
“Karena itu kita reset, semua lokasi di pendaftaran luar DIY dalam Jawa itu kita hapus,” tegasnya.
Keesokan harinya, pada Rabu (25/03), pihak LPPM melalui Abdul Qoyum mengadakan sosialisasi melalui siaran langsung di Instagram LPPM. Dalam siaran itu, dirinya kembali mengklarifikasi sekaligus menjelaskan kronologi kesalahan teknis dalam proses simulasi semalam. LPPM juga turut menyampaikan kebijakan terkait pengaturan ulang data mahasiswa yang telah mendaftar lokasi KKN.
Kebijakan tersebut menimbulkan pertanyaan dan keluhan dari sejumlah mahasiswa yang telah mendaftar lokasi tertentu dan ingin mengubah pilihannya.
Azril dan Ega sangat menyayangkan simulasi pendaftaran pra-KKN tidak diinformasikan dahulu, yang kemudian menjadi embrio pendaftaran ke lokasi yang tidak ditujunya. Alih-alih dapat diubah, pilihannya justru tetap tercatat dalam sistem. Kesempatan untuk memilih lokasi yang sedari awal mereka incar benar-benar tertutup rapat.
“Misalkan mau ada simulasi, sebelumnya dibuatkan informasi supaya kita tidak miskomunikasi lah. Kita maunya ini kok gara-gara simulasi jadinya berbeda,” pungkas Azril.
Reporter Rizqina Aida | Redaktur Wildan Humaidyi | Ilustrator Iqbal Farraz