Masih Relevankah Wacana Feminis di Era Saat Ini?

Masih Relevankah Wacana Feminis di Era Saat Ini?

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Oleh: Anis Nadhiroh*

Pertanyaan dalam judul saya ini selalu dipertanyakan oleh kawan-kawan yang beberapa kali duduk ngopi bersantai bersama saya. Di setiap tempat jika berbicara soal pergerakan perempuan tidak terlepas dari kerelevansian wacana di era yang serba modern seperti sekarang ini.

Bagaimana mereka tidak bertanya, soalnya sekarang ini perempuan sudah memiliki akses dan kontrol. Perempuan sudah memperoleh ranah pendidikan yang telah diperjuangkan oleh beberapa pergerakan perempuan di era Kartini yang menamakan komunitasnya “Kartini Fonds”, kemudian disusul beberapa pergerakan perempuan dari berbagai daerah di Indonesia. Perempuan saat ini juga sudah memperoleh tuntutan yang telah diajukan ketika kongres perempuan pertama di Yogyakarta pada 22-26 Desember 1928, sehingga tanggal 22 Desember dijadikan landasan sebagai Hari Ibu. Pemerintah juga sudah menetapkan Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang batas minimal usia pernikahan, dan beberapa tuntutan yang dahulunya perempuan tidak mendapatkannya. Termasuk masalah hak pilih bagi perempuan sebagai anggota badan-badan perwakilan. Lantas apalagi yang diperjuangkan perempuan saat ini?

Bung, Jeng, Perjuangan perempuan untuk masalah seperti yang disebutkan mungkin sudah tuntas untuk era saat ini. Pun jika kita melihat dengan tidak kasat mata memang seperti itu adanya. Okelah mungkin beberapa perjuangan kaum perempuan tersebut hingga saat ini sudah terpenuhi, tetapi masih ada beberapa hak perempuan yang masih terampaskan. Misalnya masih ada beberapa pabrik yang memberi upah kepada perempuan lebih rendah dibanding laki-laki. Tidak hanya itu, sekarang juga masih marak poligami yang dilakukan oleh laki-laki. Kalau kita meninjau dari berbagai dalil Al-Quran memang hal itu diperbolehkan, tapi saran saya kajilah ulang alasan ayat tersebut turun. Dan perlu dilihat pula, para penafsir itu apakah berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Dan lebih parahnya lagi, diskriminasi gender sangat dirasakan di daerah yang amat kental budaya patriarkinya, khususnya daerah pedesaan yang menuntut perempun harus mengekor keberadaannya ke laki-laki.

Baca juga  Eksistensi Angklung di Yogyakarta

Okelah, saat ini kita hilangkan dikotomi identitas jenis kelamin laki perempuan. Karena berbicara soal feminis bukanlah berbicara soal jenis kelamin, tetapi bicara feminis itu adalah bicara perjuangan. Perjuangan yang dilakukan oleh mereka baik laki-laki maupun perempuan yang SADAR atas diskriminasi yang terjadi saat ini. Toh hal yang kita kritisi pun sama, sistem kapitalis, sistem yang mendiskreditkan salah satu jenis kelamin, sistem yang melakukan pelanggaran HAM.

Jika boleh saya berkata pedas, gagasan-gagasan pada paragraf kedua itu hanyalah gagasan mereka yang berpikiran dangkal. Bagaimana tidak, terakhir ini ada beberapa Peraturan Daerah (Perda) khususnya daerah Yogyakarta yang mendiskreditkan posisi perempuan. Misalnya Perda tentang kepelacuran. Isi Perda tersebut isinya terkait pendiskreditkan perempuan yang memiliki identitas sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK). Apakah mereka yang menyusun Undang-undang tentang Perda tersebut memikirkan keadaan ekonomi para pelacur tersebut? Kalau mereka berpikir panjang, mana ada perempuan yang mau menjual badannya di setap permintaan dari laki-laki hidung belang itu? Mana ada perempuan yang mau bersakit-sakitan untuk melayani laki-laki demi sesuap nasi. Mana pemerintah memikirkan hal itu? Pun dengan isu yang beredar soal LGBT yang saat ini sedang hangat, hingga kita melupakan kasus Freeport yang merupakan kasus esensial yang kita perjuangkan akhir-akhir ini. Hingga kemarin pemerintah berhasil mengeksport Freeport tertanggal 3 Februari silam. Kita kecolongan Bung/Jeng.

Tapi tak apalah bagi mereka yang beranggapan bahwa perjuangan kawan-kawan feminis itu adalah hal yang sia-sia, yang rela berbusa-busa meneriakkan tuntuttannya waktu memperingati hari perempuan se-dunia di Malioboro kemarin. Buktinya masih ada pelanggaran Perda terhadap sisi kemanusiaan manusia. Jika mau berbicara soal revolusi, revolusi berawal dari perjuangan kecil Bung. Apa masih mau bertanya lagi untuk kerelevansian perjuangan kawan-kawan feminis untuk saat ini?

Baca juga  Hari Perempuan

 

*Penulis anggota Barisan Perempuan (Baper) 2015 UIN Suka. Tulisan ini untuk memperingati International Woman’s Day 8 Maret silam.

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of