Metafora Padma: Suku yang Bertikai dan Cerita Masa Kecil

Lpmarena.com, Metafora Padma merupakan buku antologi cerpen karya Bernard Batubara. Karya ini dipersembahkan Benz (panggilan akrab Bernard) untuk masa kecilnya saat tinggal di Desa Anjungan, Kalimantan Barat sekitar tahun 1997. Secara keseluruhan bercerita tentang konflik sosial masyarakat, yakni pertikaian antar suku.

Cerpen Metafora Padma sendiri berkisah tentang seorang wanita bergaun putih bernama Padma yang datang ke suatu pesta. Padma mabuk dan bercerita tentang manusia-manusia yang terlentang, tertelungkup, dan tergeletak di jalan. Lalu ada tokoh lain yang bercakap dengan Padma. Cerita Padma mengingatkan tokoh pada masa lalunya, pada kampung halamannya, dan pada ibunya. Ibu yang dengan kasih sayang menceritakan pada tokoh tentang tentang bunga lotus (sinonim padma/teratai) dan makna-maknanya.

“Ini cerpen yang saya tulis tahun 2015. Pemicunya dari bunga lotus, bunga yang ditanam ibu saya,” kata Benz dalam diskusi sastra yang memperbincangkan tentang “Metafora Padma” di Hall PKKH UGM, Selasa (27/09). Diskusi turut menghadirkan dua pembicara lainnya, yaitu Puthut EA (sastrawan) dan Muhammad Qadafi (mahasiswa pascasarjana ilmu sastra UGM).

Menurut Benz, banyak hal yang terjadi di desanya saat ia kecil. Ada tentara dan markasnya yang tinggal dan beroperasi mengamankan daerah Benz tersebut. “Tentara bahasanya ‘mengamankan’, ternyata ada kerusuhan. Justru subjek yang paling disasar adalah subjek tentara. Orang dianggap negatif, hanya karena dia dari suku tertentu,” ujar Benz. Ia menambahkan seburuk apapun masa lalu, sastrawan tak harus memanfaatkan keburukkan itu.

Selain Metafora Padma, dalam antologi ini juga ada 13 cerpen lainnya, seperti  Kanibal; Solilokui Natalia; Gelembung; Hanya Pantai yang Mengerti; Suatu Sore; Demarkasi;  dan lain-lain.

Reporter: Isma Swastiningrum

Redaktur: Lugas Subarkah

Komentar

komentar

Leave a Reply

Beri Komentar

  Subscribe  
Notify of