Home BERITA Bualan Ekoteologi: Sampah Wisuda Menumpuk

Bualan Ekoteologi: Sampah Wisuda Menumpuk

by lpm_arena

Di tengah masifnya kampanye ekoteologi dan kesadaran lingkungan oleh kampus, pelaksanaan wisuda masih menyisakan persoalan pengelolaan sampah yang masih buruk.

Lpmarena.com–Buket bunga, boneka wisuda, makanan ringan, hingga minuman kemasan sekali pakai tampak dibawa oleh para keluarga wisudawan. Pedagang musiman juga turut serta menjajakan aneka makanan, minuman, dan atribut perayaan memenuhi sejumlah titik di area gedung Multipurpose (MP) dan halaman fakultas.

Wisuda merupakan salah satu agenda besar yang diadakan oleh UIN Sunan Kalijaga. Namun, agenda tersebut masih menyisakan masalah dalam hal tata kelola sampah. Pada wisuda periode Mei yang digelar Rabu dan Kamis (20-21/05), meski kampus sedang gencar-gencarnya mengusung konsep ekoteologi, acara tersebut justru memproduksi banyak sampah yang jauh dari konsep dan nilai-nilai ekoteologi. 

Di balik kemeriahan tersebut, ramainya aktivitas jual beli dan snack konsumsi wisuda yang disediakan kampus turut menghasilkan timbunan sampah yang tidak sedikit. Plastik kemasan, kotak makanan, botol minuman, kantong belanja plastik, hingga buket menjadi jenis sampah yang paling mudah ditemukan di area wisuda.

Ketika keramaian berangsur reda, jejak perayaan itu masih tertinggal di berbagai sudut kampus. Terlebih, di halaman gedung MP sampah terlihat berserakan bahkan sampai malam hari. Ilfas Satria Nur Alamsyah, salah satu mahasiswa Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI), mengaku masih menemukan banyak sampah saat melintas di depan gedung MP setelah waktu Isya.  

“Di MP itu masih terpasang tenda. Masih ada kursi-kursi yang belum diberesin. Di sana berserakan sampah banyak banget,” ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi paradoks bagi kampus yang selama ini aktif mengampanyekan isu lingkungan. Dalam beberapa tahun terakhir, isu ekoteologi dan kesadaran lingkungan kerap dibicarakan kampus dalam berbagai kegiatan. Penelitian, pengabdian masyarakat, maupun forum-forum ilmiah, kampus terus mendorong pentingnya kepedulian terhadap lingkungan. 

“Kampus yang emang menggaung-gaungkan penghijauan-penghijauan, kenapa masih seperti itu (menggunakan wadah makanan dan minuman sekali pakai)? Bahkan ketika saat acara formal yang meluluskan mahasiswanya,” ujarnya kepada ARENA pada Rabu (03/06) di FUPI.

Pada beberapa tempat sampah pilah, sampah yang seharusnya dipisahkan sesuai jenisnya justru tampak bercampur. Alhasil, fungsi pemilahan tidak berjalan sebagaimana mestinya dan menyebabkan area di sekitarnya tampak kotor dan menimbulkan bau.

Temuan tersebut sejalan dengan pengakuan Dasilan, petugas kebersihan gedung MP. Ia menerangkan bahwa pemilahan sampah berdasarkan jenisnya memang belum diterapkan dalam proses pengelolaan sampah sehari-hari.

“Nggak ada. Pemilahannya cuma kardus sama botol aja yang kami simpan dan kami ambil,” ujarnya saat diwawancarai ARENA pada Kamis (04/06) di gedung MP.

Ilfas juga menilai tempat sampah yang disediakan kampus tidak ditempatkan di lokasi strategis. Hal itu membuat pengunjung dan mahasiswa malas untuk membuang sampah pada tempatnya. 

“Menurutku, penempatan tempat sampah harus punya daya tarik,” pungkasnya. 

Fotografer/Penulis Akhla Alfarah | Redaktur Ridwan Maulana