Noe Letto: Belajar dari Guru Bangsa Tjokroaminoto

Lpmarena.com, Sabrang Mowo Damar Panuluh (36), salah satu produser film Guru Bangsa: TJOKROAMINOTO mengaku visi-misi dari pembuatan film ini adalah ingin menunjukkan sosok Tjokroaminoto. Dia merupakan pemimpin Sarekat Islam, organisasi resmi Bumi Putera terbesar saat itu.

Dari rumahnya terlahir politikus-politikus besar di Indonesia, seperti, Soekarno (proklamator kemerdekaan Indonesia), Kartosoewiryo (cikal bakal pemimpin DII), Sema’oen (cikal bakal pemimpin PKI), dan lainnya.

“Kenapa kita memunculkan Tjokro? Karena kita pengin menghargai proses. Tumbuhan-tumbuhan dia dihargai, dibanggakan kalau sudah dia berbuah. Tapi jangan lupa ketika menanam dan memupuk itu juga proses yang sangat panjang dan harus dihargai juga,” kata Sabrang dalam diskusi film yang dilangsungkan di laboratorium karawitan Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta, Sabtu (19/12).

Sabrang juga mengaku bahwa itu merupakan proses yang tidak mudah. Sebab, ketika membicarakan sejarah Indonesia masa itu, paling tidak ada dua puluh tokoh penting harus ditulis. Jika dua puluh tokoh tersebut diangkat semua, menjadi tidak jelas film tersebut filmnya siapa.

“Ada beberapa tokoh yang harus dieliminasi. Dia bertemu Tan Malaka, dan sebagainya. Agar bisa film ini ditonton alurnya dengan mudah,” tutur Sabrang yang juga kerap disapa Noe, vokalis band Letto ini.

Ketika ditanya kenapa tiba-tiba mengangkat Tjokroaminoto setelah sebelumnya ada juga film Jokowi, Soekarno, dan di toko-toko buku, buku tentang Tjokroaminoto sangatlah jarang. Sabrang mengatakan bahwa jika Indonesia hanya berurusan kemerdekaan dan Soekarno, jangan lupa bahwa Soekarno juga memiliki guru.

“Kita pengin menarik kebelakang, bahwa indonesia juga punya sejarah yang pernah menjadi biji dan nggak tahu-tahu lahir. Dia pernah memiliki guru besar yang melahirkan Soekarno. Soekarno hebat, betul. Tapi kata orang pidatonya Soekarno baru setengahnya Tjokro,” ungkapnya.

Riset yang sulit

Sabrang mengaku salah satu proses paling rumit dalam pembuatan film ini adalah ketika proses riset. Data yang pengumpulannya memakan waktu sekitar dua tahun itu bersumber dari Belanda, lokal Indonesia, dan bahkan sampai mencuri foto kopi dari arsip nasional karena tidak boleh dipinjam. Sementara, dibutuhkan data yang seakurat mungkin, karena Tjokroaminoto hidup pada masa yang sangat strategis. Ketika dia naik, hampir belum ada politikus di Indonesia.

“Memang salah satu proses paling ruwet adalah ketika proses riset. Pak Tjokro tidak memiliki buku harian yang bisa digali. Riset berjalan hampir dua tahun lamanya sebelum produksinya dimulai,” ungkapnya.

Datanya sendiri didapat selama dua tahun. Data yang dikumpulkan bersumber dari Belanda, lokal Indonesia. “Bahkan kita sampe nyolong-nyolong foto kopi dari arsip nasional, karena nggak boleh dipinjem to? Jadi pake jalan belakang, difoto kopi. Kasihan, mau belajar pahlawan sendiri lewat jalan belakang,” terang Sabrang.

Film yang juga disutradarai oleh Garin Nugroho yang dikenal dengan visual teller, bukan story teller . Menurut Sabrang, garapan Garin gambarnya sangat berbicara, tapi secara story Garin harus dijaga. “Kalo Mas Garin kan gambarnya sangat berbicara, artefak-artefaknya sangat berbicara. Tapi secara story Mas Garin harus dijaga,” ungkapnya.

Reporter: Syakirun Ni’am

Redaktur: Isma Swastiningrum

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of