Kritik Human Trafficking dalam “Bulan Mendung”

“Seperti bulan, manusia memiliki dua sisi, gelap dan terang. Di mana kemunafikan, angkara, dan kenistaan bagai penyakit yang menjalar dalam setiap sel tubuh, teridap, dan sulit disembuhkan. Bagaimanakah bila sisi yang gelap itu diselimuti mendung?” (Bulan Mendung)

Lpmarena.com, Di dalam rumahnya, Drupadi tengah melipat pakaian sambil bersenandung langgam Jawa. Cahaya temaram seperti hendak memperlihatkan kondisi rumah tangga Drupadi bersama suaminya Puntadewa yang dililit hutang. Duryudana, tokoh antagonis yang memberi hutang pada Puntadewa datang ke rumah suami istri ini, tapi Puntadewa yang tidak punya apa-apa, yang kerjanya sering mabuk dan menyia-nyiakan Drupadi tak tahu harus membayarnya dengan apa. Maka jalan satu-satunya yang ditawarkan oleh Duryudana untuk membayar hutang adalah ginjal Drupadi.

bm2Foto: Adegan ketika Puntadewa berjudi dengan Duryudana (Bulan Mendung).

Seperti inilah sepenggal sinopsis dari pertunjukkan teater berjudul “Bulan Mendung” sutradara Edita Purwa dan naskah karya Indah Hijrina. Pertunjukkan kedua dari pentas laboratory 2 repertoar setelah pertunjukkan Asmaradahana oleh Komunitas Luweng yang dihelat di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta, Sabtu (7/5).

Pertunjukkan yang berlangsung sejak pukul 20.11 WIB dengan durasi pentas sekitar satu jam ini merupakan proyek garapan anggota baru Komunitas Luweng. Aktornya terdiri dari: Sinar, Ongki, Indah, Sinta, Ida, Angel, Fika, Kiki, Poppy, dan Dita. Dengan Penata musik Romi dan Thomas. Proses penggarapan Bulan Mendung memakan waktu dua bulan.

Bulan Mendung  diangkat dari cerita wayang dalam kisah Baratayudha. Di mana Edita Purwa selaku sutradara menceritakan kisah ini berawal dari perselisihan antara Puntadewa dan Duryudana memperebutkan Drupadi (istri Putadewa). “Itu memang ada di dalam wayang, lalu kami ambil dalam kisah teater ini dengan garapan surealis,” kata Purwa.

Baca juga  Noise On 2019: Kritik Terhadap Bangsa yang Sakit

bm3

Foto: Adegan preman yang mencari rumah Puntadewa (Bulan Mendung).

Bulan Mendung menceritakan tentang human trafficking atau penjualan manusia. Dalam pentas digambarkan bagaimana Puntadewa kalap dan kalah oleh permainan judi di kantor Duryudana. Puntadewa mengorbankan tak hanya uang dan sertifikat tanah, tapi juga istrinya sendiri, Drupadi. “Pesan yang ingin disampaikan adalah sifat manusia yang sebenarnya itu lebih buruk dari binatang. Kalau dia itu kalah, kalau dia itu tidak berproses hidup dengan baik,” tutur Purwa.

Purwa melihat human trafficking di era sekarang semakin mengkhawatirkan, bahkan ada yang human trafficking manusia tak hanya dijual, tapi juga diperkosa dan dikeluarkan organ ginjalnya.  Ditambah perjudian manusia semakin biasa di jaman sekarang. “Memang saya mendengarnya langsung dari teman saya. Ini saya tergelincir untuk mengejek orang-orang agar peka dengan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Reporter dan Redaktur: Isma Swastiningrum

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of