Mempertemukan Komik dengan Apa Saja

Komik biasanya dinikmati di atas kertas. Namun, oleh Kukomikan  komik diubah ke dalam aksi mural sebagai media kritik atas isu-isu lokal di Yogyakarta, khususnya Gunungkidul.

Komik adalah gambar bercerita, dari sini Ku-komik-kan bergerak mempertemukan komik dengan apa saja. Dirintis sejak tahun 2000 yang mulanya merupakan nama sebuah studio komik independent dan seni rupa publik. Kukomikan beranggotakan kurang lebih 13-an orang. Kukomikan aktif berjejaring dengan beberapa komunitas seni di Gunungkidul dan komunitas lain. “Kukomikkan itu mengkomikkan asline,” ucap Chrisna Wiskhak Nugroho  salah satu anggota Kukomikan saat diwawancarai ARENA di Warung Kopi Kendi, Senin (18/07).

Chrisna menceritakan anggotanya berasal dari Wonosari yang diketuai oleh Ismu Ismoyo, seorang guru yang juga aktif berkesenian di bidang seni rupa. Ini bukan komunitas dan bukan organisasi, hanya kumpulan orang-orang yang mau menggambar. Tidak ada open recruitment di dalam Kukomikan, tidak ada laporan pertanggunjawaban, ataupun struktur keorganisasian, semua kegiatan berjalan secara kultural.  Kegiatan dari Kukomikan awalnya adalah hanya kegiatan mural.  “Komik itu tidak hanya komik yang berhenti di kertas. Namun, bisa dikembangkan di tembok dan dibuat kompilasi komik,” kata Chrisna.

Dalam setiap mural yang dikerjakan Kukomikan berisi kritik, misalnya tentang tambang batu kapur di Wonosari yang pernah disuarakan dalam project mural “Pulang Kampunk” kedua berjudul “Truck Biangane”. Project mural “Pulang Kampunk” sendiri dibuat selama enam tahun berturut-turut dari 2005-2011. Selain itu, Kukomikan juga pernah ikut menggambar Jogja Ora didol. “Ning jogja kui sek ‘Jogja ora didol’ kita pernah nggambar,” tambah Chrisna mengenang. Aksi mural terakhir oleh Kukomikan di Grha Sabha Pramana di acara Hari Anti Narkotika Internasional.

Kukomikan melihat seni rupa publik khususnya street art merupakan media alternatif bagi masyarakat. Tema yang akan diangkat biasanya berasal dari usulan Ismu Nugroho selaku ketua dan teman-teman anggota lainnya. Masing-masing anggota menggambar sesuai dengan beberapa tema yang disepakati.

komik 2

Sumber foto: http://kukomikkan.blogspot.co.id/

Seiring berjalannya waktu Kukomikan bergerak lebih dari hanya aksi mural, seperti musik, grafis, dan video, namun tetap dasarnya adalah mural. Zastawa Al Fahmi anggota Kukomikan lain yang ahli di bidang musik menambahkan bahwa gambar memang bisa menjadi media kritik, tapi jika tidak ada aksi nyata itu percuma. Misalnya ketika kita mengkritik kenaikan harga BBM dan tidak melakukan aksi nyata lain itu hal yang percuma. “Kita juga mengadakan bersih-bersih pantai meskipun ra ono kaitane tapi nyata,” tutur Fahmi.

Agenda Kukomikan

Kegiatan rutin Kukomikan yang berjalan adalah diskusi mingguan yang biasanya diadakan pada hari Minggu. Tidak ada tema khusus yang dijadwalkan untuk dijadikan bahan dikusi. Apa saja yang dianggap menarik dan bisa dijadikan media pembelajaran akan diambil dan didiskuikan. “Kegitan rutin ngopi, jagongan, bahas apa-apa di Wonosari seminggu sekali. Tiap hari minggu biasanya,” jelas Chrisna seraya meyakinkan bahwa kegiatan diskusinya itu santai dan tidak kaku.

komik 3

Sumber foto: http://kukomikkan.blogspot.co.id/

Di samping berdiskusi Kukomikan juga memiliki perpustakaan pribadi di basecamp yang diperuntukkan untuk anak-anak dengan nama  Ini Rumah Kami, perputakaan ini sebagai sebuah kontribusi untuk masyarakat. “Perpustakaan desa di basecamp isinya buku anak-anak,” ujar Chrisna.

Dalam waktu dekat ini Kukomikan berencana mengadakan pameran di Jakarta. Pameran sebelumnya pernah diadakan di Wonosobo, Jakarta, Madiun, dan lain-lain. Pameran terjauh pernah diadakan di luar negeri seperti Australia dan Singapura.  Pameran yang diadakan Kukomikan ada yang bersifat mandiri dan kadang juga kerjasama. Selain pameran, Kukomikan juga berencana membuat buku semacam autobiografi untuk mendokumentasikan cerita.

Dalam melaksanakan agenda pendanaan Kukomikan berasal dari dana patungan. Misalnya saja ketika akan melakukan mural. Tetapi kadang saat undangan dari sebuah acara sudah disediakan perlengkapan mural. “Pendanaan kalau mau mural patungan,  kalau beberapa waktu yang lalu masih ada iuran rutin per sebulan itu dua puluh ribu,” pungkas Chrisna.

Reporter: Anisatul Ummah

Redaktur: Isma Swastiningrum

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of

Send this to a friend