Bela Negara Versi Jepang

Saya rasa tidak ada yang tidak tahu negara Jepang. Negara dengan berbagai kemajuan. Dikenal sebagai negara yang mampu bangkit dengan cepat setelah kekalahannya terhadap sekutu. Film ini menceritakan bagaimana pemerintah Jepang memperkuat pertahanan negaranya.

Suasana Jepang mulai menegangkan sejak adanya teror yang dilakukan oleh dua orang remaja, Nine dan Twelve. Dua remaja yang usianya sekitar 17 tahun ini menyamar sebagai Sphinx dalam melakukan aksi terornya, mengebom fasilitas-fasilitas penting yang ada di Jepang, terutama di Tokyo. Sebelum meledakkan bom, mereka selalu melemparkan teka-teki yang harus dijawab oleh pemerintah Jepang. Setiap bom diledakkan, tidak akan ada satu nyawa yang menjadi korban. Semua itu sudah diatur oleh mereka karena misi mereka hanyalah meneror, bukan membunuh.

Aksi teror mereka bukanlah tanpa alasan, sepuluh tahun yang lalu Nine dan Twelve merupakan anak panti asuhan Auschwitz. Ada 26 anak yang menghuni panti asuhan. Mereka semua tidak mempunyai nama karena mereka adalah anak buangan yang tidak pantas mempunyai nama. Mereka dipanggil berdasarkan urutan nomor dari 1-26 yang disematkan kepada mereka.

Pasca Jepang kalah terhadap sekutu, Akademi Kebangkitan Perdamaian, perusahaan farmasi, institute penelitian saraf, dan organisasi medis Jepang membentuk sebuah proyek “Athena” dengan tujuan mendidik anak-anak yang berbakat. Proyek tersebut diketuai oleh Mamiya Shunzo, seorang politikus Jepang yang dikenal sebagai monster pusat politik Jepang. Mereka mengidolakan orang yang terkena sindrom savant. Sindrom savant dikenal dapat membuat kemampuan aritmatika, penghafalan, musik, dan karya seninya melebihi hal yang lain. Meski mempunyai kemampuan hebat, orang yang terkena sindrom savant tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain.

Akhirnya mereka membuat sindrom savant buatan demi menciptakan manusia dengan kemampuan di atas normal. Dikarenakan obat yang digunakan bekerja efektif pada anak yang berusia di bawah umur lima tahun, maka proyek tersebut dipraktikkan di panti asuhan Auschwitz. Dua puluh tiga anak panti asuhan meninggal akibat uji coba sindrom savant buatan. Dua anak lainnya melarikan diri, Nine dan Twelve. Hanya ada satu yang berhasil yaitu Five. Namun, proyek Athena tidak bertahan lama dikarenakan pemerintah Amerika mengetahuinya. Selain membubarkan proyek Athena, pemerintah Amerika juga membawa Five pulang ke Amerika untuk dijadikan badan intelejen Amerika.

Baca juga  Sumpah Pemuda, Nasionalisme, dan Omong Kosong Bela Negara

Sedikit menengok pada sejarah, peristiwa pengeboman Hiroshima-Nagasaki pada tahun 1945 ternyata membuat bangsa Jepang begitu lumpuh. Kondisi negara saat itu diselimuti kemiskinan, keadaan sosial yang carut-marut, gangguan mental penduduk yang berkepanjangan. Dalam mengatasi kondisi buruk itu, Jepang memperkuat ketahanan negaranya. Ketahanan negara yang coba ditunjukkan oleh film ini adalah dengan cara membentuk proyek Athena. Seperti yang diucapkan oleh Mamiya:

“Dulu Tokyo seperti ladang terbakar. Sudah hampir 70 tahun sejak perang berakhir, bagaimanapun negara (Jepang) telah dikalahkan. Bahkan sekarang pun negara ini masih seperti pecundang yang tidak mempunyai martabat. Negara harus menjadi independen. Itulah sebabnya proyek Athena dijalankan. Dengan menciptakan manusia yang kecerdasan dan kepekaannya melebihi dari manusia biasa, dan membuat mereka menjadi senjata yang paling berguna. Meski rencana Athena gagal, tetapi mereka menjadi dasar yang baik bagi negara.”

Pembentukan proyek Athena sebagai ketahanan negara ternyata hanya sebuah bualan belaka, omong kosong. Ternyata Mamiya beserta anak buahnya merupakan seorang pengusaha. Mereka mempunyai perusahaan nuklir. Sebagian dari mereka juga menduduki jabatan di pemerintahan. Dengan demikian, mereka memanfaatkan posisi di pemerintahan untuk mengeksploitasi SDM anak-anak dengan dalih memperkuat ketahanan negara, padahal hanya untuk kepentingan pasar semata.

Jika Jepang mempunyai proyek Athena untuk ketahanan negaranya, Indonesia juga mempunyai program ketahanan negara yang diberi nama “Bela Negara”. Program yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan publik bertujuan ingin menghapus tindakan melawan negara, lebih tepatnya tindakan mengkritisi negara. Rakyat disuruh berprasangka baik atau dalam istilah religinya disuruh ber-“husnudzon” terhadap negara dengan dalih ikut menjaga keamanan negara. Di sini negara menjalankan perannya sebagai ideology state apparatus. Bahwa negara membentuk ideologi rakyat demi kepentingan negara. Jika negara sudah mampu menyetir rakyat, maka kepentingan negara akan mudah terwujud. Padahal setiap kepentingan negara belum tentu kepentingan rakyat. Bahkan, bisa saja kepentingan negara justru akan mengorbankan rakyat, seperti yang dilakukan oleh pemerintah Jepang dalam film ini.

Baca juga  Kepiting Heike

Di akhir film, Setelah beberapa kali melakukan teror, akhirnya Nine menyerahkan diri kepada pihak yang berwenang (polisi). Sebelum menyerahkan diri, Nine meluncurkan bom nuklir terakhir. Bom yang diledakkan di udara ini membuat Jepang menjadi gelap. Pemadaman listrik tak bisa dihindari. Jepang seakan-akan mengulangi peristiwa pengeboman Hiroshima-Nagasaki. Semua itu sengaja dilakukan Nine. Ia lebih suka Jepang dengan kegelapannya dari pada dengan kemajuannya merampas hak hidup orang lain.

Meski akhirnya Nine dan Twelve tidak bisa mengungkapkan rahasia kekejaman para pejabat yang tidak bertanggung jawab, perjuangan mereka tidak sia-sia. Setahun kemudian setelah kematian Nine dan Twelve, rahasia yang telah tersimpan rapi itu terbongkar berkat Shibazaki. Shibazaki seorang detektif yang bersedia melanjutkan perjuangan mereka, lebih tepatnya melanjutkan untuk menegakkan kebenaran.

Judul Film: Zankyou No Terror │Sutradara: Shinichiro Watanabe │Durasi: 11 Episode X 24 Menit │Tahun: 2014 │Genre: Anime

 

Imroatus Sa’adah, mahasiswa Ekonomi Syari’ah, FEBI. Saat ini penulis sedang mengumpulkan uang recehan untuk pergi ke Jepang, ingin membuka angkringan di bawah pohon sakura.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of